lpmalmizan – Dari punggung gunung yang sepi
kau lahir sebagai bisik alam,
menyusuri batu, tanah, dan akar doa
yang disematkan para leluhur
pada setiap tikungan alirmu.
Bengawan Solo,
namamu disebut angin,
dituliskan hujan,
dan diwariskan dari mulut ke mulut
sebagai kisah tentang kesetiaan air
pada perjalanan panjangnya.
Kau menyimpan wajah-wajah masa lalu:
perahu kayu yang mengantar hasil bumi,
tangan-tangan petani yang retak oleh musim,
anak-anak yang berenang sambil tertawa
tanpa tahu betapa luas dunia menunggu mereka.
Di tepi tubuhmu,
kerajaan pernah berdiri dan runtuh,
keris berkarat, naskah kuno,
dan janji kekuasaan
pernah bercermin pada gelombangmu
yang tak pernah menetap.
Kadang kau murka,
meluap dan menenggelamkan rumah,
bukan karena dendam,
melainkan karena manusia lupa
bahwa alam tak diciptakan untuk ditaklukkan.
Kadang kau menyusut,
meninggalkan lumpur dan kerikil,
seperti guru tua
yang mengajarkan makna cukup
dan pentingnya menahan diri.
Waktu berjalan di atasmu
seperti bayangan senja,
perlahan namun pasti,
menghapus jejak
namun meninggalkan makna.
Bengawan Solo,
kau menerima semua:
air hujan yang jujur,
limbah yang tak tahu malu,
dan doa-doa sunyi
yang dilayarkan dari bibir malam.
Namun kau tetap mengalir,
menjaga irama semesta,
mengikat desa dan kota,
masa lalu dan masa depan
dalam satu tarikan napas panjang.
Ketika laut akhirnya memelukmu,
kau tak membawa amarah,
hanya cerita—
tentang manusia, tanah,
dan kesetiaan untuk terus berjalan
meski tak selalu dihargai.
Bengawan Solo,
selama kau masih mengalir,
kami belajar menjadi manusia:
menerima, bertahan,
dan tetap memberi
tanpa menuntut kembali.
Penulis Ratna Puji Astuti.






