lpmalmizan – Pagi itu terasa berbeda bagi Adisa. Dengan tas punggung merah muda dan sepeda kesayangannya, ia mengayuh perlahan menuju sekolah. Angin pagi itu menyentuh lembuh wajahnya, matahari menghangatkan jalanan, dan hamparan sawah di kanan-kiri jalan seolah ikut menyambut hari barunya. Hari ini adalah hari pertama ia masuk sebagai siswi sekolah menengah akhir.
Sesampainya di sekolah, tak lama bel masuk berbunyi nyaring. Adisa bergegas masuk ke kelas barunya dan segera menemukan Fifi, teman yang sudah ia kenal sejak masa SMP. Mereka juga berkenalan dengan Stella dan Haisha yang duduk tepat di depan meja mereka. Meski masih canggung, obrolan kecil membuat hari pertama kala itu terasa menyenangkan.
Di tengah kelas yang berlangsung, Adisa merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada sepasang mata yang memperhatikannya. Awalnya ia mengabaikan perasaan itu, hingga tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan seorang siswa laki-laki di seberang bangku. Rambut hitamnya yang tertata rapi, seragam putih-abu dikenakannya dengan santai, dan yang paling Adisa ingat adalah senyum tipis yang ia berikan terasa hangat, tapi singkat.
Sepulang sekolah, ketika Adisa bersiap untuk pulang, Aksa menghampirinya.
“Kenalin, aku Aksa” sembari mengulurkan tangannya.
“I-iya” jawabnya gugup.
Perkenalan singkat itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Hanya obrolan singkat, namun sejak hari itu, Aksa perlahan hadir dalam keseharian Adisa. Mereka jadi sering berbincang sepulang sekolah, kerap pulang bersama, dan sesekali saling melempar candaan sederhana yang terasa akrab.
Kedekatan itu semakin terasa ketika suatu sore sepulang sekolah, Aksa mengajaknya ke toko buku dekat sekolah. Di antara rak buku yang berjajar rapi dan suasana yang tenang, Aksa tak henti menggoda Adisa sampai membuat pipinya merona. Saat tengah asik bergurau, hujan turun tiba-tiba. Aksa tanpa ragu meminjamkan jaketnya supaya Adisa tidak kedinginan. Hujan boleh saja dingin, tapi Adisa merasa hangat, bukan karena jaket itu, melainkan karena perhatian kecil yang terasa tulus.
Perasaan itu tumbuh pelan-pelan. Adisa menyadarinya, tapi memilih menyimpan semuanya sendiri. Ia tidak pernah bercerita pada Fifi, Stella, maupun Haisha. Bukan karena tak percaya, hanya saja ia takut jika rasa itu diucapkan, semuanya akan berubah. Jadi Adisa memilih diam, menikmati kebersamaan tanpa berani memberi nama.
“Baiknya aku ngga cerita ke siapa-siapa dulu deh” ucap Adisa.
Waktu terus berjalan dan hampir satu bulan Adisa dan Aksa semakin sering bersama. Bagi Adisa, kebiasaan itu terasa istimewa. Ia mulai berpikir, mungkin Aksa juga merasakan hal yang sama. Namun ia terlalu takut untuk memastikan. Hingga suatu sore di tempat les matematika, kenyataan datang tanpa aba-aba.
Aksa tampak duduk bersama Haisha kala itu. Dengan wajah sedikit gugup, mereka mengumumkan bahwa mereka telah berpacaran. Dunia Adisa seolah berhenti sesaat. Suara di sekitarnya terdengar jauh, dan dadanya terasa sesak. Ia tersenyum, mengucapkan selamat, seolah tak ada yang runtuh di dalam dirinya.
“Selamat yaa”.
Saat itu Adisa baru benar-benar mengerti, kedekatan tidak selalu berarti perasaan yang sama. Sejak hari itu, Adisa menjaga jarak. Bukan karena marah, bukan pula karena benci. Ia hanya tidak ingin menjadi orang ketiga dalam cerita siapa pun.
“Lalu selama ini, apa artinya semua perhatian itu?” Gumamnya lirih.
Beberapa hari kemudian, Aksa meminta bantuan untuk menyiapkan kejutan ulang tahun Haisha. Adisa ragu, tapi akhirnya setuju. Ia tahu, Haisha adalah sahabatnya, dan kebahagiaannya bukan sesuatu yang pantas diganggu oleh perasaan sepihak.
Sore itu, kejutan berjalan lancar. Tawa Haisha memenuhi ruang tamunya, sementara Aksa berdiri di sampingnya dengan senyum lebar. Senyum yang 1 bulan lalu sering Adisa lihat, tapi kini terasa berbeda. Di tengah keramaian, Adisa hanya bisa berdiri diam.
Adisa sadar, perasaan tidak bisa memaksa siapa pun untuk memilih. Ia belajar bahwa mencintai juga berarti mengikhlaskan, meski hati terasa berat. Ia tidak ingin kebahagiaan sahabatnya ternodai oleh kesedihannya sendiri.
Saat acara usai, hujan turun perlahan. Rintiknya membasahi halaman rumah Haisha, seolah ikut menemani perasaan Adisa yang tak sempat terucap. Langit tampak muram, tapi Adisa tahu, ia harus tetap melangkah.
Dalam perjalanan pulang, Adisa tersenyum kecil. Ia kehilangan satu kemungkinan, tapi ia mendapatkan satu pelajaran penting bahwa tidak semua hujan turun untuk kita, meski pernah terasa begitu menyenangkan.
Penulis: Fitriana Azzahra.






