lpmalmizan – Dalam penyelenggaraan teater yang digelar oleh Komunitas Teater, Wonokerto Teater (WOT) Pelataran Blok Apsela, Desa Api-api, Kecamatan Wonokerto, Sabtu (25/10). Hal ini curi perhatian lewat teater yang dilakoni oleh pemuda-pemudi dan anak-anak Kabupaten Pekalongan khususnya desa Api-api, dan kisah yang lahir dari pesisir utara daerah Pekalongan Kota dengan tema “Donga Sesaji”.
Tak lupa juga teater ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Kancabudaya-Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X.
Pelaksanaan teater berawal dari sebuah ide dari ketua dan wakil dari Wonokerto Teater untuk bisa menghidupkan kembali seni teater ini yang sebelumnya mengalami vakum.
“Kami mendapatkan undangan pementasan, tapi sayang banget kok di luar kota. Kenapa tidak kembali ke kampung, sehingga memunculkan pemicu agar menjadi produktif”, tutur Rasulin selaku Penanggung Jawab Tim Produksi.
Acara yang dipersiapkan selama tiga bulan ini merupakan bagian dari kegiatan Temu Karya Teater WOT dengan menampilkan Teatrikal Puisi yang berjudul “Seberang Segoro” Kaum Miskin Kata, yang di sutradarai oleh Awang Setiawan dan selaku Ketua Wonokerto Teater (WOT). Cerita ini lahir dari kisah pesisir daerah Pekalongan Utara, di mana ombak sebagai sumber harapan.
Cerita yang diadaptasi dari cerita teater yang berjudul “Manta” yang pada awalnya akan dipentaskan pada tahun 2020, namun batal karena sedang masa pandemi.
“Jadi manta ini menceritakan tentang adanya hal negatif yang terjadi karena tidak mengindahkan etika unggah-ungguh atau melakukan hal kesembronoan”, jelas Rasulin selau Penanggung Jawab Tim Produksi.
Donga Sesaji dikisahkan jika melakukan sebuah unggah-ungguh dianggap membuang waktu dan uang. Dan ketika mencoba menghilangkan sebuah unggah-ungguh dan tradisi, maka muncullah benih-benih kesombongan di dalam hati manusia. Akibat kesombongan ini maka muncullah hal-hal negatif.
Dalam cerita Donga Sesaji, sutradara berusaha menyampaikan pesan untuk tidak mengabaikan unggah-ungguh maka akan timbul kesombongan. Tak hanya penampilan teater, acara ini menghadirkan Sarasehan Budaya bersama tokoh masyarakat dan pegiat seni. Salah satunya, Ribut Achwandi sebagai pegiat seni, mengganggap bahwa ini merupakan sebuah garapan yang serius untuk sekelas desa tetapi mampu menggarap hal yang hebat, belum lagi pemuda, dan anak-anak menjadi pemainnya.
“Tolong ketika anak-anak atau murid panjenengan mau belajar teater, didukung. Mergo teater akan menjadi semacam pendidikan yang membentuk karakter anak”, ungkapnya.
Penulis: Aisyah Khairina
Editor: Atika Puspita Rini.






