lpmalmizan-Puncak peringatan Haul Gus Dur ke-15 direalisasikan lewat Panggung Budaya, Kamis malam (13/02) di Gedung Student Center kampus II Rowalaku, Kajen.
Acara ini bertajuk “Refleksi Jejak Pemikiran Gus Dur dalam Kebhinekaan” dan terbuka untuk umum.
Sebelumnya pada Kamis siang telah direncanakan peletakan batu pertama untuk pembangunan laboratorim terpadu, namun tertunda dikarenakan proses lelang yang belum selesai.
“Untuk kegiatan peletakan batu pertama labiratorium itu diundur, kemungkinan kalo nggak akhir Februari itu awal Maret,” ujar ketua pelaksana Muhtar Ali Ahmadi.
Kegiatan pertama diawali dengan penampilan hadroh kolosal oleh 150 pemain. Dilanjutkan dengan tahlil akbar yang dipimpin Muslih Khudori, kemudian paduan suara lintas iman yang dibawakan oleh Paduan Suara Gereja, UKM Musik El-Fata, dan Hadroh. Diakhiri dengan tampilan musikalisasi puisi, tausiah kebangsaan oleh Alissa Wahid, dan stand up comedy oleh Kirun.
Dalam tausiah kebangsaan yang disampaikan oleh Alissa Wahid, beliau mengawali dengan puisi berjudul “Lelaki yang Tak Punya Mata” yang menceritakan sosok Gus Dur yang luar biasa.
Beliau menyampaikan, di mana pada zaman Gus Dur semua orang bebas berenang dan berselancar kemanapun tanpa merasa takut akan ditanyai “Apa agamamu?”
Acara Panggung Budaya ini juga dihadiri oleh beberapa tokoh agama sebagai tanda penghormatan Gus Dur yang dikenal sebagai tokoh pluralisme, salah satunya yaitu pendeta Martin Lukito Sinaga. Beliau menuturkan terkait pentingnya menghormati kebudayaan bangsa sebagaimana diajarkan Gus Dur.
“Saya kira beliau berani mengatakan Islam dipribumikan, Islam Nusantara, berarti beliau ingin menjadi yang disebut integrasi antara keimanan dan ekspresi budaya, sehingga kita bisa menikmati musik, gambus bahkan tadi ludruk turut menjadi pewarta agama yang komunikatif,” tuturnya.
Mengenai acara ini Rektor UIN Gus Dur Zaenal Mustakim dalam sambutannya menyebutkan, bahwa acara ini bukan sekedar peringatan biasa melainkan juga meneladani sosok Gus Dur.
“Acara haul Gus Dur ini bukan hanya sebuah peringatan biasa untuk mengenang, tetapi lebih ke bagaimna nanti kita meneladani sosok yang luar biasa yang bernama K.H. Abdurrahman Wahid. Jangan hanya mengenang, tetapi harus bisa meneladaninya. Gus Dur itu bukan hanya tokoh, tetapi beliau adalah cahaya dalam kebhinekaan. Dengan kebijaksanaan dan keberanian nya beliau mengajarkan bahwa perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dirayakan,” jelasnya.
Antusias penonton terhadap acara Panggung Budaya terlihat dengan kedatangan peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum.
Inarotul Aeni selaku mahasiswa mengungkapkan keantusiasan dan ketertarikan yang tinggi dengan acara ini karena dihadiri oleh tokoh-tokoh yang luar biasa.
“Karena dihadiri oleh tokoh-tokoh yang luar biasa, tentunya membuat kita untuk selalu termotivasi dalam mencontoh pemikiran-pemikiran Gus Dur dan mengenal Gus Dur lebih dalam lagi, terlebih acara ini didatangi langsug oleh putri Gus Dur, Ibu Alissa Wahid,” ujarnya.
Ketua Pelaksana Muhtar berharap, pemikiran-pemikiran Gus Dur bisa dicontoh dengan baik oleh generasi muda.
Penulis : Fatma & Alfi
Editor : Ika Amiliya Nurhidayah
Tim Liputan : Titi, Fatma & Alfi.






