lpmalmizan – Syawalan di Pekalongan selalu hadir sebagai simbol kemenangan yang penuh makna. Di bawah naungan gelar Kota Kreatif Dunia dari UNESCO, langit kita seharusnya hanya dihiasi warna-warni balon udara, dan meja kita hanya dipenuhi enaknya Lopis Krapyak.
Namun, mengapa setiap tahun kita justru dipaksa mencium bau belerang yang menyengat dan mendengar dentuman yang merenggut nyawa? Antara memori kelam di Pemalang 2013 dan darah yang tumpah di Kuripan 2026, ada sebuah benang merah yang gagal kita putus: normalisasi bahaya di balik tembok rasa sungkan.
Bagi sebagian kita, memori tentang ledakan petasan mungkin hanya sekadar gangguan suara di tengah perayaan. Namun, bagi mereka yang tumbuh besar satu dekade lalu, ada satu rekaman amatir yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan, tragedi di Pemalang pada 2013.
Saat itu, keteledoran kecil mengubah perayaan menjadi duka mendalam dalam hitungan detik. Visual itu menjadi trauma kolektif tentang betapa tidak terprediksinya bahan peledak rakitan.
Tiga belas tahun berlalu, dan asap yang sama kembali membumbung tinggi, kali ini di langit Pekalongan. Pada Senin (23/3/26), seorang remaja di Pekalongan Selatan terkonfirmasi meninggal dunia setelah sempat mengalami perawatan selama kurang lebih tujuh jam, dua lainnya harus mengalami perawatan intensif.
Tragedi ini adalah bukti telanjang bahwa kita sedang terjebak dalam kelalaian kolektif. Kita gagal mewariskan kewaspadaan kepada generasi baru, membiarkan mereka menyentuh api yang sama dengan yang menghanguskan harapan belasan tahun silam.
Kelalaian yang Terencana
Tragedi ini bukan tentang nasib buruk atau drama saling menyalahkan. Kejadian memilukan di Kota Pekalongan ini tidak terjadi begitu saja.
Dengan total penduduk Pekalongan yang mencapai ratusan ribu jiwa di wilayah yang padat, apakah benar tidak ada yang tahu aktivitas perakitan itu? Kita sering menghibur diri dengan alasan bahwa bahan-bahan itu diracik di rumah kosong atau kebun yang jauh dari keramaian, namun risiko itu tidak langsung lenyap.
Bubuk peledak tidak akan menjadi bubuk gula hanya karena ia pindah tempat. Sifat kimianya tetap mematikan, daya ledaknya tetap destruktif, dan bukankah lokasi-lokasi tersebut tetap berada dalam jangkauan aktivitas warga?
Inilah kesalahan kolektif kita yaitu menormalisasikan bahaya atas nama tradisi. Selama bertahun-tahun, kita membiarkan sumbu-sumbu pendek dipintal di balik pintu yang tertutup.
Kita memilih diam karena rasa sungkan (ewuh pakewuh) atau menganggapnya sebagai kemeriahan tahunan yang biasa. Namun, ketika nyawa remaja melayang, barulah kita tersentak. Sayangnya, bagi korban tragedi Kuripan, kesadaran kita sudah terlambat satu langkah.
Salah Kaprah Rasa Sungkan: Ketika “Ewuh Pakewuh” Menjadi Sumbu Maut
Indra kita sebenarnya tidak pernah gagal menangkap gelagat aneh di sekitar. Kita melihat hilir mudik remaja ke arah kebun atau rumah kosong yang tak berpenghuni.
Kita mencium bau mesiu yang menyengat, bahkan mendengar letupan-letupan kecil dari proses “uji coba” perakitan. Namun, di titik krusial itulah kita justru terjebak dalam labirin ewuh pakewuh.
Kita merasa sungkan untuk sekadar mengingatkan. Ada ketakutan yang konyol dalam strata sosial kita: kita lebih takut dianggap “cepu”, dicap tidak setia kawan, atau dituduh tidak gaul daripada takut pada bahaya nyata yang mampu merenggut nyawa dalam sekejap.
Solidaritas kita telah salah alamat. Kita memilih menjaga perasaan tetangga, namun membiarkan mereka menggali lubang kubur bagi anak-anak mereka sendiri.
Pihak kepolisian mungkin telah berpatroli siang dan malam. Edukasi di sekolah pun mungkin tak henti-hentinya diteriakkan. Namun, semua itu akan menguap begitu saja jika lingkungan terkecil dalam hal ini masyarakat, belum mampu untuk benar-benar hadir.
Pertanyaannya: Apakah kita sudah benar-benar hadir untuk menemani perkembangan remaja kita, atau kita hanya menonton sampai dentuman itu meruntuhkan atap rumah kita sendiri?
Syawalan Milik Siapa? Memulihkan Marwah Tradisi Pekalongan
Pekalongan adalah kota yang kaya akan makna dan warna. Tradisi Lopis Raksasa di Krapyak hingga warna-warni balon udara yang menghias langit adalah warisan luhur yang dititipkan oleh simbah-simbah kita.
Tradisi Syawalan, khususnya di Krapyak, adalah simbol persatuan, kerukunan, dan rasa syukur yang harus terus kita rawat dan lestarikan bersama. Namun, di tengah keindahan itu, ledakan-ledakan petasan yang terus dinormalisasi justru perlahan menggerus marwah Pekalongan.
Tak selayaknya budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan ini terganggu oleh dentuman yang tak perlu. Kita seolah membiarkan “penumpang gelap” merusak citra kota kreatif yang kita banggakan.
Syawalan seharusnya menjadi ajang untuk merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, bukan malah menjadi musim duka bagi sesama warga. Menjaga tradisi bukan berarti memaklumi bahaya.
Sebaliknya, cara terbaik menghormati warisan leluhur adalah dengan memastikan bahwa tradisi tersebut tetap aman, indah, dan tidak memakan korban jiwa. Kita tidak boleh lupa bahwa Pekalongan bukan sekadar kota biasa; UNESCO telah menobatkan kota ini sebagai Kota Kreatif Dunia.
Sebuah pengakuan internasional atas keindahan batik dan luhurnya tradisi kriya serta seni rakyat kita. Namun, penghargaan dunia itu seolah tertutup debu mesiu setiap kali bulan Syawal tiba. Kita tidak ingin teror kerugian harta, hancurnya fisik, hingga hilangnya nyawa terus-menerus merusak citra dan keindahan kota yang kita cintai ini.
Di titik ini, kita tidak perlu lagi terjebak dalam drama saling menyalahkan. Tak perlu hanya menunjuk wajah korban yang mungkin juga pelaku, tak perlu sekadar menyalahkan kepolisian yang sudah berpatroli, dan tak perlu menghakimi warga sekitar secara membabi buta.
Menyalahkan orang lain tidak akan pernah mengembalikan apa yang sudah hancur. Mari kita jujur pada diri sendiri: Satu-satunya yang layak disalahkan adalah “kebisuan” kita.
Kita harus menyalahkan diri sendiri ketika melihat bahaya di depan mata, namun bibir terasa kelu untuk sekadar berkata “berhenti”. Kematian di Syawalan tahun ini adalah cermin retak bagi kita semua yang memilih diam dan membiarkan normalisasi bahaya terus tumbuh subur.
Bukan ledakan yang menjadi tanda kemenangan kita setelah sebulan berpuasa. Kemenangan sejati justru diwujudkan melalui persatuan dalam menjaga tradisi tanpa harus menumbalkan nyawa.
Mari kita pulihkan marwah Pekalongan. Jangan biarkan sumbu pendek kembali dipintal, dan jangan biarkan rasa sungkan membunuh kemanusiaan kita lagi.
Penulis: Muhammad Zakki Musyafa
Editor: Sausan Zahra






