Judul Buku : Sepotong Senja Untuk Pacarku
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Tahun Terbit : 2002
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal halaman : 205
Ukuran buku : 14 cm x 21 cm
Peresensi : Hilman
lpmalmizan – Seorang insan ketika sedang jatuh cinta pasti mengusahakan segala cara agar mendapatkan perhatian dari sang kekasih. Begitu pula buku karya dari Seno Gumira Ajidarma yang berjudul sepotong senja untuk pacarku, bercerita tentang dramatisnya seorang pria mengirimkan sebuah senja yang dimasukan ke dalam amplop lalu dikirimkan untuk sosok perempuan yang dicintainya. Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek yang memiliki tiga bab, pertama trilogi Alina, Peselancar Agung, dan Atas Nama Senja. Mari kita selami kisah kasih dan perjuangan dari sosok pria yang mencintai begitu rupa kepada wanita yang dicinta.
Sepotong senja untuk pacarku menceritakan tentang seorang pria yang bernama Sukab yang jatuh cinta kepada perempuan bernama Alina. Sebagai bentuk rasa cintanya, ia mengirimkan sepotong senja yang berwarna keemas-emasan dari sebuah pantai, lalu senja itu dimasukan ke dalam amplop. Dalam perjalanan mengirimkan senja, Sukab melewati berbagai rintangan, dari mulai dikejar warga, diburu polisi, sampai dikejar helikopter pun semangatnya tidak pernah padam. Hingga, di tengah-tengah perjalanan ia menemui jalan buntu dan tak tahu harus dikemanakan arah langkahnya. Namun, tiba-tiba diarahkan ke dalam gorong-gorong oleh seorang pria misterius. Tapi, tak disangka setelah menelusuri lebih jauh ke dalam gorong-gorong Sukab, berada di dunia lain. Dunia itu bersambung dengan pantai yang dimana Sukab mendapatkan senja yang indah. Setelah semuanya dirasa aman, Sukab kembali keluar dari gorong-gorong lalu menuju ke kantor pos terdekat untuk mengirimkan sepotong senja yang kemerah-merahan di dalam amplop yang sebelumnya sudah dipersiapkan.
Namun, nasib malang dialami Sukab. Amplop berisi senja itu sampai di tangan Alina setelah 10 tahun lamanya. Usut punya usut, tukang pos penasaran dengan isi dalam amplop, cahaya kemerahan mengganggunya ketika dalam perjalanan, sampai di suatu perjalanan ia beristirahat lalu membuka isi dalam amplop tersebut dan tak disangka si tukang pos masuk ke dalam dunia amplop. Alina bergumam, sudah berapa hari si tukang amplop di sana, apa yang dia lakukan, apakah si tukang pos akan bertambah usia, dan apakah di sana akan beranak pinak?. Entahlah, pada intinya senja yang dikirimkan terlambat, sampai Alina sudah memiliki suami dan melahirkan buah hati.Â
Pada akhirnya, Sukab harus menerima dengan lapang dada, perempuan yang dicinta ternyata tidak mencintai kembali. Perlakuan baik Alina yang selama ini diterima oleh Sukab hanyalah perasaan kasihan, mencintai begitu rupa tapi tidak tahu yang dicintai sebetulnya tidak mencintai kamu.
Tema utama yang diangkat dalam buku ini adalah percintaan, dan perjuangan. Seno Gumira Ajidarma menggambarkan bahwa kita harus menyiapkan ruang dan rasa keikhlasan yang luas dalam mencintai seorang agar perasaan suka yang selama ini dibangun tidak akan menimbulkan rasa penyesalan di kemudian hari. Mungkin juga di luar sana banyak laki-laki yang bernasib sama dengan Sukab, mencintai begitu rupa, mengusahakan segala upaya dan tenaga, tapi apalah daya kalau bukan orang yang memang dia suka. Latar waktu berada di tahun 90-an sampai 2000-an, sedangkan latar tempat yang digunakan adalah kehidupan masyarakat di tepi Pantai.
Tokoh utama dalam buku ini adalah Sukab dan Alina. Sukab dikenal sebagai sosok yang puitis, romantis, dan penuh pengorbanan. Ia mencerminkan pemuda zaman sekarang yang mengusahakan segala upaya untuk membuktikan rasa cintanya kepada sang kekasih. Sedangkan, Alina digambarkan sebagai sosok cuek, dingin, dan apa adanya, dengan karakter layaknya perempuan pada umumnya. Namun, dengan begitu Alina setidaknya sudah jujur dengan perasaannya kepada laki-laki yang mencintainya.
Seno Gumira Ajidarma menggunakan gaya penulisan yang ringan dan mengalir, sehingga bagi pembaca yang baru membaca karya dari beliau tidak merasa kesulitan untuk memahaminya. Buku ini juga penuh dengan kutipan-kutipan puitis yang berisi deskripsi emosional yang mendalam. Selain itu, bagi saya, penulis berhasil menyentuh perasaan tokoh yang digambarkan di dalam buku, dan juga membayangkan tentang perjuangan Sukab dalam mengirimkan sepotong senja di dalam amplop.
Kekuatan utama dari buku ini terletak pada gaya penulisan yang seakan memiliki nyawa tersendiri ketika membaca, sehingga cerita terasa sangat berkesan dan menyentuh. Tokoh-tokohnya juga memiliki karakter dan sifat yang tidak berlebihan dan pembaca merasa terikat secara emosional. Apalagi latar yang digunakan adalah sebuah Pantai menjadikan cerita ini menarik, penulis begitu lihai memotret lalu menceritakan fenomena apa saja yang terjadi di tempat itu. Sehingga menjadikan suatu hal berbeda dari penulis-penulis lain.
Namun, karena buku ini ditulis di era 90-an sampai 2000 entah menyesuaikan latar waktu atau tidak, terdapat kutipan-kutipan pada setiap babnya yang ditulis menggunakan ejaan lama sehingga bagi orang zaman sekarang akan merasa sulit untuk membaca dan butuh pengulangan agar mengerti maksud dari kutipan tersebut.
Penulis: Arif Hilman Zabidi
Editor: Dina Fitriana






