• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

Redaksi Al-Mizan by Redaksi Al-Mizan
1 Agustus 2026
in Analisis, Opini
0
Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

Sumber: Washingtonpost.com

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan ​– “Kegagalan” merupakan satu kata yang selalu ditakuti oleh manusia. Seolah-olah kegagalan itu suatu hal yang buruk, akhir dari segalanya, dan terkadang membuat kita seperti mogok hidup.

Ketakutan ini semakin menjadi-jadi di tengah kebiasaan membanding-bandingkan pencapaian, seolah satu kegagalan membuktikan kita gagal seutuhnya.

Padahal kenyataannya kegagalan akan selalu berdampingan dengan keberhasilan dalam hidup kita. Jadi, apa yang seharusnya kita lakukan ketika mengalami kegagalan?

Jawabannya ada di lagu “Sementara” oleh Barasuara yang baru saja dirilis pada 10 Juli 2026. Secara garis besar, menurut saya lagu ini mengingatkan bahwa sebagai manusia, kita tidak selalu bisa mengontrol hidup, dan terkadang melepaskan adalah langkah terbaik.

“Akan ada titik di mana kita rela menerima.” Potongan lirik dalam lagu “Sementara” inilah yang akan mengawali pembahasan kita. Mari kita mulai pembahasan ini dari satu kata kunci: Penerimaan.

Dalam Stoikisme, terdapat istilah amor fati yang berarti mencintai apapun yang terjadi. Bukan sekadar menerimanya dengan berat hati, tapi benar-benar merangkulnya sebagai bagian yang memang seharusnya terjadi.

ArtikelTerkait

Bupati Pemalang Jadi Tersangka, KPK Dalami Dugaan Jual Beli Jabatan

Simposium Legislator Muda Jateng 2026, Dorong Lahirnya Generasi Berintegritas dan Visioner

Sekolah Edukasi Jurnalistik: LPM Al-Mizan Kenalkan Dunia Jurnalistik kepada Pelajar

Ini penting dibedakan dari sekadar pasrah. Pasrah itu pasif, di mana kita berhenti berusaha, berhenti bergerak, karena sudah kehabisan tenaga atau harapan.

Sedangkan amor fati itu aktif, kita menerima kenyataan yang memang sudah tidak bisa diubah lagi, tapi tetap memilih untuk terus melangkah dengan kenyataan baru itu, bukan berhenti di tempat.

Lirik “Akan ada titik di mana kita rela menerima” menangkap semangat ini dengan tepat. Kata “rela” di situ bukan berarti kalah atau pasrah, melainkan keputusan sadar untuk berhenti memusuhi kenyataan.

Kata “rela” membutuhkan usaha aktif. Ia adalah sebuah pilihan yang harus diambil, bukan sesuatu yang datang begitu saja setelah kita kehabisan tenaga. Justru karena harus dipilih, prosesnya terasa berat sebab melawan dorongan alami kita untuk terus mengontrol rencana hidup.

Lalu, kenapa kita sering sulit mencapai penerimaan tersebut?

Epictetus, salah satu filsuf Stoik, megenalkan ajaran dasar yang dikenal sebagai dikotomi kendali. Ia menjelaskan bahwa kedamaian sejati hanya datang dari hal-hal yang berada sepenuhnya di bawah kendali kita, seperti usaha, pikiran, dan respons pribadi.

Sebaliknya, menggantungkan kedamaian pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti hasil akhir, penilaian orang lain, hingga waktu pencapaian adalah hal yang tidak rasional dan justru menjadi sumber penderitaan.

Bukankah itu hal yang sering kita lupakan hari ini, seolah-olah semua hal ada dalam kendali kita?

Bayangkan setelah gagal dalam wawancara, kita tidak lagi memikirkan bagaimana memperbaiki kemampuan, melainkan sibuk menebak-nebak apa pendapat pewawancara, membandingkan diri dengan peserta lain, atau menyalahkan keberuntungan.

Padahal semua itu sudah berada di luar kendali kita. Terlebih, hadirnya media sosial saat ini membuat kita terbiasa mengukur hidup dari pencapaian orang lain.

Kita melihat teman diterima kerja, lulus lebih cepat, atau membeli rumah, lalu diam-diam bertanya kapan giliran kita, yang malah memperkuat perasaan gagal tersebut.

Akhirnya, yang kita kejar bukan lagi kehidupan yang diinginkan, melainkan kemenangan menurut standar lingkungan.

Dalam pandangan Stoik, di situlah sumber penderitaan kita. Bukan karena kita gagal, tetapi karena kita terus berusaha mengendalikan sesuatu yang memang tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Lagu “Sementara” juga mengingatkan akan hal ini lewat liriknya yang berbunyi “Semua ditentukan waktunya / Kan dijawab pada saatnya / Sudah dituliskan takdirnya.”

Lirik ini kembali menyadarkan bahwa ada keteraturan di luar kendali manusia yang perlu kita percayai.

Di sisi lain, pilihan judul lagu ini sendiri menyimpan makna tersendiri. Mengapa lagu ini diberi judul “Sementara”, bukan “Menerima” atau “Bangkit”?

Kata “sementara” mengingatkan bahwa tidak ada keadaan yang benar-benar menetap. Rasa sakit, kegagalan, kehilangan, bahkan keberhasilan sekalipun, semuanya terus bergerak.

Ini juga latihan yang sering ditekankan dalam Stoikisme, yaitu memandang setiap keadaan, seburuk apa pun, sebagai sesuatu yang terus bergerak dan berubah, bukan kondisi akhir yang menetap selamanya.

Kita sering menganggap suatu kegagalan sebagai identitas. Ditolak kerja sekali, lalu merasa diri tidak kompeten. Gagal mencapai target, lalu menganggap hidup sudah berantakan.

Padahal, yang gagal hanyalah satu peristiwa, bukan seluruh diri kita. Kesadaran akan sifat sementara ini membuat sikap menerima jadi lebih rasional.

Pada akhirnya, semua ini memberi kita pelajaran sederhana. Berhenti menghabiskan energi untuk hal yang tidak bisa dikendalikan, lalu pusatkan perhatian pada cara kita meresponsnya.

Barangkali, bukan kegagalan yang paling menyakitkan. Justru yang menyakitkan adalah kebiasaan mengontrol hal-hal di luar kendali, dan keyakinan bahwa kegagalan akan menetap selamanya.

Mungkin itulah mengapa lagu ini terasa begitu dekat dengan banyak orang. Ia tidak menawarkan cara agar hidup selalu berjalan sesuai rencana, melainkan mengingatkan bahwa tidak ada keadaan yang benar-benar menetap.

Jadi, mari kita cintai semua fase hidup ini karena semua itu hanyalah “Sementara”.

 

Penulis: Fiki Zakiyah

Editor: Achmad Bagas Pranata

Tags: #kegagalan#LPM Al Mizan#UINGusdur
Redaksi Al-Mizan

Redaksi Al-Mizan

Related Posts

Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

21 Juli 2026
Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In