lpmalmizan – Salah satu cara menentukan 1 Ramadan adalah dengan melakukan ru’yatul hilal, atau pengamatan awal bulan secara langsung. Titik observasi UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) Pekalongan menjadi salah satu tempat pembelajaran bagi mahasiswa untuk melakukan praktik observasi ru’yatul hilal. Pengamatan hilal 1 Ramadan 1447 H ini dilakukan secara langsung menggunakan Teleskop Robotic iOptron CEM70 di rooftop Fakultas Syariah.
Adapun kriteria penetapan 1 Ramadan berdasarkan ketentuan yang disepakati empat negara, yakni Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura dalam forum Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Ketentuan tersebut menetapkan ketinggian bulan minimal 3° dengan elongasi 6,4°.
Sebagai bentuk pembaruan dari kesepakatan tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan aturan baru yang dapat diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia, yaitu NEO MABIMS. Dalam ketentuan NEO MABIMS digunakan teori wilayatul hukmi, yakni apabila dalam suatu wilayah terdapat satu daerah yang dapat melihat hilal, maka hasil rukyat tersebut berlaku untuk seluruh wilayah hukum yang sama.
Misalnya, apabila di Indonesia hanya Aceh yang dapat melihat hilal sementara daerah lain tidak, maka hasil rukyat Aceh menjadi dasar penetapan bagi seluruh Indonesia. Begitu pula dalam konteks regional, apabila di Indonesia tidak ada satu pun daerah yang dapat melihat hilal, namun di Malaysia berhasil melihatnya, maka hasil rukyat Malaysia dapat menjadi dasar pertimbangan bagi Indonesia.
Berdasarkan perhitungan hisab mar’i per 17 Februari, seluruh wilayah Indonesia belum memenuhi kriteria MABIMS. Perhitungan menunjukkan tinggi hilal masih berada pada angka -1° dengan elongasi 1,09°. Angka tersebut masih cukup jauh dari ketentuan MABIMS, sehingga diperkirakan 1 Ramadan akan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Muhammad Farid Azmi, Observer Ru’yatul Hilal Pusat Studi Ilmu Falak UIN Gusdur, mengungkapkan bahwa tantangan dalam pelaksanaan ru’yatul hilal kali ini adalah faktor cuaca. Kondisi langit di sekitar kampus masih tertutup awan dan terbilang mendung. Selain itu, posisi observasi yang berada di dekat perbukitan membuat ufuk tidak terlihat secara jelas.
“Tantangan utamanya di ufuknya, karena tidak terlihat. Sama cuaca yang terus berawan,” ujarnya.
Berbeda dengan hisab haqiqi yang digunakan dalam Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), perhitungan ini menganalisis peredaran bulan dalam orbitnya, bukan berdasarkan pengamatan visual di permukaan bumi seperti pada hisab mar’i. Hal tersebut yang kerap menimbulkan perbedaan awal 1 Ramadan di Indonesia.
Dalam pengamatan dari bumi, posisi bulan belum berada di atas ufuk sehingga hilal belum terlihat. Namun secara astronomis, bulan telah memasuki fase bulan baru sehingga secara perhitungan penanggalan, bulan Sya’ban telah berakhir. Kegiatan rukyat ini juga menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa yang terlibat. Khisnul Munji, mahasiswa Hukum Keluarga Islam yang turut mengikuti ru’yatul hilal, mengaku mendapatkan pemahaman baru terkait proses penetapan awal bulan hijriah.
“Bagus, lumayan buat menambah ilmu tentang penetapan 1 Ramadan, biar lebih toleransi,” ungkapnya.
Perbedaan ini bukan menunjukkan siapa yang benar atau salah, melainkan menjadi bagian dari dinamika penentuan kalender hijriah yang menunjukkan kebesaran Allah SWT. Sebagai umat Islam, masyarakat diimbau untuk mengikuti ketetapan yang telah disepakati di lingkungan masing-masing tanpa perlu memperdebatkan perbedaan yang ada.
Penulis: Khalifatun Nisa
Tim liputan: Alif
Editor: Achmad Bagas Pranata






