• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Komunisme dan Kamerad Kliwon: Resensi Novel Cantik Itu Luka

Amin Nur Alfa Izin by Amin Nur Alfa Izin
1 Oktober 2024
in Analisis, Review
0
Komunisme dan Kamerad Kliwon: Resensi Novel Cantik Itu Luka

Foto: twitter.com/gramedia

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

Judul Buku: Cantik Itu Luka
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juni 2024, cetakan ketiga puluh lima
Tebal Buku: 505 halaman

lpmalmizan – Novel ini ditulis oleh Eka Kurniawan, penulis kelahiran Tasikmalaya, 1975. Eka menyelesaikan studi dari Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, 1999. Cantik Itu Luka menjadi novel pertamanya, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2002. Novel ini berhasil meraih beberapa penghargaan, dan diterjemahkan lebih dari 30 bahasa.

Eka dalam novel ini, melahirkan seorang tokoh bernama Dewi Ayu, wanita keturunan Belanda di masa kolonial, dari pasangan kakak beradik, Henri Stamler dan Aneu Stamler. Dewi Ayu digambarkan sebagai wanita yang sangat cantik, yang terpaksa menjadi pemuas nafsu tentara Jepang. Kecantikannya diwarisi ketiga anak perempuannya. Namun, anaknya yang keempat lahir dengan keadaan buruk rupa. Dewi Ayu mati duabelas hari setelah anak keempatnya lahir, sebelum melihat rupa anaknya yang ia beri nama Si Cantik.

Berlatar di sebuah kota kecil bernama Halimunda, Eka menuliskan secara apik kisah keempat anak Dewi Ayu. Anak pertamanya bernama Almanda, yang menjalin hubungan dengan Kliwon. Tapi karena suatu tragedi, Almanda justru menikah dengan Shodanco. Anaknya yang kedua bernama Adinda, dengan kisah romansa yang rumit ia menikah dengan Kliwon, lelaki yang dicintai kakaknya. Anaknya yang ketiga bernama Maya Dewi, yang masih dibawah umur diharuskan menikah dengan Maman Gendeng, seorang preman penguasa Halimunda.

Selain kisah keluarga dan percintaan yang rumit, Eka juga membumbui novel ini dengan kisah sejarah. Dari akhir masa kolonial Belanda, sampai masa orde baru. Pada masa peralihan orde lama ke orde baru, Eka menghadirkan seorang tokoh Kliwon sebagai seorang komunis. Awalnya ia merupakan seorang anak cerdas di Halimunda dan disukai banyak wanita. Mina, ibunya sebenarnya tak ingin Kliwon menjadi seorang komunis seperti bapaknya, yang dieksekusi Jepang. Mina memiliki kesimpulan bahwa orang komunis selalu murung dan tak bahagia.

Suatu momen Kliwon bertemu dengan Kamerad salim, teman bapaknya, yang juga seorang komunis. Pertemuannya dengan Kamerad Salim hanya satu malam, sebelum paginya Kamerad Salim dieksekusi di rumahnya. Tapi dari pembicaraannya dengan Kamerad Salim, Kliwon mendapat pemikiran-pemikiran Marxis. Akhirnya Kliwon mengubah dirinya menjadi Kamerad Kliwon. Ia menjadi kader partai komunis, mengikuti beberapa aksi demo dan semakin jauh mendalami pemikiran-pemikiran kiri. Sampai Kamerad Kliwon menjadi pemimpin Partai Komunis di Halimunda, dan sukses membawa kejayaan partainya.

ArtikelTerkait

Kita Bisa Punya Kemampuan Public Speaking

Mengirim Senja, Menerima Kenyataan: Sebuah Perjuangan Cinta dalam Sepotong Senja untuk Pacarku

Bukan Diukur dari Angka, Apa Arti Menjadi Dewasa?

Saat datang kabar penculikan jendral di Jakarta, Kamerad Kliwon masih menunggu koran pagi yang biasa ia baca. Kamerad Kliwon tidak tahu terkait, yang katanya pemberontakan, meskipun ia tokoh Partai Komunis. Kekacauan dan ketegangan terjadi di Halimunda, antara orang-orang komunis dan para tentara yang dipimpin Shodanco. Semua orang turun ke jalan, dan terjadi keributan hingga berakhir dengan ribuan orang komunis terbunuh. Beberapa mayatnya ada yang masih dikuburkan, tapi saking banyaknya korban, ratusan mayat hanya dibiarkan begitu saja, sampai membusuk di jalan, trotoar, dan sungai.

Eka berhasil membalut karya sastra fiktif dengan nilai-nilai fakta sejarah. Menyuguhkan cerita yang tersusun rapi dengan alur maju mundur. Menciptakan tokoh-tokoh dengan karakter karakter khas, unik, dan menarik. Semua tokoh memiliki peran penting sehingga cerita tidak hanya berfokus pada satu tokoh saja. Banyak pesan yang bisa diambil dari novel ini, salah satunya karma itu nyata.

Namun, cerita dan bahasa di dalamnya terkesan sangat vulgar secara terang-terangan, mengandung beberapa kata kotor. Sebagian pembaca yang sensitif tidak cocok membaca novel ini. Cerita di dalamnya juga sangat kompleks sehingga mungkin membingungkan bagi sebagian orang. Novel ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang menyukai cerita sejarah, politik, dan fantasi yang absurd. Dengan kisah romantis dan gejolak percintaan yang membara dibalut persoalan keluarga yang menarik.

Penulis: Amin Nur Alfaizin
Editor: Dina Fitriana

Tags: lpm al-mizanNovelResensi Buku
Amin Nur Alfa Izin

Amin Nur Alfa Izin

Manusia hijau yang tidak sebesar hulk

Related Posts

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In