lpmalmizan – Hujan,
yang datang begitu deras di bawah langit malamnya,
tak luput dengan petir yang menyambar.
Hujan,
aktivitas manusia mulai terhenti karena kedatanganmu,
seperti tangisan dikala aku sedih.
Hujan,
mereka takut akan musibah darimu,
takut seakan-akan akan terkena banjir,
dan sedikit demi sedikit tempat singgahnya pun mulai tenggelam karenamu.
Namun, pada hari itu, tepat pukul delapan malam,
aku pulang usai agenda,
menyusuri jalanan sepi tanpa cahaya.
Hujan disertai kilat menyambar,
menyisakan getar takut di dada.
Bukan karena makhluk tak kasat mata ataupun begal,
alih-alih aku menghindar karena petir,
melainkan aku menerjangnya dengan sangat berani,
dengan kilatan petir di depanku.
Menakjubkan.
Kala itu, lampu-lampu di sekelilingku padam,
barangkali ulah petir yang membuat malam tampak suram dan mencekam.
Namun tak mengapa, aku tetap melangkah,
menembus genangan banjir,
di antara lalu kendaraan yang bergerak tak beraturan.
Hujan, kedatanganmu bisa menjadi berkah atau bencana,
namun syukur tetap dipanjatkan, sebab engkau karunia Tuhan.
Meski begitu, kerap timbul tanya;
“engkau kehendak Pencipta atau akibat ulah manusia?”
Penulis: Firdasari Desfiani






