• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Kambang Muhammad Syahdan by Kambang Muhammad Syahdan
24 Agustus 2026
in Analisis, Review
0
Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan
Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 379 halaman
ISBN: 978-602-424-694-5
Genre: Novel Sejarah, Fiksi

lpmalmizan – Laut Bercerita merupakan novel karya Leila S. Chudori yang diterbitkan pada tahun 2017. Novel ini mengambil latar Indonesia pada masa Orde Baru dan menceritakan kehidupan sekelompok mahasiswa yang berani menyuarakan pendapat di tengah keadaan politik yang penuh tekanan.

Meskipun mengangkat sejarah karena peristiwa yang terjadi disampaikan melalui kehidupan para tokohnya. Cerita berpusat pada Biru Laut Wibisana, seorang mahasiswa yang aktif dalam kegiatan pergerakan bersama teman – temannya.

Laut dan teman – temannya memiliki keresahan terhadap keadaan di sekitar mereka dan memilih memperjuangkan apa yang mereka yakini. Di luar kegiatan tersebut, Laut juga merupakan seorang anak dan kakak yang dekat dengan keluarganya, terutama dengan adiknya, Asmara Jati.

Keadaan berubah ketika Laut dan beberapa teman – temannya ditangkap. Mereka dibawa ke tempat yang tidak diketahui dan mengalami penyiksaan.

Setelah itu, keluarga Laut tidak lagi mendapatkan kabar mengenai keberadaannya. Cerita kemudian berpindah ke sudut pandang Asmara Jati yang bersama keluarganya berusaha mencari informasi tentang Laut.

ArtikelTerkait

Penuntut Umum KPK Hadirkan 11 Saksi dalam Sidang Ketiga Pembuktian Mantan Bupati Pekalongan

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

Dari sudut pandang Asmara, pembaca dapat melihat bagaimana keluarga menghadapi kehilangan dan ketidakpastian. Mereka terus menunggu dan berharap Laut akan kembali, meskipun tidak mengetahui dengan pasti apa yang terjadi kepadanya.

Bagian ini membuat cerita tidak hanya membahas perjuangan para aktivis, tetapi juga kehidupan orang – orang yang harus menerima dampak dari hilangnya seseorang. Setelah membaca bagian ini, yang paling terasa adalah rasa sedih dan sesak karena keluarga Laut harus menjalani penantian tanpa mengetahui dengan pasti apa yang terjadi kepadanya.

Ada beberapa bagian yang membuat saya berhenti sejenak karena ceritanya terasa cukup dekat dengan perasaan manusia ketika kehilangan seseorang. Bukan hanya kehilangan orangnya, tetapi juga kehilangan kepastian tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Selain rasa sedih, cerita ini juga menimbulkan rasa marah ketika membaca perlakuan yang diterima Laut dan teman – temannya. Mereka berani menyampaikan pendapat, tetapi keberanian tersebut justru membawa mereka pada kekerasan dan ketidakpastian.

Cerita seperti ini membuat peristiwa sejarah terasa lebih dekat karena pembaca dapat melihat dampaknya melalui kehidupan manusia. Kelebihan novel ini terletak pada penggambaran tokoh dan hubungan antartokohnya.

Laut tidak hanya ditampilkan sebagai aktivis, tetapi juga sebagai anak, kakak, dan sahabat. Hal tersebut membuat tokohnya terasa lebih nyata.

Penggunaan dua sudut pandang juga membuat melihat kejadian dari sisi Laut dan keluarga yang ditinggalkan. Bahasa yang digunakan cukup mudah dipahami, tetapi tetap mampu membangun suasana tegang dan emosional.

Latar sejarahnya juga teras lebih dekat karena disampaikan melalui pengalaman tokoh. Kekurangannya, beberapa bagian terasa cukup berat karena menggambarkan penyiksaan dan penculikan.

Alurnya juga terkadang berjalan lambat karena penulis banyak menceritakan kehidupan para tokoh sebelum konflik berkembang. Jumlah tokoh yang cukup banyak membuat pembaca perlu mengingat hubungan antartokoh agar tidak bingung.

Pada akhirnya, Laut Bercerita bukan hanya cerita tentang perjuangan mahasiswa pada masa Orde Baru, tetapi juga tentang keluarga, persahabtan, keberanian, dan kehilangan. Novel ini mengingatkan bahwa di balik sebuah peristiwa sejarah terdapat manusia yang memiliki keluarga sahabat, sahabat, harapan, dan kehidupan yang ingin dijalani. Karena itu, kisah mereka penting untuk terus diingat dan tidak begitu saja dilupakan.

 

Penulis: Kambang Muhammad Syahdan

Editor: Yunita Alfa Nikmah

Tags: #Biru#Lautbercerita#LPM Al Mizan#UINGusdur
Kambang Muhammad Syahdan

Kambang Muhammad Syahdan

Related Posts

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

23 Agustus 2026
Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

23 Agustus 2026
Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

20 Agustus 2026
Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

14 Agustus 2026
Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

12 Agustus 2026
Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

1 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In