• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

Salma Amelia Talitha Ramadhani by Salma Amelia Talitha Ramadhani
21 Juli 2026
in Analisis, Review
0
Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

Sumber: Mojok Store

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

Judul Buku: Menjadi Feminis Muslim
Penulis dan Penyunting: Prof. Nina Nurmila, Ph.D.
Penerbit: Afkaruna
Tahun Terbit: Maret 2022 (Cetakan I)
Tebal Buku: 248 halaman
Peresensi: Salma

lpmalmizan – Buku ini disunting oleh Prof. Nina Nurmila, Ph.D., seorang akademisi sekaligus guru besar yang memiliki fokus mendalam pada kajian gender dan Islam. Diterbitkan oleh Afkaruna, buku ini hadir sebagai kumpulan pemikiran dari para intelektual, kiai, dan aktivis progresif di Indonesia.

Di dalam buku ini, pembaca akan menemukan sumbangan pemikiran dari nama-nama besar seperti Aida Milasari, Ala’i Nadjib, Faqihuddin Abdul Kodir, Husein Muhammad, Maria Ulfah Anshor, Marzuki Wahid, hingga Ninik Rahayu yang masing-masing membawa sudut pandang unik dalam mengurai isu kesetaraan.

Melalui lembar-lembar buku ini, para penulis mencoba mendobrak stigma yang selama ini menghadapkan feminisme dan Islam sebagai dua kutub yang saling bermusuhan. Selama ini, feminisme sering kali dicap negatif sebagai produk Barat yang kebarat-baratan, sementara Islam kadang kala disalahpahami sebagai agama yang membatasi ruang gerak perempuan.

Buku ini hadir justru untuk membuktikan sebaliknya, bahwa esensi utama dari ajaran Islam adalah menegakkan keadilan dan mengangkat martabat seluruh umat manusia, tanpa memandang jenis kelamin. Pada bab awal, pembaca akan diajak menyelami dekonstruksi teks-teks keagamaan yang selama ini kerap ditafsirkan secara bias gender.

Tokoh seperti K.H. Husein Muhammad dan Faqihuddin Abdul Kodir mengupas bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis seharusnya dibaca dengan semangat kesalingan (mubadalah). Mereka menegaskan bahwa pandangan yang menyudutkan perempuan dalam sejarah hukum Islam sebenarnya bukanlah berasal dari Tuhan, melainkan dari produk tafsir manusia yang terpengaruh oleh budaya patriarki pada zaman teks tersebut lahir.

ArtikelTerkait

Bupati Pemalang Jadi Tersangka, KPK Dalami Dugaan Jual Beli Jabatan

Simposium Legislator Muda Jateng 2026, Dorong Lahirnya Generasi Berintegritas dan Visioner

Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

Selain perdebatan di ranah teologis dan teks, buku ini juga membawa pembaca pada realitas pergerakan sosial di lapangan. Penulis seperti Maria Ulfah Anshor dan Ninik Rahayu memberikan gambaran yang gamblang mengenai bagaimana konsep keadilan gender ini diperjuangkan dalam ranah hukum positif di Indonesia.

Mereka menyoroti isu-isu krusial seperti hak reproduksi perempuan, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga pemenuhan hak-hak hukum bagi kelompok perempuan yang sering kali terabaikan dalam sistem peradilan. Gaya penceritaan dalam buku ini terasa kaya karena tidak hanya berisi teori-teori akademis yang berat, tetapi juga diwarnai dengan refleksi personal dari para penulisnya.

Selain isi yang kaya, buku ini juga cukup nyaman dibaca dari segi fisiknya. Kertas yang digunakan berwarna krem atau buram (book paper) dengan ketebalan yang pas, tidak terlalu tipis sehingga tidak mudah tembus pandang, tetapi juga tidak terlalu tebal sehingga halaman tetap terasa nyaman saat dibalik. Warna kertas yang lembut juga membuat mata lebih nyaman ketika membaca dalam waktu yang lama.

Pembaca bisa merasakan bagaimana dinamika, tantangan, dan keresahan emosional yang dihadapi oleh seorang Muslim yang taat ketika mereka memilih jalan sebagai seorang aktivis feminis di tengah masyarakat. Hal ini membuat ulasan yang disajikan terasa sangat manusiawi dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Secara keseluruhan, buku ini berhasil menjadi bacaan yang mencerahkan sekaligus menawarkan peta baru bagi generasi muda Muslim. Buku ini memberikan argumentasi yang kokoh bahwa memperjuangkan hak-hak perempuan dan menjadi seorang Muslim yang saleh bukanlah dua hal yang bertolak belakang. Melalui penyuntingan yang rapi, Buku Menjadi Feminis Muslim sukses menyampaikan pesan kuat bahwa keadilan gender adalah bagian tak terpisahkan dari perwujudan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Gaya kepenulisan di setiap babnya terasa kurang seragam. Ada bab yang ditulis dengan bahasa yang sangat teologis, padat istilah fikih, dan teoritis sehingga butuh konsentrasi tinggi untuk memahaminya. Sementara di bab lain, bahasanya justru melompat menjadi sangat praktis, sosiologis, dan santai.

 

Penulis: Salma Amelia Talitha Ramadhani

Editor: Achmad Bagas Pranata

Tags: #LPM Al Mizan#Menjadi Feminis Muslim#UINGusdur
Salma Amelia Talitha Ramadhani

Salma Amelia Talitha Ramadhani

Related Posts

Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

1 Agustus 2026
Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In