lpmalmizan – Terdayuh~~
Dahulu, bukit-bukit itu adalah
benteng hijau yang berdiri dengan gagah perkasa
Tempat akar-akar tua
saling mengunci rahsa
Mendekap erat tanah
agar tak lari dari rumahnya
Mereka bernapas
menyaring hujan menjadi sempena,
bagi nyawa di bawahnya
Tak lama datanglah nyanyian tajam,
Suara gergaji
yang merobek, sunyi di jantung rimba
Satu demi satu
Sang pelindung rebah ke tanah,
Dijual demi angka-angka,
menyisakan bukit yang telanjang dan gelabah
Kini,
Tak ada lagi tangan kayu
yang menahan air
Ketika langit mulai bertumpahan,
Batin ini terasa gundah
Bumi tak lagi punya takdir selain cair
Tanah yang dulu diam
Tiba-tiba bergerak
mencari mangsa,
meluncur deras,
mengubur mimpi dan tawa manusia
Banjir bandang datang
membawa dendam dari hulu
Lumpur pekat menerjang,
menyapu gubuk dan rindu,
dari tiga zona dengan serentak ia datangi
Kayu-kayu mati,
yang dulu ditebang dengan nafsu,
Kini hanyut menghantam,
menjadi senjata pemusnah yang membisu
Lihatlah raut muka yang kehilangan,
Di bawah tumpukan
lumpur yang terasa dingin
Inilah upeti yang harus dibayar mahal,
Atas keserakah yang menganggap alam
hanyalah modal
Bencana adalah Takdir
Bencana ini tidak semata
datang dari langit
Ia lahir dari setiap gerigi gergaji
yang memutus urat cinta
Antara manusi, satwa dan hutan
yang kini tinggal cerita
Penulis: Siska Sephia






