Judul Buku: Cantik Itu Luka
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juni 2024, cetakan ketiga puluh lima
Tebal Buku: 505 halaman
lpmalmizan – Novel ini ditulis oleh Eka Kurniawan, penulis kelahiran Tasikmalaya, 1975. Eka menyelesaikan studi dari Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, 1999. Cantik Itu Luka menjadi novel pertamanya, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2002. Novel ini berhasil meraih beberapa penghargaan, dan diterjemahkan lebih dari 30 bahasa.
Eka dalam novel ini, melahirkan seorang tokoh bernama Dewi Ayu, wanita keturunan Belanda di masa kolonial, dari pasangan kakak beradik, Henri Stamler dan Aneu Stamler. Dewi Ayu digambarkan sebagai wanita yang sangat cantik, yang terpaksa menjadi pemuas nafsu tentara Jepang. Kecantikannya diwarisi ketiga anak perempuannya. Namun, anaknya yang keempat lahir dengan keadaan buruk rupa. Dewi Ayu mati duabelas hari setelah anak keempatnya lahir, sebelum melihat rupa anaknya yang ia beri nama Si Cantik.
Berlatar di sebuah kota kecil bernama Halimunda, Eka menuliskan secara apik kisah keempat anak Dewi Ayu. Anak pertamanya bernama Almanda, yang menjalin hubungan dengan Kliwon. Tapi karena suatu tragedi, Almanda justru menikah dengan Shodanco. Anaknya yang kedua bernama Adinda, dengan kisah romansa yang rumit ia menikah dengan Kliwon, lelaki yang dicintai kakaknya. Anaknya yang ketiga bernama Maya Dewi, yang masih dibawah umur diharuskan menikah dengan Maman Gendeng, seorang preman penguasa Halimunda.
Selain kisah keluarga dan percintaan yang rumit, Eka juga membumbui novel ini dengan kisah sejarah. Dari akhir masa kolonial Belanda, sampai masa orde baru. Pada masa peralihan orde lama ke orde baru, Eka menghadirkan seorang tokoh Kliwon sebagai seorang komunis. Awalnya ia merupakan seorang anak cerdas di Halimunda dan disukai banyak wanita. Mina, ibunya sebenarnya tak ingin Kliwon menjadi seorang komunis seperti bapaknya, yang dieksekusi Jepang. Mina memiliki kesimpulan bahwa orang komunis selalu murung dan tak bahagia.
Suatu momen Kliwon bertemu dengan Kamerad salim, teman bapaknya, yang juga seorang komunis. Pertemuannya dengan Kamerad Salim hanya satu malam, sebelum paginya Kamerad Salim dieksekusi di rumahnya. Tapi dari pembicaraannya dengan Kamerad Salim, Kliwon mendapat pemikiran-pemikiran Marxis. Akhirnya Kliwon mengubah dirinya menjadi Kamerad Kliwon. Ia menjadi kader partai komunis, mengikuti beberapa aksi demo dan semakin jauh mendalami pemikiran-pemikiran kiri. Sampai Kamerad Kliwon menjadi pemimpin Partai Komunis di Halimunda, dan sukses membawa kejayaan partainya.
Saat datang kabar penculikan jendral di Jakarta, Kamerad Kliwon masih menunggu koran pagi yang biasa ia baca. Kamerad Kliwon tidak tahu terkait, yang katanya pemberontakan, meskipun ia tokoh Partai Komunis. Kekacauan dan ketegangan terjadi di Halimunda, antara orang-orang komunis dan para tentara yang dipimpin Shodanco. Semua orang turun ke jalan, dan terjadi keributan hingga berakhir dengan ribuan orang komunis terbunuh. Beberapa mayatnya ada yang masih dikuburkan, tapi saking banyaknya korban, ratusan mayat hanya dibiarkan begitu saja, sampai membusuk di jalan, trotoar, dan sungai.
Eka berhasil membalut karya sastra fiktif dengan nilai-nilai fakta sejarah. Menyuguhkan cerita yang tersusun rapi dengan alur maju mundur. Menciptakan tokoh-tokoh dengan karakter karakter khas, unik, dan menarik. Semua tokoh memiliki peran penting sehingga cerita tidak hanya berfokus pada satu tokoh saja. Banyak pesan yang bisa diambil dari novel ini, salah satunya karma itu nyata.
Namun, cerita dan bahasa di dalamnya terkesan sangat vulgar secara terang-terangan, mengandung beberapa kata kotor. Sebagian pembaca yang sensitif tidak cocok membaca novel ini. Cerita di dalamnya juga sangat kompleks sehingga mungkin membingungkan bagi sebagian orang. Novel ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang menyukai cerita sejarah, politik, dan fantasi yang absurd. Dengan kisah romantis dan gejolak percintaan yang membara dibalut persoalan keluarga yang menarik.
Penulis: Amin Nur Alfaizin
Editor: Dina Fitriana






