lpmalmizan – “Kegagalan” merupakan satu kata yang selalu ditakuti oleh manusia. Seolah-olah kegagalan itu suatu hal yang buruk, akhir dari segalanya, dan terkadang membuat kita seperti mogok hidup.
Ketakutan ini semakin menjadi-jadi di tengah kebiasaan membanding-bandingkan pencapaian, seolah satu kegagalan membuktikan kita gagal seutuhnya.
Padahal kenyataannya kegagalan akan selalu berdampingan dengan keberhasilan dalam hidup kita. Jadi, apa yang seharusnya kita lakukan ketika mengalami kegagalan?
Jawabannya ada di lagu “Sementara” oleh Barasuara yang baru saja dirilis pada 10 Juli 2026. Secara garis besar, menurut saya lagu ini mengingatkan bahwa sebagai manusia, kita tidak selalu bisa mengontrol hidup, dan terkadang melepaskan adalah langkah terbaik.
“Akan ada titik di mana kita rela menerima.” Potongan lirik dalam lagu “Sementara” inilah yang akan mengawali pembahasan kita. Mari kita mulai pembahasan ini dari satu kata kunci: Penerimaan.
Dalam Stoikisme, terdapat istilah amor fati yang berarti mencintai apapun yang terjadi. Bukan sekadar menerimanya dengan berat hati, tapi benar-benar merangkulnya sebagai bagian yang memang seharusnya terjadi.
Ini penting dibedakan dari sekadar pasrah. Pasrah itu pasif, di mana kita berhenti berusaha, berhenti bergerak, karena sudah kehabisan tenaga atau harapan.
Sedangkan amor fati itu aktif, kita menerima kenyataan yang memang sudah tidak bisa diubah lagi, tapi tetap memilih untuk terus melangkah dengan kenyataan baru itu, bukan berhenti di tempat.
Lirik “Akan ada titik di mana kita rela menerima” menangkap semangat ini dengan tepat. Kata “rela” di situ bukan berarti kalah atau pasrah, melainkan keputusan sadar untuk berhenti memusuhi kenyataan.
Kata “rela” membutuhkan usaha aktif. Ia adalah sebuah pilihan yang harus diambil, bukan sesuatu yang datang begitu saja setelah kita kehabisan tenaga. Justru karena harus dipilih, prosesnya terasa berat sebab melawan dorongan alami kita untuk terus mengontrol rencana hidup.
Lalu, kenapa kita sering sulit mencapai penerimaan tersebut?
Epictetus, salah satu filsuf Stoik, megenalkan ajaran dasar yang dikenal sebagai dikotomi kendali. Ia menjelaskan bahwa kedamaian sejati hanya datang dari hal-hal yang berada sepenuhnya di bawah kendali kita, seperti usaha, pikiran, dan respons pribadi.
Sebaliknya, menggantungkan kedamaian pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti hasil akhir, penilaian orang lain, hingga waktu pencapaian adalah hal yang tidak rasional dan justru menjadi sumber penderitaan.
Bukankah itu hal yang sering kita lupakan hari ini, seolah-olah semua hal ada dalam kendali kita?
Bayangkan setelah gagal dalam wawancara, kita tidak lagi memikirkan bagaimana memperbaiki kemampuan, melainkan sibuk menebak-nebak apa pendapat pewawancara, membandingkan diri dengan peserta lain, atau menyalahkan keberuntungan.
Padahal semua itu sudah berada di luar kendali kita. Terlebih, hadirnya media sosial saat ini membuat kita terbiasa mengukur hidup dari pencapaian orang lain.
Kita melihat teman diterima kerja, lulus lebih cepat, atau membeli rumah, lalu diam-diam bertanya kapan giliran kita, yang malah memperkuat perasaan gagal tersebut.
Akhirnya, yang kita kejar bukan lagi kehidupan yang diinginkan, melainkan kemenangan menurut standar lingkungan.
Dalam pandangan Stoik, di situlah sumber penderitaan kita. Bukan karena kita gagal, tetapi karena kita terus berusaha mengendalikan sesuatu yang memang tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Lagu “Sementara” juga mengingatkan akan hal ini lewat liriknya yang berbunyi “Semua ditentukan waktunya / Kan dijawab pada saatnya / Sudah dituliskan takdirnya.”
Lirik ini kembali menyadarkan bahwa ada keteraturan di luar kendali manusia yang perlu kita percayai.
Di sisi lain, pilihan judul lagu ini sendiri menyimpan makna tersendiri. Mengapa lagu ini diberi judul “Sementara”, bukan “Menerima” atau “Bangkit”?
Kata “sementara” mengingatkan bahwa tidak ada keadaan yang benar-benar menetap. Rasa sakit, kegagalan, kehilangan, bahkan keberhasilan sekalipun, semuanya terus bergerak.
Ini juga latihan yang sering ditekankan dalam Stoikisme, yaitu memandang setiap keadaan, seburuk apa pun, sebagai sesuatu yang terus bergerak dan berubah, bukan kondisi akhir yang menetap selamanya.
Kita sering menganggap suatu kegagalan sebagai identitas. Ditolak kerja sekali, lalu merasa diri tidak kompeten. Gagal mencapai target, lalu menganggap hidup sudah berantakan.
Padahal, yang gagal hanyalah satu peristiwa, bukan seluruh diri kita. Kesadaran akan sifat sementara ini membuat sikap menerima jadi lebih rasional.
Pada akhirnya, semua ini memberi kita pelajaran sederhana. Berhenti menghabiskan energi untuk hal yang tidak bisa dikendalikan, lalu pusatkan perhatian pada cara kita meresponsnya.
Barangkali, bukan kegagalan yang paling menyakitkan. Justru yang menyakitkan adalah kebiasaan mengontrol hal-hal di luar kendali, dan keyakinan bahwa kegagalan akan menetap selamanya.
Mungkin itulah mengapa lagu ini terasa begitu dekat dengan banyak orang. Ia tidak menawarkan cara agar hidup selalu berjalan sesuai rencana, melainkan mengingatkan bahwa tidak ada keadaan yang benar-benar menetap.
Jadi, mari kita cintai semua fase hidup ini karena semua itu hanyalah “Sementara”.
Penulis: Fiki Zakiyah
Editor: Achmad Bagas Pranata






