lpmalmizan – Balon Festival tahun 2026 kembali sukses terselenggara dengan menampilkan kreativitas dan keindahan balon udara yang dinilai lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan.
Setelah melewati rangkaian babak penyisihan pada 23-24 Maret 2026, sebanyak 40 peserta berhasil lolos ke babak final. Selain itu terdapat 10 kelompok eksibisi yang ikut memeriahkan babak final dengan ikut menerbangkan karyanya.
Total 50 balon udara diterbangkan dalam puncak acara yang berlangsung di Stadion Hoegeng, Kota Pekalongan pada Sabtu (28/3). Motif balon yang dihadirkan murni merupakan kreativitas dari peserta karena tidak ada aturan mengikat terkait motif dari pihak panitia.
Para peserta memperebutkan juara pertama dengan hadiah berupa trofi dan uang pembinaan sebesar Rp5 juta. Berbeda dengan tahun sebelumnya, balon udara yang ditampilkan para peserta tahun ini dinilai lebih kreatif dengan motif yang indah dan beragam. Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, mengaku takjub saat melihat balon udara karya peserta.
“Alhamdulillah kalau saya melihat penyelenggaraan tahun ini terbilang sukses. Dan penyelenggaraan tahun ini saya agak sedikit kaget karena begitu masuk melihat balonnya sudah terbang ternyata kreativitas dari para peserta tahun ini lebih baik dari pada tahun lalu. Kreativitasnya luar biasa, motifnya luar biasa,” ujarnya.
Koordinator lapangan Pekalongan Balon Festival 2026, Fajar Dewa, menjelaskan bahwa sistem penilaian peserta tahun ini lebih menitikberatkan pada aspek keindahan balon. Dengan dinilai langsung oleh dua dewan juri yang merupakan pegiat balon asal Wonosobo serta satu seniman dari Pekalongan.
“Nggak banyak mengalami perbedaan tapi banyak perbaikan seperti sistem penilaian. Sistem penilaian sekarang ini lebih mengutamakan balonnya. Kalau kemarin itu ada balon, keamanan, kekompakan itu nilainya sama,” jelas Fajar.
Sementara itu, Rozak dari Tim Gertak yang berhasil meraih juara pertama mengaku adanya tingkat kesulitan yang lebih tinggi saat proses pembuatan motif balon. Aksen yang detail dan rumit juga membuat proses pengerjaan membutuhkan waktu hingga lima bulan untuk merakit balon udara hingga selesai.
“Cukup mengalami kesulitan karena motifnya lebih rumit. Kalau yang kemarin kan motif biasa. Nah sekarang mencoba untuk lebih rumit lagi. Banyak kesulitannya kak, dari proses penggambarannya cukup sulit,” ucap Rozak.
Dengan mengusung tema Jaga Langit, Jaga Tradisi, Jaga Kota, Pemerintah Kota Pekalongan bersama segenap jajarannya berharap agar masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga tradisi yang tetap berpegang pada prinsip keselamatan. Dengan ini Wali Kota Pekalongan mengajak masyarakat untuk tidak melakukan penerbangan balon liar.
Penulis: Sausan Zahra
Tim liputan: Asa, Nahla, Nadia
Editor: Achmad Bagas Pranata






