• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Kasus Timothy dan Luka yang Tak Terlihat di Dunia Kampus

Amarul Hakim by Amarul Hakim
29 Oktober 2025
in Artikel, Opini
0
Kasus Timothy dan Luka yang Tak Terlihat di Dunia Kampus

Sumber: Okezone Edukasi

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Belakangan ini, nama Timothy Anugerah Saputra (22) menjadi sorotan nasional setelah kabar kepergiannya menggemparkan dunia akademik. Mahasiswa sosiologi angkatan 2022 di Universitas Udayana (UNUD), Bali ini ditemukan meninggal dunia pada 15 Oktober 2025 lalu setelah diduga melompat dari gedung fakultasnya. Kasusnya memunculkan rasa empati sekaligus kemarahan terhadap budaya kampus yang selama ini dianggap “dewasa”, namun ternyata masih menyimpan perilaku yang jauh dari etika di balik tembok intelektualitas.

Kampus seharusnya menjadi tempat tumbuh dan tempat mahasiswa bisa berpikir kritis, belajar etika, dan saling menghargai satu sama lain. Namun kasus Timothy menunjukkan bahwa lingkungan akademik tidak otomatis bebas dari kekerasan sosial. Dalam kasus ini, ditemukan bukti berupa tangkapan layar grup WhatsApp yang memperlihatkan sejumlah mahasiswa mengejek Timothy setelah kematiannya.

Bullying di lingkungan kampus kerap muncul dalam bentuk yang tidak terlihat jelas, seperti ejekan yang dibungkus candaan, tindakan pengucilan, atau tekanan sosial dari senior atau anggota organisasi mahasiswa. Banyak korban akhirnya memilih tetap diam karena takut dianggap lemah atau terlalu sensitif. Di sisi lain, banyak mahasiswa seolah masih memegang pola pikir lama, bahwa “senior berhak memperlakukan junior demi pembentukan mental”, atau bahwa “candaan merendahkan orang adalah bagian dari orientasi”. Budaya semacam ini berbahaya karena secara tidak langsung menormalisasi kekerasan psikologis.

Dalam kasus Timothy, yang paling menyedihkan bukan luka fisik meski dilaporkan mengalami cedera akibat terjun dari lantai gedung. Tetapi luka terbesarnya mungkin adalah rasa percaya dirinya yang hancur, rasa tak berdaya, hingga tekanan mental yang membebaninya kondisi yang kemudian makin diperparah dengan ejekan yang terus beredar. Banyak korban bullying di kampus yang akhirnya menutup diri, kehilangan motivasi untuk belajar, bahkan ada yang mengalami depresi. Dalam hal ini, pihak kampus telah menjatuhkan sanksi terhadap enam mahasiswa yang terlibat dalam percakapan ejekan, mereka dijatuhi nilai D di beberapa mata kuliah dan dicopot dari jabatan organisasi kemahasiswaan.

Ironisnya, lembaga pendidikan sering kali baru bereaksi setelah kasusnya viral ke publik. Padahal, langkah pencegahan jauh lebih penting daripada sanksi belakangan. Misalnya, kementerian telah menegaskan bahwa lingkungan kampus harus bebas dari bullying dan kekerasan, dengan payung hukum yaitu Permendikbudristek No. 55 Tahun 2024 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi. Namun kita masih melihat bahwa implementasi di lapangan belum optimal.

Kampus harus berani melakukan introspeksi. Apakah sistemnya benar-benar melindungi mahasiswa dari bentuk kekerasan sosial? Apakah tersedia ruang aman bagi korban untuk melapor tanpa takut dibalas? Apakah dosen dan pihak birokrasi kampus aktif membangun budaya empati dan kepedulian? Dalam kasus Timothy, beberapa pihak seperti kementerian dan komisi DPR juga ikut menyoroti dan meminta penanganan tuntas.

ArtikelTerkait

Ampera Gelar Panggung Rakyat Bentuk Kepedulian terhadap Sosial

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Penuntut Umum KPK Hadirkan 11 Saksi dalam Sidang Ketiga Pembuktian Mantan Bupati Pekalongan

Kasus Timothy seharusnya menjadi peluang perubahan. Kasus ini bukan hanya kisah tragis satu mahasiswa, melainkan cermin keras bagi seluruh komunitas akademik Indonesia. Kita tidak boleh lagi membiarkan “candaan” menjadi kedok kekerasan, atau menganggap “mental kuat” sebagai pembenaran untuk menoleransi perlakuan yang tidak manusiawi.

Kualitas sebuah kampus tidak ditentukan dari seberapa besar tekanannya terhadap mahasiswa, tapi dari seberapa besar dukungannya terhadap tumbuhnya manusia yang utuh dan cerdas, beretika, serta berempati. Setiap kampus harus belajar dari kasus ini agar tak ada lagi “Timothy” berikutnya.

Lalu, pertanyaannya apakah di UIN Gus Dur sendiri sudah benar-benar bebas dari perilaku bullying? Atau justru masih ada yang terjadi diam-diam di balik candaan dan hierarki organisasi? Pihak kampus seharusnya tidak hanya sibuk menunggu kasus mencuat ke publik baru bereaksi, tapi benar-benar hadir sebagai pelindung dan pendamping mahasiswa.

Penulis: Amarul Hakim

Editor: Atika Puspita Rini.

Tags: #bullying#kasustimothy#LPM Al Mizan
Amarul Hakim

Amarul Hakim

Related Posts

Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

20 Agustus 2026
Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

1 Agustus 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In