lpmalmizan – Aku memungut potongan-potongan kecil
dari sikap, tatapan, jeda, dan kata-kata,
lalu merangkainya di dalam kepala
menjadi ribuan kemungkinan yang menyakitkan.
Aku bertanya pada hal-hal yang tak memiliki suara,
mencari jawaban dari diam
yang tak pernah menjelaskan apa-apa.
Betapa menyedihkannya,
ketika sesuatu yang belum terjadi
mampu membuatku berduka
seolah-olah telah kehilangan segalanya.
Hancur sehancur-hancurnya.
Aku membenci bagaimana pikiranku
mampu mengubah satu kalimat sederhana
menjadi badai,
satu keheningan menjadi pertanda,
dan satu perubahan kecil
menjadi akhir dari segala sesuatu.
Aku ingin berhenti berpikir,
tetapi bagaimana caranya membungkam sesuatu
yang tinggal di dalam kepalaku sendiri?
Aku lelah harus terus menebak-nebak,
lelah mempertanyakan perasaan orang lain,
lelah mempertanyakan diriku sendiri,
lelah merasa tidak pernah cukup yakin
dengan apa pun.
Pada akhirnya, aku hanya terbaring
bersama ribuan kemungkinan,
memeluk kecemasan yang kubenci
sekaligus tak mampu kulepaskan,
berharap esok pagi pikiranku
akan sedikit lebih sunyi.
Namun aku tahu,
mungkin ketika matahari kembali terbit,
aku akan kembali tersenyum seperti biasa—
sementara di dalam kepala,
perang itu belum juga selesai…
Penulis: Ainun Naimah






