• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Ribut Fansite DAY6 Berujung Konflik K-Netz dan SEAblings di X

Ainun Naimah by Ainun Naimah
21 Februari 2026
in Analisis, Opini
0
Ribut Fansite DAY6 Berujung Konflik K-Netz dan SEAblings di X

Gambar: X @Gen777777

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Ribut fansite DAY6 di Kuala Lumpur pada (31/1/26) berbuntut panjang hingga memicu perseteruan lintas negara di linimasa X. Awalnya, keributan ini hanya soal pelanggaran aturan konser karena seorang fansite membawa kamera profesional berlensa besar dan menghalangi pandangan penonton lain.

Saat ditegur langsung, situasinya tidak juga membaik. Video dan fotonya kemudian viral di X. Wajah oknum tersebut tersebar, bahkan sempat disebut akan dibawa ke jalur hukum. Sebelum itu terjadi, ia lebih dulu memberikan klarifikasi dan permintaan maaf.

Plot twist-nya, konflik tidak berhenti di situ. Sejumlah K-netz mulai melontarkan komentar bernada merendahkan, bahkan rasis. Salah satu cuitan yang ramai berbunyi:

“Southeast Asia’s K-pop stans, please just f*** off a bit… Why do you stan your own country’s singers? Why stan Korean singers?”

Bukan hal baru kalau netizen Korea sering dikenal punya standar yang tinggi banget, bahkan cenderung perfeksionis. Tekanan terhadap publik figur di sana juga besar, dan kita tahu sendiri beberapa artis pernah mengalami tekanan mental serius karena ekspektasi publik yang ekstrem.

Budaya kompetitif yang kuat bikin standar itu terasa makin ketat, terutama di industri hiburan. Apalagi sejak gelombang Korean Wave mendunia, Korea Selatan berhasil naik level secara ekonomi dan budaya dalam waktu yang relatif cepat.

ArtikelTerkait

Ampera Gelar Panggung Rakyat Bentuk Kepedulian terhadap Sosial

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Penuntut Umum KPK Hadirkan 11 Saksi dalam Sidang Ketiga Pembuktian Mantan Bupati Pekalongan

Rasa bangga nasional tentu wajar, namun dalam kejadian ini rasanya seperti nasionalisme berbalut superioritas. Dari yang awalnya sekadar debat soal etika konser dan privasi, diskusi melebar menjadi ujaran kebencian.

Beberapa K-netz juga meremehkan musisi Asia Tenggara, termasuk girl group No Na. Karena video klip mereka berlatar persawahan, ada yang langsung menilai mereka “tidak punya budget” dan menyindir seolah tidak mampu menyewa studio.

Padahal, konsep tersebut memang dipilih untuk menonjolkan kekayaan budaya Indonesia. Namun, di tengah cibiran itu, banyak warganet dari negara tetangga justru membela. Hasilnya? Nama No Na makin dikenal luas. Tidak sedikit yang akhirnya penasaran, lalu ikut menjadi fans No Na.

Perang komentar pun semakin meluas, ujaran rasis seperti menyamakan dengan hewan, merendahkan warna kulit, hingga menyebut negara miskin mulai bermunculan. Bahkan ada yang menyeret isu politik dan ekonomi, seperti menyinggung kesalahan pejabat atau kecilnya UMR Indonesia.

Alih-alih tersulut, banyak warganet Asia Tenggara membalas dengan santai, dan disertai humor. Malah dijadikan momentum untuk menyuarakan kritik terhadap kondisi dalam negeri.

Awalnya ribut dengan netizen Malaysia, lalu melebar ke Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Dari situ lahirlah tagar “seablings” yang viral. Uniknya, kawasan yang biasanya sering saling sindir ini justru terlihat kompak saat ada pihak luar yang merendahkan salah satu dari mereka.

Kenapa bisa begitu?

Kalau ditarik lebih jauh, negara-negara Asia Tenggara punya pengalaman sejarah dan posisi global yang mirip. Indonesia, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan lainnya sama-sama lama berada dalam bayang-bayang negara industri besar. Label “negara berkembang” menempel cukup lama.

Dalam industri hiburan seperti K-pop, Asia Tenggara sering diposisikan sebagai pasar. Hanya dipandang sebagai penyumbang streaming, voting, dan penjualan album. Angkanya besar, tapi kerap dipandang kurang prestisius dibanding fans dari Jepang, Amerika, atau Korea sendiri.

Di sisi lain, budaya komunal di Asia Tenggara masih kuat. Nilai kekeluargaan, gotong royong, dan solidaritas sosial bukan sekadar slogan, tapi bagian dari keseharian. Pola ini pun terbawa ke ruang fandom.

Faktor demografi juga berperan. Asia Tenggara didominasi anak muda yang aktif di internet, dengan pengguna media sosial yang tinggi dan budaya fandom yang masif. Interaksi lintas negara jadi hal biasa. Dari ruang digital inilah identitas regional makin terasa nyata, dan istilah seperti “seablings” lahir.

 

Penulis: Ainun Naimah

Editor: Achmad Bagas Pranata

Tags: #Knetz#LPM Al Mizan#seablings#UINGusdur
Ainun Naimah

Ainun Naimah

Related Posts

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

24 Agustus 2026
Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

23 Agustus 2026
Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

23 Agustus 2026
Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

20 Agustus 2026
Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

14 Agustus 2026
Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

12 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In