lpmalmizan – Zannubah Ariffah Chafsoh atau yang kerap disapa Yenny Wahid, menyampaikan pentingnya tiga nilai fondasi utama atau 3 Core Values Foundation yang harus dipegang teguh oleh mahasiswa agar mampu terus maju dan meraih kesuksesan di masa depan. Dalam materi Moralitas Humanis dan Pelestarian Budaya kepada ribuan mahasiswa baru UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan di Gedung Student Center, Rabu (19/8/2026).
Nilai pertama yang disampaikan adalah Equality (Kesetaraan), yakni prinsip bahwa semua orang memiliki kedudukan yang setara, baik sesama muslim maupun non-muslim. Yenny mengingatkan bahwa kesetaraan ini menjadi dasar penting dalam membangun relasi sosial yang sehat di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Nilai kedua adalah Tolerance (Toleransi), yaitu sikap memberi ruang kepada orang lain yang berbeda keyakinan maupun prinsip hidup untuk menjalani kehidupannya masing-masing. Menurutnya, toleransi bukan sekadar membiarkan perbedaan ada, melainkan aktif menghargai eksistensi perbedaan tersebut.
Nilai ketiga adalah Leadership (Kepemimpinan), ditegaskan Yenny sebagai prinsip bahwa setiap individu adalah pemimpin, baik bagi dirinya sendiri maupun di lingkungan masyarakat. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak menunggu tindakan dari pemerintah, melainkan mulai bergerak dan berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.
Yenny Wahid melanjutkan bahwa ketiga nilai tersebut perlu diwujudkan melalui lima aksi nyata yang ia sebut sebagai Try, Learn, Question, Solve, Stand.
Aksi pertama mengajak mahasiswa untuk berani mengambil risiko dan mencoba hal baru tanpa takut gagal. Yenny menyoroti bahwa salah satu tantangan generasi Z saat ini adalah kecenderungan perfeksionis atau menuntut kesempurnaan dalam segala hal, yang justru dapat menghambat keberanian untuk mencoba. Aksi kedua menekankan pentingnya semangat belajar dan membaca buku sebanyak-banyaknya sebagai modal memperluas wawasan.
Selanjutnya Yenny memaparkan aksi ketiga yaitu mendorong mahasiswa untuk selalu mempertanyakan kondisi di sekitar mereka, termasuk apa yang perlu dilakukan masyarakat untuk mengatasi persoalan lingkungan, serta tidak menelan informasi secara mentah-mentah tanpa proses berpikir kritis. Aksi ketiga mengajak mahasiswa untuk berupaya mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi.
Pada pemaparan terakhir menjadi puncak dari keempat sikap sebelumnya, yaitu keberanian untuk membela, baik membela diri, membela kejujuran, maupun berjuang untuk kepentingan masyarakat luas.
“Saya harap bahwa para generasi muda bisa melanjutkan perjuangan Gusdur ke depan menjadi orang orang yang intelektual, humanis, mau mengayomi sesama, dan bisa menyumbangkan kontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara,” tutur Yenny.
Materi tersebut mendapat sambutan positif dari perwakilan Gusdurian. Salah satunya Maria Rosalina, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya membaca untuk memperluas wawasan.
“Seperti tadi yang dikatakan oleh Ibu Yenny tadi bahwa kita harus rajin membaca karena kalau kita membaca menjadikan wawasan lebih luas. Ibu Yenny juga mengatakan bahwa kita harus menerapkan tiga prinsip yaitu kesetaraan, toleransi, dan kepemimpinan agar selalu dipegang,” ujar Maria.
Penulis: Nahla Asyfiyah
Tim liputan: Nahla, Rara, Alis, Muslimah
Editor: Yunita Alfa Nikmah






