• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Bukan Diukur dari Angka, Apa Arti Menjadi Dewasa?

Ananda Eka Oktaviani Putri by Ananda Eka Oktaviani Putri
31 Januari 2025
in Analisis, Opini
0
Bukan Diukur dari Angka, Apa Arti Menjadi Dewasa?

Ilustrasi by: open.noice.id

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Seiring berjalannya waktu, kita semua akan menghadapi fase dewasa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup. Ketika masih kecil, banyak dari kita berpikir bahwa menjadi dewasa adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Bayangan tentang kebebasan mengambil keputusan, memiliki uang dari hasil keringat sendiri,  hidup terasa lebih mudah karena sudah tidak perlu sekolah dan ngerjain PR lagi, memiliki pasangan hidup yang selalu ada dan support kita, dan tidak perlu lagi diatur orang tua sering kali menjadi angan-angan yang membuat kita ingin cepat dewasa. Namun, saat fase itu tiba, banyak orang menyadari bahwa menjadi dewasa tidaklah seindah yang dibayangkan. Dibalik adanya kebebasan yang kita miliki, didalamnya juga terdapat tanggung jawab yang berat.

Dewasa bukan hanya sebuah umur saja yang menginjak angka 21 tahun. Tetapi dewasa merupakan bagaimana cara seseorang bersikap dan menghadapi kerasnya kehidupan, bisa mengendalikan emosinya, berpikir dengan logis sebelum mengambil keputusan, bertanggung jawab atas diri sendiri, dan bisa menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Selain itu, dewasa juga berarti menerima bahwa tidak semua hal di dunia ini adil. Kadang kita kerja keras tapi tidak dihargai, kadang kita baik ke orang lain tapi malah dikhianati, dan kadang kita berharap sesuatu tapi harus menerima kenyataan yang jauh berbeda dari yang kita minta, dan yang paling sulit yaitu menerima bahwa tidak semua impian masa kecil bisa terwujud.

Ketika masih kecil, kita melihat orang tua sebagai sosok kuat yang selalu bisa diandalkan dari mulai meminta uang untuk jajan, mengadu disaat ada teman yang nakal, dan selalu menjadi garda terdepan disaat kita merasa terancam atau dalam kesusahan serta berbagai hal lainnya yang tentunya tidak bisa kita sebut satu per satu. Namun, seiring bertambahnya usia, kita mulai menyadari bahwa mereka juga manusia, perlahan-lahan mereka mulai menua, dan tidak selamanya sehat dan bugar. Tentunya orang tua butuh perhatian yang lebih dari kita sebagai anaknya. Sebagai anak, kita dihadapkan pada dilema besar, yaitu kita dihadapi 2 pilihan yang sangat sulit, yaitu kita menjaga dan menghabiskan waktu dengan orang tua tanpa berbuat apa-apa, atau kita berjuang sesuai dengan yang kita cita-citakan yang tentunya menguras banyak waktu sehingga waktu bersama orang tua hanya sebentar saja. 

Di era media sosial sekarang ini, kita semakin sering melihat pencapaian orang lain. Kita sering melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna, mempunyai karir sukses, pasangan yang ideal, liburan ke tempat mewah bersama keluarga, dan hidup yang terlihat tanpa beban. Namun tanpa kita sadari, kita mulai membandingkan diri sendiri dengan standar yang tidak realistis bahkan bisa saja hidup kita diatur dan mengikuti standar-standar yang ada di sosial media. Dengan demikian kita menjadi merasa kurang, merasa tertinggal, dan mulai mempertanyakan apakah kita juga bisa berhasil. Padahal, kenyataannya, apa yang kita lihat di media sosial belum tentu mencerminkan kehidupan sebenarnya. Semua orang punya perjuangan masing-masing, dan tentunya orang-orang tidak akan membagikan betapa susahnya kehidupan yang mereka lalui ke media sosial.

Menjadi dewasa tentu banyak sekali masalah dan tantangan yang dihadapi. Namun dengan adanya masalah yang terjadi justru diharapkan dapat kita jadikan sebagai pembelajaran agar kedepannya kita lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya. Karena pada akhirnya hidup bukan hanya tentang siapa yang paling sukses dan paling terang, tetapi tentang bagaimana kita bisa menjalani hidup dengan bahagia dan penuh makna dengan orang-orang sekitar yang kita cintai. 

Penulis: Ananda Eka Oktaviani Putri

ArtikelTerkait

Refleksi dari Kearifan Budaya Jawa dalam Menumbuhkan Empati di Dunia yang Individualistik

Kita Bisa Punya Kemampuan Public Speaking

Mengirim Senja, Menerima Kenyataan: Sebuah Perjuangan Cinta dalam Sepotong Senja untuk Pacarku

Editor: Dina Fitriana

Tags: lpm al-mizanOpini
Ananda Eka Oktaviani Putri

Ananda Eka Oktaviani Putri

Related Posts

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026
Mengurai Kontras antara People Pleasing dan Self Love

Mengurai Kontras antara People Pleasing dan Self Love

21 Mei 2026
Prabowo Soal Rupiah Melemah: Warga Desa Tidak Menggunakan Dollar

Prabowo Soal Rupiah Melemah: Warga Desa Tidak Menggunakan Dollar

20 Mei 2026
OSD HMT-ITB Menyanyikan Lagu Erika Memicu Kemarahan Publik

OSD HMT-ITB Menyanyikan Lagu Erika Memicu Kemarahan Publik

12 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In