lpmalmizan – Setelah cukup lama vakum, Wonokerto Teater (WOT) bersama generasi muda setempat akhirnya kembali menggelar pementasan teatrikal puisi bertajuk “Donga Sesaji”, Sabtu (25/10). Pementasan ini menjadi langkah untuk menumbuhkan kembali minat terhadap kebudayaan sekaligus upaya meluruskan makna “sesaji” yang selama ini kerap disalah artikan dan mengalami degradasi makna di masyarakat.
Tak bisa dipungkiri, sebagian besar masyarakat masih mengaitkan kata “sesaji” dengan hal mistik, bahkan dianggap dekat dengan kesyirikan. Pemahaman semacam itu, menurut para anggota teater serta pengamat budaya yang hadir, merupakan bentuk degradasi makna.
Tradisi kini sering dipandang hanya dari kacamata rasional dan ilmiah, hingga melupakan sisi spiritual dan filosofisnya. Melalui pementasan ini, para aktor mencoba mengajak penonton memahami bahwa sesaji sejatinya adalah perwujudan doa dan rasa syukur kepada Sang Hyang, Tuhan Yang Maha Esa. Lebih dari itu, sesaji juga menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap alam, karena di dalamnya terkandung empat pilar utama: gotong royong, swadaya, budaya, dan tradisi.
Salah satu budayawan yang hadir, Pak Ribut, menjelaskan bahwa dalam istilah Jawa, sesaji merupakan laku doa yang diekspresikan melalui tanda dan simbol. Makanan, bunga, minuman, dan perlengkapan lainnya bukan sekadar benda pelengkap, tetapi menjadi wujud nyata rasa syukur dan harapan.
Sayangnya, dalam bahasa Indonesia, makna ‘sajen’ yang kemudian menjadi ‘sesaji’ sudah kehilangan ruhnya (nilai filosofisnya). Hanya dipahami sebagai perlengkapan upacara. Kenyataannya, jika melihat lebih dalam, memuat sarat akan filosofis kehidupan.
Lebih lanjut, masyarakat Jawa sejak dahulu tidak mengenal doa yang bersifat egosentris (mementingkan diri sendiri). Bagi mereka, doa selalu bersifat kolektif. Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sesama dan alam semesta. Pak Ribut menyinggung pula penyebab mengapa pengetahuan lokal sering dianggap tidak ilmiah, yakni karena telah kehilangan ‘kitab’. Maksudnya, banyak dokumen sejarah dan naskah budaya yang telah hilang, sementara minat membaca dan menelusuri akar budaya kian menurun.
Makna inilah yang coba dihidupkan kembali di atas panggung. Kisah dalam ‘Donga Sesaji’ diangkat dari kehidupan masyarakat pesisir Pekalongan, khususnya Wonokerto, tempat di mana ombak tak hanya dimaknai sebagai hiburan, tetapi juga sumber harapan. Laut bukan sekadar bentang biru yang luas, melainkan ladang penghidupan bagi para nelayan. Setiap fajar, mereka berangkat bersama, bergotong royong menerjang ombak dengan niat yang sama: menafkahi keluarga.
Acara ditutup dengan sarasehan budaya yang mempertemukan penonton, pegiat seni, dan budayawan untuk berdiskusi tentang peran tradisi di era modern. Lewat Donga Sesaji, Wonokerto Teater, tak hanya menampilkan pertunjukan seni, tetapi juga menghadirkan pesan spiritual bahwa doa sejatinya bisa dihidupkan melalui tindakan, kebersamaan, dan simbol-simbol budaya.
Melalui pementasan ini, Wonokerto Teater berusaha mengajak generasi muda memahami kembali nilai-nilai budaya lokal yang sarat makna. Sekaligus menjadi kritik halus terhadap pandangan modern yang acapkali menilai pengetahuan tradisional sebagai sesuatu yang tak ilmiah.
Penulis: Desi Rahmawati Agustin
Editor: Atika Puspita Rini.





