• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Diskusi Konfigurasi Bahas Teori Psikoanalisis

Ahmad Masruri by Ahmad Masruri
14 April 2018
in Analisis, Opini
0
Diskusi Konfigurasi Bahas Teori Psikoanalisis

Dok. Personality Dede Nurhayati WordPress.com

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

Ceritanya aku pas hari kamis setelah diskusi film ‘Jakarta Undercover,aku bicara ngalor ngidul sama dua orang perempuan. Yang satu namanya Lia dan satunya lagi  namanya Ana. Nah yang paling aku senang adalah ketika aku, Lia dan Ana bahas tentang teorinya Sigmund Freud. Namannya teori Psikoanalisis begitu kata anak-anak jurusan BPI (Bimbingan Konseling Islam) IAIN Pekalongan, dan mungkin seluruh anak-anak jurusan BPI se-Indonesia tahu itu. Mungkin.

Menurut pemahamanku tentang teori itu adalah seorang harus berani menyelam ke dasar gunung es seperti yang dianalogikan oleh S.Freud sendiri dalam penggambarannya. Okelah itu cuma sebuah penggambaran. Menurutku sendiri agar mudah memahaminnya aku ganti jadi lautan samudra. Jadi,Ego ada di atas permukaan lautan samudra. Superego ada di pertengahan permukaan, berarti agak menyelam ke dalam dari permukaan. Sedangkan ID berada dibagian paling dalam dari lautan samudra.

Kalau boleh dihubungkan pendapatnya Budayawan SujiwoTedjo bisa dikatakan “mendalam karena tak punya dasar”.
Nah pada tataran inilah pemahamanku tentang teorinya S freud (baca:Psikoanalisis). Jadi menurutku adanya orang tidak mampu setia, itu karena dia tidak mau menyelam kedalam lautan samudra itu sehingga mudah selingkuh atau mudah ditikung oleh pelakor (bahasa populernya). Karena di permukaan lautan samudra,kan gelombang ombaknya besar dan kadang terjadi badai ganas.

Nah itu yang aku maksud kenapa teman-temanku begitu mudahnya untuk menduakan (baca:selingkuh). Hmmm..jawabannya simpel,karena tidak mau menyelam ke dalam lautan samudra. Mengapa? Karena di dalam kedalaman lautan samudra, terdapat ketenangan yang tidak bisa didapatkan dipermukaan yang selalu bergerak dinamis karena sapuan ombak kesana-kemari. Maka menurutku, agar langgeng menjalin hubungan, mestilah dua orang sama-sama menyelam ke dalam samudra yang dalam.

Tapi Lia yang jadi kawan diskusi sore itu berbeda pemahamannya denganku. Menurut dia kira-kira begini “Nggak Bad, ego itu realitas, superego itu moralitas dan id itu irrealitas. Bisa dipahami id itu keinginan dasar manusia tapi mesti dikaji dulu lewat ego (realitasnya). Jadi nanti bisa ditemukan yang namanya moralitas dan moralitas itu superego. Maksudnya sebagai jembatan antara ego dan id begitu”. Aku mikir, kok beda ya sama pemahamanku atas teori Psikoanalisis ini. Hmmm..

Lalu ditengah kebingungan itu aku kaitkan dengan kasus banyaknya teman-teman yang selingkuh tadi. Sepemahamanku berarti ‘selingkuh’ itu keinginan dasar setiap manusia yang mesti dikaji dulu lewat realitas yang ada disebabkan datangnya cinta yang lain. Setelah itu tercapailah sebuah moralitas yang bijak karena berhasil menyeimbangkan antara keinginan dasar dan kenyataan. Terus aku lanjutin lagi bahasannya tentang keinginan dasar itu tentang ‘cinta’.

ArtikelTerkait

Bengawan Solo

Ketika Hukum Takut pada Kekuasaan: Keadilan untuk Argo Erico

Kenang Sosok Gus Dur Lewat Panggung Budaya

Menurut temanku Lia, cinta itu keinginan dasar yang mesti dipertimbangkan dulu apakah seseorang itu pantas dicintai atau tidak. Dalam arti ketika kita mencintai seseorang, adalah karena pertimbangan-pertimbangan kenyataan yang ada pada diri seseorang. Tapi setelah mendengar pendapat itu dari Lia aku tanya,“Mbak Lia berarti anda tidak tulus dong dalam mencintai seseorang? Gimana itu?” begitu tanyaku.

Terus dia jawab,“Ya kembali lagi ke teori tadi. Ego,Superego dan id. Ketika mencintai seseorang ya otomatis karena kita mempertimbangkan apa yang ada didalam diri seseorang itu”. Terus aku nanya lagi,”Kalau begitu Mbak Lia nggak tulus dong dalam mencintai. Bukankah dalam mencintai kita mesti tulus?” MbakLia bingung,karena ia mendasarkan konsepnya padahal yang disebut ‘realitas’. Sedang aku sendiri lebih kepada ‘irrealitas’. Yang kalau bercinta ya mesti tak usah mempertimbangkan realitas-realitas diri seorang untuk dicintai. Nah itu namannya ‘tulus’ dalam arti yang sebenarnya sesuai teori psikoanalisis.

Hmmm…tapi aku bingung sebenarnya gimana sih pemahaman konsep Psikoanalisis itu sendiri apakah seperti pemahaman kawanku, atau aku. Gila! Aku teringat lagunya NikeArdila, yang liriknya ‘Ku tak akan  bersuara… walau dirimu kekurangan…na na na naa. Disitu substansi muatan katanya sangat dalam, dan sangat berkonfigurasi dengan teori Psikoanalisis. Karena si Nike ini, menceritakan dirinya tulus dalam  mencintai, dan dengan tidak mempertimbangkan apa-apa yang ada didalam diri seseorang karena dia mendalam. Kalau mencintai karena pertimbangan realitas, rasanya aku kok gimana gitu, nggak relevan dan nggak ilmiah.

Bukankah ‘iman’ itu mendalam? Tapi kalau lihat pendapatnya S.Freud sendiri, dalam buku karangannya Hans Kung judulnya “Ateisme Sigmund Freud”. Katanya, ritual-ritual keagamaan yang dilakukan oleh kaum agamawan merupakan ‘ekspresi kegilaan’ seseorang. Mengapa? Karena si Doi (baca:Sigmund Freud) menganalisis perilaku kaum agamawan dengan teorinya yang mencoba memahami naluri dasar kemanusiaan paling mendasar. Dimana permasalahan kehidupan yang sedemikian complicated, yang mau tidak mau berpijak dan kembali pada sesuatu yang paling logis di kehidupan ini,yaitu hal diluar nalar manusia. Ambil contoh putus cinta, maka hal yang semestinnya diusahakan adalah berdoa, sebab, Tuhan sendiri bilang Ud’unii astajiblakum.

Maka sangat logis menurutku kalau si Doi berpendapat seperti itu, mengingat ikhlasnya hati sering kali disalah arti (meminjam liriknya laguMalaysia, Salam Gerimis). Aku sendiri jadi paham lewat pengalaman teman-teman yang diputus cinta padahal sudah memberikan jiwa raganya untuk seseorang. Daripada bunuh diri ditinggal my honey, mending berdoa kepada Tuhan. Minta diberi pacar atau jodoh yang rupawan meski realitas tidak mendukung blas. Dan termasuk orang gila menurut Sigmund Freud karena itu merupakan ‘ekspresi kegilaan’ seseorang. Jangan marah ya…aku juga gila kok..

Tags: BPIiainpekalonganlpmalmizanpersmahasiswapsikoanalisis
Ahmad Masruri

Ahmad Masruri

Related Posts

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026
Mengurai Kontras antara People Pleasing dan Self Love

Mengurai Kontras antara People Pleasing dan Self Love

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In