Dakwah adalah seni menyampaikan ajaran agama dengan bijaksana dan penuh hikmah. Dalam hal ini, seorang pendakwah memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menyampaikan pesan agama, tetapi juga menjadi teladan dalam perilaku dan ucapan. Peristiwa yang melibatkan Gus Miftah, di mana ia bercanda dengan nada kasar kepada seorang pedagang es teh dalam sebuah pengajian di Magelang, memicu kontroversi tentang batasan humor dalam dakwah publik.
Gus Miftah, atau Miftah Maulana Habiburrahman, adalah sosok yang dikenal dengan pendekatan dakwahnya yang unik. Memulai dakwah sejak usia 21 tahun, ia menyasar komunitas yang seringkali dianggap terpinggirkan, seperti pekerja dunia malam dan anak jalanan. Keberanian untuk menjangkau mereka yang berada di luar lingkaran dakwah konvensional membuatnya mendapatkan pengakuan, tetapi juga sering memicu kritik dari kalangan konservatif.
Langkah-langkahnya, seperti memberikan ceramah di klub malam, mendampingi mualaf terkenal seperti Deddy Corbuzier, hingga menghadiri peresmian gereja, menonjolkan pendekatan inklusif yang ia anggap sebagai bagian dari moderasi beragama. Namun, gaya dakwah ini juga membuatnya berada dalam sorotan tajam, terutama ketika ucapan atau tindakannya dianggap melampaui batas.
Humor seringkali menjadi alat efektif dalam dakwah untuk mencairkan suasana dan menarik perhatian audiens. Gus Miftah sendiri adalah pendakwah yang kerap menggunakan humor untuk membangun kedekatan dengan jamaahnya. Namun, seperti halnya pedang bermata dua, humor yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan kesalahpahaman dan melukai perasaan orang lain.
Dalam insiden Magelang, candaan Gus Miftah kepada pedagang es teh, mencerminkan kurangnya sensitivitas terhadap kondisi individu tersebut. Pedagang es teh yang sedang mencari nafkah halal di tengah kerumunan jamaah seharusnya mendapat penghormatan, bukan menjadi subjek humor yang berpotensi merendahkan.
Ketika seorang pendakwah berbicara di ruang publik, setiap kata yang diucapkan memiliki dampak besar. Dalam masyarakat yang semakin kritis, ucapan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai etika dapat memicu reaksi keras. Seperti yang disampaikan Ketua MUI, KH Cholil Nafis, humor yang tidak bijaksana, apalagi di hadapan publik, dapat merusak citra dakwah dan melunturkan nilai keteladanan yang seharusnya dijaga.
Gus Miftah bukanlah sosok yang asing dengan kontroversi. Sejak awal kiprahnya, ia kerap berada di tengah perdebatan. Mulai dari ceramahnya di klub malam, sikapnya terhadap pelarangan wayang di pesantren, hingga pernyataannya terkait kebijakan penggunaan speaker masjid, Gus Miftah menunjukkan keberanian untuk bersikap dan berbicara meskipun tahu akan menuai kritik.
Namun, rangkaian kontroversi ini menimbulkan pertanyaan tentang pendekatan yang Ia gunakan. Apakah keberanian tersebut membantu dakwah atau justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman yang kontra produktif? Sebagai seorang tokoh agama yang juga dipercaya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Moderasi dan Toleransi Beragama, setiap tindakannya berada dalam pengawasan publik.
Insiden di Magelang, misalnya, menyoroti bagaimana humor yang tidak terkontrol dapat berdampak negatif pada citra seorang pendakwah. Meskipun Gus Miftah mencoba menjelaskan maksudnya melalui kisah tasawuf tentang doa pedagang es teh dan bakso, konteks candaan tersebut tetap menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.
Dakwah tidak hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi juga tentang bagaimana pesan tersebut diterima oleh audiens. Dalam era digital, di mana setiap pernyataan dapat dengan cepat menjadi viral, pendakwah dituntut untuk lebih bijak dalam memilih kata-kata. Humor yang disampaikan di ruang publik harus mempertimbangkan audiens yang heterogen, yang mungkin memiliki persepsi berbeda terhadap suatu candaan.
Gus Miftah, dengan segala pengaruh dan kontroversinya, tetap menjadi figur penting dalam dunia dakwah modern. Pendekatannya yang inklusif dan keberaniannya untuk menjangkau semua lapisan masyarakat adalah langkah progresif yang patut diapresiasi. Namun, sebagai tokoh publik, ia juga perlu lebih berhati-hati dalam bertindak dan berbicara agar tidak memberikan kesan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang Ia sampaikan.
Kepercayaan masyarakat terhadap seorang pendakwah tidak hanya dibangun dari isi ceramah, tetapi juga dari perilaku dan etika yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Figur publik seperti Gus Miftah harus menyadari bahwa setiap tindakannya akan dijadikan acuan oleh jamaah dan masyarakat luas. Oleh karena itu, menjaga sensitivitas dan etika dalam berdakwah adalah hal yang mutlak.
Humor tetap dapat menjadi bagian dari dakwah, tetapi harus digunakan dengan bijaksana dan penuh pertimbangan. Dakwah yang baik adalah dakwah yang tidak hanya mencerahkan pikiran, tetapi juga memberikan keteladanan dalam perilaku. Dengan menjaga keseimbangan ini, seorang pendakwah dapat terus menyampaikan pesan agama secara efektif tanpa mengorbankan nilai-nilai yang ia perjuangkan.
Pada akhirnya, insiden yang melibatkan Gus Miftah adalah pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga batasan dalam humor, terutama ketika berbicara di ruang publik. Sebagai pendakwah yang dikenal luas, Gus Miftah memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan, tidak hanya dalam menyampaikan pesan agama tetapi juga dalam menjaga etika dan sensitivitas terhadap sesama.
Penulis: Ibnu Salim
Editor: Dina Fitriana






