“Banyak orang yang pintar, banyak orang yang paham, tapi tidak bisa membuat orang lain paham,” kata seorang Ustadz kepada saya dalam sebuah perbincangan. Saya setuju dengannya, dan bisa saja hal ini terjadi karena kurangnya keahlian public speaking yang dimiliki dari si orang paham tersebut. Kurangnya kemampuan mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikirannya sehingga dalam penyampaian materi kurang jelas.
Otak kita sudah menyimpan banyak informasi, ide, ataupun gagasan. Tapi seringkali apa yang kita pikirkan tidak bisa kita sampaikan secara lisan. Di sinilah perlunya kemampuan public speaking. Contohnya, seorang guru yang menyampaikan materi kepada murid. Padahal guru tersebut sudah memahami materinya, tapi karena kurang dalam kemampuan publik speaking, penyampaiannya pun kurang bisa dimengerti oleh si murid.
Contoh lain ketika mahasiswa sedang presentasi di depan kelas. Si mahasiswa sudah berapi-api dengan penuh semangat menyampaikan materi, tapi mahasiswa lain yang mendengarkan banyak yang tidak memperhatikan, malah bermain ponsel, banyak yang mengantuk, bahkan sampai tidur. Hal ini terjadi mungkin bukan karena mahasiswa lain yang malas, tapi bisa saja karena kemampuan public speaking yang kurang dari mahasiswa yang memberikan materi.
Memang public speaking atau berbicara di depan banyak orang bukanlah hal yang mudah. Biasanya orang akan merasa grogi, cemas, atau khawatir karena merasa malu, takut salah, atau tidak bisa menarik perhatian orang-orang yang diajak bicara. Kecemasan dan kekhawatiran normal bagi manusia, semua orang pasti merasa demikian ketika mau berbicara di depan banyak orang.
Kita perlu mengolah kecemasan dan kekhawatiran tersebut, mengolah pikiran kita agar lebih tenang. Jika kita sudah memahami apa yang akan kita sampaikan, biasanya ini akan membuat kita lebih tenang. Latihan terus menerus juga sangat membantu, orang yang sering berbicara di depan banyak orang biasanya rasa takutnya akan berkurang. Kita juga bisa berlatih dengan berbicara di depan cermin, sebelum berbicara langsung di depan banyak orang.
Kita juga perlu mengenali lawan bicara kita, kepada siapa saja kita akan berbicara. Setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Kita harus bisa mengenali dan menyesuaikan bagaimana cara kita menyampaikan, agar sesuai deng lawan bicara kita. Agar orang yang kita ajak bicara bisa menerima dengan baik apa yang kita sampaikan.Â
Kita juga perlu melihat keadaan orang-orang yang sedang mendengarkan. Semisal seorang mahasiswa sedang presentasi di depan kelas, dan mahasiswa lain sudah mulai terlihat mengantuk, maka kita perlu mengeluarkan sedikit humor. Biasanya humor akan membuat orang lebih berkonsentrasi untuk mendengarkan apa yang kita sampaikan.Â
Selain itu, kita juga harus memainkan bahasa tubuh, ini menjadi peranan besar dalam publik speaking. Saat berbicara di depan banyak orang, tidak cuma kata yang keluar dari mulut kita yang perlu diperhatikan. Tapi bahasa tubuh juga bisa menarik perhatian lawan bicara kita, bagaimana kita bergerak, dan bagaimana ekspresi wajah kita. Kontak mata juga sangat diperlukan, dengan kontak mata kita akan membuat hubungan yang lebih personal dengan lawan bicara.
Hal yang tidak kalah penting adalah kita harus memperhatikan sekitar kita. Jika ada gangguan, semisal suara yang bisa mengalahkan suara kita, maka kita harus berhenti berbicara sejenak, menunggu gangguan tersebut hilang. Dengan demikian orang yang kita ajak bicara akan lebih memperhatikan apa yang kita sampaikan. Jika lawan bicara kita sedang tertawa, semisal karena humor yang kita keluarkan. Lebih baik kita menunggu mereka selesai tertawa, setelahnya baru kita melanjutkan apa yang hendak kita sampaikan.
Pada intinya, public speaking adalah kemampuan yang bisa kita pelajari dan terus berkembang. Semua orang bisa menjadi pembicara yang baik jika mau berlatih, memperbaiki teknik berbicara, dan tentunya mempersiapkan diri dengan baik. Public speaking bukan cuma bagaimana kita berbicara, tapi bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan orang lain, dan apa yang kita sampaikan bisa dipahami lawan bicara kita.
Penulis: AminÂ






