• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Ketika Perjuangan Berujung Kekecewaan

LPM Al-Mizan by LPM Al-Mizan
13 Oktober 2017
in Review, Sastra
0
Ketika Perjuangan Berujung Kekecewaan

FOTO: www.Buka lapak.com

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

Buku dari Muhidin M. Dahlan ini berhasil membuat para pembaca penasaran terhadap isinya dan menjadikan ingin langsung membacanya. Bagaimana tidak? dari judulnya saja banyak orang-orang melirik dan tertarik pada buku yang berjudul “Tuhan, Izinkan saya menjadi Pelacur.

Novel ini menceritakan kisah Nidah Kirani seorang gadis yang sedang menempuh pendidikan tinggi di salah satu Universitas yang terletak di Yogyakarta. Ia menjalani perkuliahannya sambil mondok di Pondok Pesantren Ki Ageng bersama sahabatnya. Kiran juga aktif dalam forum kajian-kajian keislaman di kampus tempat ia menempuh pendidikan.

Bermula dalam forum kajian keislaman, Kiran tertegun dengan sosok Mas Dahiri yang sangat luas wawasannya tentang Islam. Lalu Kiran ditawari untuk masuk dalam Organisasi Islam garis keras. Awalnya ia ragu, namun setelah ia mencari jawabannya setelah melaksanakan sholat istikhoroh. Kiran pun mau masuk dan ikut berjuang dalam organisasi tersebut.

Setelah melakukan pembaiatan pada organisasinya, Kiran selalu aktif berdakwah. Bahkan kiran rela mengeluarkan uang banyak untuk keperluan orgnisasinya. Tak segan-segan uang yang dikeluarkann 500 ribu hampir tiap minggunya.

Tetapi, ditengah perjalanannya dalam berdakwah mulai ada kejanggalan dalam tubuh perjuangannya. Pemandangan yang santai sehari-hari mulai meluluhkan semangat Kiran dalam berdakwah. Ia mulai gelisah dan mengadu kepada Tuhan. Kiran merasa semua pengabdiannya tak mendapat respon dari Tuhan.

Hingga ia memutuskan untuk memberontak, dengan ajaran-ajaran Islam. Pelampiasan yang Kiran lakukan hingga di atas batas yaitu ia sampai melakukan seks bebas. Bahkan tak satu kali. Namun seterusnya tanpa rasa bersalah. Perbuatan tersebut sebagai bentuk pemberontakan kiran terhadap Tuhan. Ia tak percaya lagi dengan Tuhan-Nya. Tak hanya sampai itu. bahkan Dosennya pun menjadi Germo bagi dirinya.

ArtikelTerkait

Dua Sisi Syawalan Pekalongan: Melestarikan Lopis atau Merawat Nyawa?

Menjelang Lebaran, Menhub Evaluasi Jalur Kereta Api Pekalongan-Sragi Terdampak Banjir

Filosofi Sesaji di Atas Panggung Teater

Dalam ketidakberdayaannya, ia menghujat Tuhan yang dinilainya sedang tersenyum melihat Kiran terlunta-lunta bagai cacing kepanasan. Ia telah tidur dengan beberapa laki-laki, yang mengaku dirinya susila dan merangkak di depannya untuk mencurahkan berahi. Laki-laki yang ingin bercumbu dengannya dari kalangan akitivis, dosen, bahkan agamawis. Ia tundukkan dan lelahkan di atas tubuhnya. Baginya, ini adalah sebuah keberhasilan menyingkap kemunafikan manusia terutama kaum adam.

Kini hitam-putihnya dunia dibuat oleh manusia bukan Tuhan. Manusia itu munafik!. Kebanyakan menganggap dirinya suci atau susila, ber-Tuhan, sehingga tidak mau terkontaminasi dengan manusia jalang seperti Kiran yang memilih hidup menjadi pelacur. Apa bedanya pelacur dengan mereka yang menganggap dirinya susila? Dari petualangan seksnya, ia menyingkap topeng-topeng kemunafikan. Ia mengerti untuk apa dia hidup. Hidup dalam realita, tidak menjadi manusia yang seolah-olah. Seolah-seolah memuji Tuhan, menyembah Tuhan, ternyata munafik. Bahkan tak jarang kebenaran atas nama Tuhan dijadikan alat untuk mendapatkan sesuatu. Tuhan dikomersilkan oleh orang-orang munafik.

Buku ini menceritakan bagaimana keputusaasaan seorang muslimah yang merasa perjuangan nya tidak digubris oleh Tuhan. Denga pelampiasan menjadi pelacur. Ia begitu takzimnya berkata “Tuhan, Izinkan aku menjadi Pelacur.”

Buku yang berjudul “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur” ini sangat bagus untuk dibaca karena membuka pikiran kita. Terlebih lagi sebagai seorang aktivis kampus. Bahwa perjuangan yang tidak disadari denganrasa ikhlas akan mengakibatkan kekecewaan saja. Apalagi di tengah-tengah kebangkitan konservatisme agama, maka novel ini memberikan alternatif kepada pembaca untuk merenungkan kembali keyakinannya, meskipun harus melalui seorang pelacur, sehingga kisah mengenai hubungan bebas agak terlalu banyak terdapat dalam novel ini. Akan lebih baik jika tidak terlalu banyak, sehingga pertanyaan-pertanyaan di atas akan tampak lebih berarti dan wajar, tidak seperti pertanyaan yang hanya pantas disuarakan oleh seseorang yang terlalu putus asa dan merasa terpinggirkan.

Judul               : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur : Memoar Luka Seorang Muslimah

Penulis             : Muhidin M Dahlan

Penyunting      : –

Penerbit           : ScriPta Manent

Tahun Terbit    : 2003

Cetakan           : 16, Maret 2014.

Tebal               : 269 hlm. 12×19 cm

ISBN               : 979-99461-1-5

Resensor : Mucharom Syifa’

Tags: bukuiainpekalonganlpm almizanmahasiswapekalonganresensiresensibukusastra
LPM Al-Mizan

LPM Al-Mizan

Related Posts

Tak Sama Tanpamu

Tak Sama Tanpamu

28 April 2026
Rendang

Rendang

11 April 2026
Film Civil War: Membaca Realitas Pahit dari Lensa Jurnalis

Film Civil War: Membaca Realitas Pahit dari Lensa Jurnalis

18 Maret 2026
Bengawan Solo

Bengawan Solo

15 Januari 2026
Dia Yang Datang Bukan Untukku

Dia Yang Datang Bukan Untukku

5 Januari 2026
Pergolakan Emosi

Pergolakan Emosi

5 Januari 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In