• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Rendang

Sausan Zahra by Sausan Zahra
11 April 2026
in Cerpen, Sastra
0
Rendang

Sumber: Kompas.com

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Lagi-lagi Mia menarik tanganku. Entah harus bagaimana lagi aku memintanya untuk sabar. Selama aku berkutat di dapur, lima menit sekali Mia datang dengan muka cemberut penuh gerutu. Kali ini memintaku untuk menemaninya membaca buku. 

“Ibuu,” Mia merengek lirih. 

“Sekarang berapa menit lagi Bu?” Ia meminta kejelasan. 

Setiap kali Mia mendatangiku, aku selalu sukar dibuatnya. Hobinya merengek, membuat aktivitas masakku yang semula tenang menjadi sedikit terganggu. 

Tadi saat aku memotong kentang, dia datang dengan dua tepak pensil warna dan krayon. Memaksaku meninggalkan kentang-kentang dan memilihkan warna yang cocok untuk gambarnya. 

Mia menggambar bulatan-bulatan kecil, tidak simetris dan melengkung. Tapi bagiku tetap indah, karena dibuat oleh tangan manis Mia, putri kecilku.

ArtikelTerkait

Syafaat Bubur Suro 2026, Kolaborasi Budaya Krapyak dan Ekonomi Syariah

Dorong Penghijauan Kampus di UIN Gus Dur, Menteri Agama Berikan Pembinaan Ekoteologi

Menteri Agama Resmikan Laboratorium Terpadu, UIN Gus Dur Perkuat Fasilitas Akademik

“Kamu menggambar apa Mia Sayang?” kataku. Ku coba memahami gambar Mia, namun sepertinya gambar itu bukan benda, bukan hewan, bukan juga tumbuhan.

“Ini telur Mia.” ungkap Mia. Suaranya serak baru bangun tidur.

Aku terkekeh kecil, “Baiklah, kalau begitu catnya boleh warna coklat, biru, atau putih Sayang.”

Ku usap rambut Mia yang berantakan. Seketika anak itu pergi dan kembali sibuk mewarnai.

Lima menit kedua, Ia kembali datang membawa ikat rambut dan sisir. 

“Bu, boleh tolong kuncir rambutku?” Mia berseru. 

Kakinya berjinjit berusaha memberikan benda-benda itu padaku. Segera ku letakkan centong sayur ke pinggir kompor dan meraih tangan mungil Mia. 

“Wah, sudah panjang ya rambut Mia sekarang,” Aku memuji. 

Meski sebenarnya hanya sekitar tiga senti di bawah telinga. Aku mengamati rambut Mia sudah lebih panjang dari beberapa minggu sebelumnya.

Selesai rambutnya terkuncir rapi, Mia berlari kecil kembali masuk ke dalam. Entah apa kali ini yang ia lakukan, melanjutkan proses pewarnaan telurnya barang kali. 

Aku menatapnya singkat, lalu kembali pada centong sayur di samping kompor. Kian aku paham, rupanya rendang di wajan harus terus diaduk supaya tidak gosong. 

Dahulu pekerjaan seperti ini Mama yang mengajari. Begitu seterusnya pada lima menit lima menit yang datang. Mia terus merecoki pekerjaan dapurku dengan urusan pribadinya.

Hingga puncaknya, Mia memintaku menemani membaca buku. Tangannya sibuk menarik jari telunjukku, mencoba menyeretku beranjak meninggalkan dapur.

Hingga aku gusar dan mengatakan, “Baiklah, Ibu temani. Tapi biar Ibu selesaikan ini dulu ya.” 

Dia pasrah. Barangkali Ia kecewa. Namun apa boleh buat, pekerjaanku belum selesai.

Saat kembali menghadap wajan, Mia kembali berulah. 

“Mia mau mengaduk Bu.” Kata Mia. Ia mendekat dan mencoba meraih centong sayur di genggamanku. 

“Jangan Mia, ini panas!” Tidak akan Ku biarkan anak sekecil Mia bermain dengan panci panas dan kompor.

Lalu kemudian, Dug.

Mia terjatuh…

Dalam sesak tangisannya, Mia terus merengek meminta centong sayurku. 

Pusing sudah menghadapinya, ku serahkan centong sayur itu dan membiarkannya memanjat kursi. 

“Baiklah lima menit saja ya, setelah itu ngga boleh lagi, oke!” tegasku.

Mia pun mengaduk rendang dengan penuh rasa kemenangan. Sejenak Aku bisa kembali fokus,

“Tadi sudah Aku masukin garam atau belum ya?” Gumam Ku mengingat-ingat.

Tanpa berlama-lama Aku masukkan saja satu sendok makan garam pada gumpalan rendang yang masih meletup-letup. 

Setelah dirasa cukup matang, rendang aku angkat. Kemudian Ku simpan dalam wadah bundar berbahan kaca bening. Setengahnya aku sisihkan di rantang dua susun. Satu susunan di bawah aku isi dengan rendang, kemudian susunan rantang berikutnya untuk irisan ketupat. 

Tidak lupa pengaitnya ditutup rapat supaya kencang. 

Selesai menata makanan, membersihkan sisa tumpahan santan dan remah-remah masakan, kini saatnya menidurkan si kecil Mia. 

Pekerjaan sebagai content writer laman sebuah perusahaan membuatku memiliki banyak waktu yang fleksibel untuk Mia.

Aku dan Mia berbaring di atas kasur dengan buku dongeng Si Tikus Rakus yang siap ku bacakan. 

“Ibu memasak rendang ya tadi?” tanya Mia sambil memelukku.

“Iya Sayang,” singkatku

“Ibu, ibuu, aku mau rendang.” Cerocos Mia

“Ibu memasak rendang untuk Mia. Besok kita makan sama-sama setelah Salat Ied ya? Mia mau?” 

Mia tersenyum. Wajahnya berbinar antusias, “Beneran ya Bu.” 

“Beneran sayang,” jawabku.

Mia memang suka sekali rendang. Giginya yang ompong itu tak menghentikan kesukaannya pada rendang. 

“Emm, Mia suka lendang,” kata Mia dulu saat pertama kali makan rendang masakan neneknya.

Saat Ia masih belum bisa mengeja huruf R. Aku lalu membacakan dongeng itu untuk Mia.

Seiring matanya mulai terpejam, masuk dua notifikasi di ponselku. 

Ada dua dokumen naskah dari penulis dan satu pesan whatsApp dari asisten rumah tangga di rumah Mama.

“Bu, obat nenek habis. Bisa minta tolong dibelikan?” katanya.

“Iya, nanti saya mampir. Sekalian bawa rendang buat Mama,” jawabku.

Dengan cepat aku beranjak untuk mengambil kunci mobil dan bertemu Bibi di teras rumah. 

“Saya keluar dulu ya Bi, kalau si Mia bangun, telfon saya aja.” Bibi mengangguk sopan.

Saat pintu mobil terbuka, aku duduk di jok kemudi. Tanganku dengan cekatan meletakan rantang berisi rendang dan ketupat yang ku ambil tadi sebelum menemui Bibi di teras rumah. 

Kali ini menuju sebuah kafe untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. 

Hari sudah agak sore, selepas menuntaskan dua file tulisan klien, aku pun bersiap ke apotek untuk membeli obat Mama. 

Beberapa penjaga di apotek tersenyum ramah pada tiap orang yang datang. Bajunya serba putih dengan aksen biru memanjang di sebelah kanan. Tidak hanya membeli obat, terkadang ada juga orang yang datang hanya untuk cek berat badan dan tekanan darah. Namun semua dilayani dengan baik.

Selesai membeli obat, mobil hitam ramping ini ku ajak melaju sedikit kencang menuju rumah Mama. 

Rumah tua tempat diriku beranjak dewasa itu tidak banyak berubah. Cat dindingnya beberapa kali telah dicat ulang, namun masih dengan warna kuning gading, mengelapuk di beberapa sisi. 

Aku memarkir mobil di depan rumah. Menyapa Bibi sebentar di pintu, lalu terus berjalan ke dapur. 

“Sejak tadi pagi nenek masak Bu. Sudah saya suruh istirahat, ngga mau. Katanya mau masak buat Ibu,” ungkap bibi.

“Sekarang Mama dimana Bi?” tanyaku.

“Masih di dapur Bu.” singkat Bibi sebelum kemudian menerima obat-obat dariku dan meletakkannya di kamar Mama.

Di dapur aku melihatnya. Ku perhatikan lamat-lamat gerak-gerik Mama. Dia menumis bumbu, lalu perlahan menambahkan air dalam wajan. Pelan sekali, gerakannya sudah tidak seperti dulu.

Ingatanku kemudian kembali pada masa lalu. Saat itu, aku dan kakakku tengah asyik membentuk adonan nastar. Kakak tertawa cekikikan melihat hasil gulunganku yang lonjong dan peot. 

“Nastarmu jelek sekali, Dik,” ujar kakak menjengkelkan.

“Aku tidak bisa menggulungnya dengan bulat, Kak,” Aku kesal. 

Ku hentikan aktivitas membantu kakak membentuk nastar dan pergi menghampiri Mama.

“Mama ini apa?” tanyaku. Aku memegang benda aneh, bentuknya kecil dan berwarna coklat.

“Itu jahe, Nak.” Mama tersenyum.

Di sampingnya tampak toples yang diisi bola-bola kecil berwarna lebih gelap. 

“Kalau yang itu apa, Ma?” Aku penasaran.

Mama yang tengah sibuk memasak kini terganggu dengan kehadiranku. Namun begitulah orang tua, sesibuk apapun dirinya, anak tetaplah prioritas utama. Rasa sayang yang ia berikan terkadang mampu meredam batas kesabarannya. 

Saat masih SD, aku suka membantu Mama memotong atau mencuci sayur. Hingga beranjak SMP, beberapa kali kesibukan sekolah membuatku jarang sekali menemaninya memasak lagi. Sesekali membantu membersihkan alat-alat masak usai dipakai, hanya itu.

Karena hubunganku dengan Mama mulai merenggang saat SMP. 

Seperti kata pepatah, Saat masih kecil, orang tua jadi tempat bercerita soal teman, saat dewasa teman jadi tempat bercerita soal orang tua.

Hingga pada suatu ketika, saat aku memasuki jenjang SMA, Mama jatuh sakit. 

Dokter mendiagnosis Mama menderita penyakit gangguan tulang dan otot. Sehingga mengakibatkan pengecilan bentuk tulang dan kesulitan gerak. 

“Anda harus rutin fisioterapi jika tidak ingin operasi.” Jelas dokter saat Mama menolak saran tindakan operasi darinya.

Teman saudara kandung Mama juga pernah mengalami sakit serupa, “Kalau temenku itu memang ngerasain sakit di daerah sendi. Kaku katanya.” Ungkap Tante Fenny.

Aku menunduk lesu. Hilang semua semangatku, melihat Mama yang kini duduk diam di kursi roda, menatap gerimis luar jendela. 

Mama sedih dengan kondisinya. Aku murung dengan kondisiku. Karena ku dengar, penyakit ini menurun secara genetik.

…

Kembali ku perhatikan Mama. Kali ini Ia mencampur tumisan bumbu dengan daging ayam yang telah dipotong kecil.

“Ma,” seruku memanggil.

Hening. Mama tidak merespon.

“Mama lagi masak apa?” Kali ini berhasil memecah perhatiannya. 

Mama menoleh, lalu tersenyum tipis padaku.

“Mama masak opor ayam, Nak. Buat kamu, Dik,” Jawab Mama.

Meski tubuhnya melemah, gerakannya tak segesit dulu, orang tua tetaplah orang tua. Kasih sayangnya tidaklah terbatas. Ia selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Moment lebaran akan menjadi waktu dimana seorang ibu akan memasak makanan terbaik untuk keluarganya. 

Tapi Mama, kondisinya rapuh. Mengangkat piring beling pun rasanya hampir tidak mampu.

Rantang berisi rendang Ku letakkan di meja makan. Aku melangkah mendekat. Memeluk Mama erat. 

Sebutir air jatuh dari pelupuk mataku, hatiku memanas. Ingin rasanya mengulang waktu, kembali melihat Mama memasak seperti dulu. Seandainya dulu tidak Ku sia-siakan waktu yang tersisa untuk membantu atau barangkali sekedar merecoki Mama di dapur.

“Sini biar Aku saja Ma,” Aku bangkit, seketika Ku ambil alih pekerjaan Mama mengaduk bumbu. 

Setengah jam berhasil terlewati dengan semangkuk opor ayam siap dihidangkan. 

Aku berniatan untuk pamit hingga Bibi datang mengundangku untuk buka bersama Mama di meja makan. Aku terima tawarannya karena memang adzan maghrib sudah mulai terdengar.

Menu buka puasa terakhir memang berbeda. Dihadapanku sudah ada rendang yang ku bawa tadi, opor, kentang balado, dan ketupat tentu saja. 

Mama memperhatikan rendang buatanku, lalu tersenyum.

“Ini kesukaan Papa,” Katanya.

“Iya Mama bener. Mia juga suka banget sama rendang,” Aku menimpali.

Mama mencobanya, lantas ia berkata lagi, 

“Rendangnya asin sekali, Dik.” Sedikit tersentak, sesendok rendang aku cicipi dan ternyata benar kata Mama. Rendangnya asin. 

“Ya ampun asin banget ternyata. Tadi Aku masak digangguin Mia terus, jadi gini deh. Aku lupa sudah masukin garam atau belum, ternyata kebanyakan garamnya,” mukaku sedikit kikuk, lantas aku dan Mama tertawa. 

Begitulah kami akhiri Ramadan dengan tawa bersama. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan membersamai Mama lagi pada sisa usia yang Ku miliki. 

…

Besoknya, saat malam tiba, Aku kembali menidurkan Mia. 

Dia memelukku erat, lalu bertanya, “Bu, besok Ibu mau masak apa lagi?”

“Besok Ibu mau buat puding coklat. Nanti Om Tino sama Tante Fenny mau main. Mia mau bantuin Ibu?” kataku pelan.

“Mia mau bantuin Ibu boleh?” anak itu malah balik bertanya.

“Boleh,” jawabku. 

“Mia mau mengaduk puding,” soraknya antusias.

“Iya Mia,” kataku.

Kemudian Mia bertanya, “Besok boleh berapa menit Bu?”

“Yang lama. Selamanya yang Mia bisa. Bahkan sampai nanti Ibu ngga kuat lagi ngangkat wajan berisi rendang kesukaan Mia.” Aku balas memeluk Mia, erat.

Penulis: Sausan Zahra

Editor: Achmad Bagas Pranata

Tags: #LPM Al Mizan#Rendang#UINGusdur
Sausan Zahra

Sausan Zahra

Related Posts

Tak Sama Tanpamu

Tak Sama Tanpamu

28 April 2026
Bengawan Solo

Bengawan Solo

15 Januari 2026
Dia Yang Datang Bukan Untukku

Dia Yang Datang Bukan Untukku

5 Januari 2026
Pergolakan Emosi

Pergolakan Emosi

5 Januari 2026
Di Punggung Sunyi Hutan

Di Punggung Sunyi Hutan

4 Januari 2026
Hujan, Harapan, dan Doa

Hujan, Harapan, dan Doa

4 Januari 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In