lpmalmizan – Dewan Kesenian dan Budaya (DKB) Kota Pekalongan melalui Komite Seni Tradisi sukses menyelenggarakan Pertunjukan Reog Batik di Gapura Nusantara pada Jumat (12/6) malam. Acara kolaboratif ini sengaja digelar sebagai langkah nyata untuk nguri-uri (melestarikan) kembali kebudayaan asli lokal agar tidak punah ditelan zaman.
Dalam sambutan pembukaannya, Pengurus DKB Kota Pekalongan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergerak bersama menjaga aset budaya daerah. Ia menegaskan bahwa kekuatan identitas Pekalongan ada pada pelestarian tradisinya.
“Mari masyarakat Pekalongan dukung bersama Dewan Kesenian dan Budaya Kota Pekalongan. Mari suarakan Kota Pekalongan dengan budaya Kota Pekalongan yang menjadi budaya kita semua, harus bangga dengan budaya sendiri,” serunya dalam orasinya di hadapan ratusan pasang mata yang hadir.
Meskipun baru pertama kali diadakan pasca pelantikan pengurus dengan nomenklatur baru, pentas seni ini berhasil menarik antusiasme ratusan penonton dari berbagai kalangan usia. Acara ini menyajikan konsep kolaborasi yang melibatkan sedikitnya 7 komunitas kesenian di wilayah Pekalongan, mulai dari kesenian Reog, Kuntulan, Barongan, Jaran Geribik, Sintren, hingga Rodat.
Nur Ali Hakim, Komite Seni Tradisi Dewan Kesenian dan Budaya Kota Pekalongan, menyampaikan bahwa esensi dari kegiatan ini adalah menyatukan berbagai elemen seni lokal dalam satu wadah.
“Pentas malam hari ini adalah pentas kolaborasi. Jadi ini bukan murni reog yang sesungguhnya, tapi perpaduan antara beberapa komunitas yang ada di Kota Pekalongan untuk tergabung dalam satu wadah reog,” ujar Nur Ali saat ditemui di lokasi acara.
Kegembiraan penonton malam itu juga dirasakan oleh Alfan, salah satu warga yang hadir menyaksikan pertunjukan. Ia mengaku sangat mengapresiasi inisiatif Dewan Kesenian dan berharap agenda seperti ini bisa dirutinkan sebagai hiburan rakyat sekaligus edukasi budaya.
Namun, sebagai pengunjung, Alfan juga memberikan catatan kritis terkait jalannya acara, terutama mengenai faktor keselamatan penonton.
“Acaranya bagus sekali dan harapannya bisa rutin diadakan. Tapi mungkin ke depan panitia bisa lebih prepare lagi terkait keamanan. Karena penontonnya banyak anak-anak, sedangkan di beberapa sesi pertunjukan tadi menggunakan atraksi api. Jarak aman penonton harus lebih diperhatikan,” tutur Alfan memberikan masukan.
Menutup keterangannya, Nur Ali Hakim menambahkan bahwa masukan terkait keselamatan dan optimalisasi ruang publik seperti Gapura Nusantara memang menjadi fokus mereka ke depan. Mengingat Kota Pekalongan masih minim destinasi wisata buatan, kawasan tersebut akan terus dikelola agar makin menarik, interaktif, dan aman bagi para penikmat seni.
Nur Ali berharap jajaran pemerintah serta masyarakat dapat berkolaborasi dan bekerjasama dalam melestarikan budaya dan seni.
“Harapan kami, untuk seni budaya ini, baik dari pemerintah maupun masyarakat, harus bisa menguri-uri dan melestarikan,” pungkas Nur Ali.
Penulis: Muhammad Zakki Musyafa
Tim liputan: Zakki & Bagas
Editor: Achmad Bagas Pranata






