• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Waspada Fenomena Victim Blaming

Alfy Minatik by Alfy Minatik
4 Maret 2026
in Analisis, Opini
0
Waspada Fenomena Victim Blaming

Sumber: Detikhealth.com

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Fenomena victim blaming kembali mencuat dalam kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan UIN Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau), sebagaimana dilansir dari Liputan6.com, ketika Faradilla Ayu, mahasiswi Fakultas Syariah, menjadi korban penyerangan brutal saat hendak menjalani sidang proposal pada Kamis (26/2). Peristiwa ini diduga dipicu oleh persoalan asmara dan rasa sakit yang tak terkendali, namun alih-alih berfokus pada fakta bahwa tindakan tersebut merupakan kekerasan terencana, sebagian warganet justru mengalihkan perhatian pada kehidupan pribadi korban dan memunculkan narasi yang seolah membenarkan tindakan pelaku.

Kasus ini memuat dua framing yang bertolak belakang. Narasi awal yang beredar mengatakan bahwa Rehan (pelaku) sakit hati lantaran cintanya ditolak, sementara dari akun TikTok @_mzfrr yang diduga milik pelaku terungkap bahwa keduanya disebut sudah sedekat orang pacaran.

Setelah informasi tersebut menyebar, muncul komentar seperti “pantas saja” atau “wajar kalau marah” yang menunjukkan empati kepada pelaku dan secara tidak langsung membuka ruang pembenaran atas tindakan pembacokan tersebut. Terlepas dari latar belakang persoalan itu, kekerasan tetaplah kekerasan dan tidak dapat dibenarkan.

Kesiapan pelaku membawa kapak dan parang menunjukkan adanya unsur persiapan, bahkan berdasarkan keterangan pihak kepolisian, penganiayaan ini telah direncanakan sejak November 2025. Artinya, tindakan tersebut bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan kejahatan yang disengaja.

Kasus ini tentu tidak bisa disebut sebagai gotcha moment. Dalam budaya media sosial, gotcha moment sering dipahami sebagai momen ketika seseorang “tertangkap basah” melakukan kesalahan, lalu kesalahan itu dijadikan senjata untuk menjatuhkan atau membungkamnya.

Sayangnya, dalam peristiwa ini sebagian netizen justru menjadikan masa lalu korban sebagai bahan pembenaran atas kekerasan. Padahal di luar persoalan pribadi tersebut, pembacokan tetap merupakan tindak kriminal yang tidak bisa dilegitimasi karena kesalahan moral tidak pernah menjadi izin untuk melakukan kekerasan.

ArtikelTerkait

Cahaya Sendiri Meraung Gelap

LPM Al-Mizan Gelar Diklat Jurnalistik Dasar sebagai Tahap Awal Pengkaderan

Bahaya Mikroplastik, Mengapa Kita Harus Peduli?

Di era digital, kasus kekerasan yang dilatarbelakangi asmara kerap memunculkan fenomena victim blaming dan konsep “perfect victim”, yakni kecenderungan untuk hanya berempati kepada korban yang dianggap sempurna dan tanpa cela. Konsep ini membuat korban yang dinilai memiliki kesalahan moral justru diragukan bahkan kehilangan empati publik, sehingga perhatian bergeser dari tindak kekerasan ke persoalan pribadi yang disematkan kepadanya.

Masyarakat seharusnya tidak terjebak dalam cara pandang seperti ini. Apapun alasannya, mau itu pacar, gebetan, keluarga, bahkan suami istri, tindakan kekerasan tidak pernah dapat dibenarkan.

Selingkuh adalah urusan moral, sementara kekerasan adalah urusan kriminal keduanya tidak bisa dibentur-benturkan dan perasaan sakit hati yang mungkin valid tetap tidak dapat dijadikan alasan untuk menghilangkan nyawa. Ketika fokus kasus yang semestinya pada kekerasan justru teralihkan ke ranah pribadi korban, seolah-olah hilangnya nyawa menjadi sesuatu yang pantas. Apakah ini merupakan hal yang pantas untuk diwajarkan?

‎Jikalau kekerasan diwajarkan, lalu dengan apa kita menengahi suatu masalah? Apakah harus dengan nyawa? Apakah nyawa dihargai semurah itu? Tidak heran jika ke depan banyak kejadian seperti ini terjadi di kemudian hari, karena apa? Karena melihat banyaknya netizen yang mewajarkan dan membela tindakan kekerasan.

 

Penulis: Alfy Minatik

Editor: Naela Azkiya

Tags: #LPM Al Mizan#UINGusdur#victimblaming
Alfy Minatik

Alfy Minatik

Related Posts

Membuka Entrok Karya Okky Madasari

Membuka Entrok Karya Okky Madasari

19 September 2026
“Ya Namanya Juga Mahasiswa”: Ketika Begadang dan Stres Dinormalisasi

“Ya Namanya Juga Mahasiswa”: Ketika Begadang dan Stres Dinormalisasi

15 September 2026
Ketika Kamu Terus Dibuat Merasa Bersalah

Ketika Kamu Terus Dibuat Merasa Bersalah

7 September 2026
Resensi Film Ghost in the Cell, Ketika Napi Beringas Berlomba Jadi Orang Baik demi Bertahan Hidup

Resensi Film Ghost in the Cell, Ketika Napi Beringas Berlomba Jadi Orang Baik demi Bertahan Hidup

5 September 2026
Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

24 Agustus 2026
Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

23 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In