• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Menyapu Aksi Teror Agama

by
21 Juni 2018
in Opini
0
Menyapu Aksi Teror Agama

By: Merdeka

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

Tepatnya hari dimana umat Kristiani melaksanakan ritual keagamaannya, ledakan bom itu terjadi lagi. Entah yang keberapa kalinya aksi ledakan bom bunuh diri di Indonesia ini dilakukan oleh orang-orang yang saya sendiri tidak habis pikir apa sebenarnya ideologi yang mereka anut. Rangkaian pengeboman yang baru-baru ini terjadi di Surabaya sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, pengemboman itu dilakukan di tiga tempat ibadah (baca: gereja) yang diledakkan secara bersamaan. Tragisnya pelaku pengeboman itu ialah satu keluarga yang memeluk agama Islam. Maka tak heran jika kemudian ada yang beranggapan bahwa ini adalah aksi radikalisme ataupun terorisme yang berlabelkan Islam.

Berbicara terkait radikalisme Islam, radikalisme sendiri ialah gerakan yang berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka (Nasution, 1995:124). Sedangkan Islam adalah agama kedamaian yang mengajarkan sikap berdamai dan mencari perdamaian (Nurcholis Madjid, 1995:260). Maka terminologi radikalisme Islam sama sekali tidak selaras dan tidak seia sekata dengan arti dari radikalisme dan Islam itu sendiri.

Islam sebagai agama dan sebagai doktrin selalu mengajarkan untuk hidup rukun, menyebarkan pesan ke-Tuhan-an kepada seluruh penduduk bumi bahwa setiap perbuatan perusakan dan kedzaliman sama sekali tidak dibenarkan. Islam mengajarkan tidak hanya soal hablumminallah saja melainkan juga hablumminannas. Bagaimana kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik terhadap orang-orang di sekitar kita, baik sesama Islam maupun non Islam. Bahkan tidak hanya sampai disitu saja, Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad juga mengajarkan bagaimana seharusnya kita sebagai umatnya memperlakukan binatang dengan baik.

Pernah suatu ketika Rasulullah melewati seekor unta yang punggungnya menempel dengan perutnya (artinya: kelihatan begitu kurus karena tidak terurus). Beliau bersabda “Bertakwalah kalian kepada Allah pada binatang-binatang ternak yang tak bisa berbicara ini. Tunggangilah ia dengan baik-baik, makanlah pula dengan cara yang baik.” (HR. Abu Daud)

Begitulah wajah Islam yang sebenarnya, wajah Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang memberi rahmat kepada segala apa yang ada di alam ini. Sebagaimana Gusdur, dalam bukunya mengenai Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam, mengatakan bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan dan hal-hal yang sifatnya anarkis. Sehingga ketika ada kelompok tertentu yang melakukan aksi brutal dan anarkis dengan membombardir tempat ibadah umat agama lain sama sekali tidak bisa dikatakan Islam karena memang itu bukanlah Islam.

Dengan diledakkannya ketiga bom itu dalam waktu yang bersamaan mengindikasikan bahwa sebenarnya jaringan teroris di Indonesia ini benar-benar nyata dan bukan hanya rekayasa semata. Gerakan-gerakan radikal ini harus segera ditumpas habis sampai ke akar-akarnya. Karena jika tidak, selain memakan banyak korban jiwa juga bisa menebarkan virus atau paham ideologi yang cacat. Dan mewabahnya ideologi yang cacat inilah yang sangat berbahaya karena bisa menyebabkan Indonesia mengalami kepailitan dalam membangun bangsanya.

ArtikelTerkait

Siaran Pers: Hentikan Kekerasan Terhadap Jurnalis Mahasiswa, Berikan Perlindungan Memadai! Forum Persma se-DIY dan AJI Yogyakarta

Bengawan Solo

Ketika Hukum Takut pada Kekuasaan: Keadilan untuk Argo Erico

Nampaknya teroris itu kini semakin eksis dan optimis (bahwa mereka pasti masuk surga). Melihat semakin merajalelanya paham radikal ini, memang tidak mudah menumpasnya seperti kita menumpas pohon pisang. Lalu bagaimana agar kita bisa menumpas brutalisme, radikalisme, dan terorisme ini? Persatuan dan kesatuan mungkin itulah salah satu jawabannya. Dengan bersatunya semua elemen masyarakat baik TNI, POLRI, ulama, pemerintah dan juga warganya diharapkan bersama-sama mampu memerangi terorisme dan radikalisme tersebut. Negara tidak boleh kalah terhadap para teroris.

Asas persatuan ini dirasa sangat perlu. Sedangkan asas persatuan dan kesatuan Indonesia tak lain ialah pancasila. Maka sudah seyogyanya kita kembali kepada pancasila.  Persatuan ibarat sapu lidi. Sapu lidi terdiri dari puluhan lidi. Satu lidi tidak akan bisa apa-apa karena satu lidi itu rapuh. Tetapi sapu lidi mampu menyapu apa saja karena sapu lidi sifatnya lebih kokoh daripada satu lidi. Maka jadilah kita seperti sapu lidi untuk menyapu terorisme dan radikalisme. Jangan mau kalah dengan pasukan yang berani berjuang untuk mati. Sebaliknya kita harus berani berjuang untuk hidup. Keep fighting []

 

Tags: iainpkesatuanlpmalmizanpejuangpenapersatuanpersmasapu liditerorisme

Related Posts

Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

20 Agustus 2026
Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

1 Agustus 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In