• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Seni Mengeluh di Sosial Media

LPM Al-Mizan by LPM Al-Mizan
27 Desember 2016
in Opini
0
Seni Mengeluh di Sosial Media
Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

Mengeluh adalah hal yang lumrah yang dilakukan oleh setiap individu di dunia ini.

Dalam berbagai keadaan manusia tidak pernah lepas untuk mengeluh karena memang sudah menjadi kodrat manusia untuk berkeluh kesah. Oleh sebab itu manusia memerlukan agama sebagai penentu kepada siapa ia akan mengeluh. Namun, agaknya kebiasaan mengeluh ini, kini telah menjadi sebuah trend seiring berkembangnya teknologi yang melahirkan berbagai sosial media yang memungkinkan manusia berkomunikasi dengan individu lain tanpa mengenal batasan negara.

Media sosial yang biasanya digunakan untuk mengeluh adalah facebook. Dilansir dari situs kominfo.go.id bahwa sebanyak 95% penduduk Indonesia menggunakan internet. Indonesia menempati urutan ke 4 sebagai pengguna facebook terbesar setelah USA dan Brazil.  Namun kebanyakan pengguna sosial media di Indonesia menggunakan sosial media sebagai tempat menuangkan keluh kesah mereka.  Hal semacam ini sering kali kita jumpai ketika membuka akun sosial media yang kita miliki. Namun mengapa banyak yang menggunakan sosial media untuk berkeluh kesah?

Adanya sosial media tak lain adalah untuk memudahkan manusia menjalin komunikasi tanpa mengenal batasan ruang, tempat dan waktu. Namun semakin berkembangnya sosial media, kini fungsinya pun mulai bergeser yakni sebagai media untuk berkeluh kesah atau ruang untuk saling me-narsis-kan diri. Mengeluh memang hal yang sangat lumrah yang dilakukan oleh setiap individu yang hidup didunia ini. Namun, jika mengeluh pada sosial media, misal facebook, twitter atau BBM apakah sosial media tersebut dapat memberikan solusi? Kebanyakan yang sering mengeluh melalui sosial media adalah mereka yang tidak memperoleh perhatian di dunia nyata sehingga tidak memiliki tempat untuk mencurahkan isi hati mereka. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri terhadap problem yang dihadapi di dunia nyata.

Namun dalam realita yang sekarang berkembang, sosial media menjadi ajang untuk mengeluhkan segala permasalahan atau perasaan hati si pemilik akun. Contohnya saat seseorang merasa sedang lelah setelah seharian kuliah maka ia akan menuliskan di halaman akunnya “Capekkkk” atau mungkin “Huft, jam segini baru pulang nguli.” Sering pula, “Pusiingg banget rasanya”. Hal tersebut bukanlah informasi yang penting yang perlu diberitahukan ke khalayak ramai. Memang biasanya ada beberapa teman yang akan merespon, namun jika hal tersebut dilakukan secara berlebihan, maka akan mendatangkan citra yang buruk bagi pemilik akun. Di era yang serba gadget  ini sosial media bukanlah hal yang asing. Namun, kebutuhan seosial media untuk mengungkapkan kekesalan, kegelisahan, kesedihan, atau hal lain yang mencerminkan sebuah keluhan, hal itu bukanlah yang penting untuk diketahui banyak orang. Ada hal sangat pribadi yang tidak perlu untuk diberitahukan kepada pengguna sosial media lain.

Jika terlalu banyak mengeluh di akun sosial media, yang ada justru membuat orang ilfil dengan si pelaku tersebut.

Sosial media merupakan benda mati yang tidak bisa memilah-milah mana yang perlu ia munculkan di beranda ataupun tidak. Namun, sebagai pengguna sosial media hendaknya digunakan sebaik mungkin. Contoh; untuk berjualan online (online shop) ataupun untuk saling bertukar informasi, bukan untuk mengeluh secara berlebihan hingga mengganggu kenyamanan pengguna sosial media lain.

Jika terlalu banyak mengeluh di akun sosial media, yang ada justru membuat orang ilfil dengan si pelaku tersebut. Untuk itu, jauh lebih baik memanfaatkan sarana kecanggihan teknologi untuk hal-hal yang positif. Apalagi untuk menyampaikan kebaikan, karena setiap kebaikan yang kita sampaikan akan bernilai pahala tersendiri.

ArtikelTerkait

Dorong Penghijauan Kampus di UIN Gus Dur, Menteri Agama Berikan Pembinaan Ekoteologi

Menteri Agama Resmikan Laboratorium Terpadu, UIN Gus Dur Perkuat Fasilitas Akademik

Aliansi Pemalang Gelar Aksi Damai di Simpang City Walk Pemalang, Suarakan Lima Tuntutan

Sebagai kampus yang menjunjung nilai keislaman tentu mengeluh pada tempat yang salah tidak dapat memberikan solusi. Sebaik-baiknya tempat untuk mengadu, mengeluh dan meminta adalah Allah SWT. Sesuai dengan firman-Nya,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat…” (QS. Al-Baqarah : 186). Allah sendiri yang mengatakannya bahwa Ia dekat dengan hamba-Nya. Maka sudah sepatutnya kita menjadikan Allah sebagai pendengar terbaik atas urusan-urusan kita. Wallahu ‘alam.

LPM Al-Mizan

LPM Al-Mizan

Related Posts

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026
Mengurai Kontras antara People Pleasing dan Self Love

Mengurai Kontras antara People Pleasing dan Self Love

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In