• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Hujan, Harapan, dan Doa

Aisyah Khairina by Aisyah Khairina
4 Januari 2026
in Cerpen, Sastra
0
Hujan, Harapan, dan Doa
Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Siang ini air hujan mengguyur desaku, Sidorejo Sleman Yogyakarta. Beruntungnya hari ini tepat di hari Sabtu, di mana jam sekolah hanya sampai jam 11 siang. Setelah mengganti seragam pramuka, aku langsung menemui Ibu yang sudah pulang mengajar sedang membuat makanan untuk disantap kami berdua.

“Wah bu, niki uenaak banget aromane lho sampai-sampai sudah kecium dari kamar Ikhsan,” mataku dengan berbinar-binar.

“Sudah jelas to nang, masakan Ibu ini ndak usah kamu ragukan lagi,” seraya mengacungkan centong sayur kesayangannya.

“Oiya, ini sudah mau matang, setelah makan, kita berangkat sholat dhuhur di Masjid, lalu kita telpon bapakmu ya nang. Ibu pengen telpon,” terlihat jelas dari sorot mata Ibu terdapat kerinduan yang mendalam untuk Bapak.

“iya bu nanti kita telpon ya. Ikhsan bantu ambilkan nasi ya bu. Ikhsan udah lapar.”

*************************************
Satu minggu yang lalu, Bapak izin pulang kampung ke Bireuen, Aceh karena kata om Amir (adik bapak) Nenek sedang sakit. Biasanya kami tiap tahun selalu lebaran di Aceh, namun karena tahun ini kebun sayur milik Bapak sedang mengalami penurunan 1 bulan sebelum bulan ramadhan jadi kata Bapak lebaran tahun ini kita tunda ke Aceh. Namun dirasa tahun ini belum pulang ke Aceh, jadi memang sudah saatnya Bapak pulang, sendiri.
Selama Bapak di Aceh setiap kami sarapan pagi dan setelah Isya’ Bapak menelfon kami hanya sekedar untuk bertanya
“lagi pada makan apa?”

ArtikelTerkait

Puluhan Umat Buddha Khidmat Rayakan Tri-Suci Waisak di Vihara Bodhi Dharma

Tradisi Pengantin Tebu dan Pengantin Glepung Meriahkan Selamatan Giling PG Sragi

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

“Pada sehatkan?”
Tak lupa Bapak menceritakan keadaan kesehatan Nenek, dan kelucuan Fatimah, anak om Amir yang saat ini berusia 2 tahun.

Kadang bapak bertanya tentang pakde Anom.
“Pakde Anom sudah mengabari belum? Apakah sayur dikebun sudah tumbuh lebih baik?” Konon pakde Anom belum mempunyai ponsel, katanya sih ribet.

Tak lupa bapak selalu bertanya terkait keseharianku sebagai siswa kelas 12. Harapan Bapak, aku bisa berkuliah dikampus Universitas Gadjah Mada fakultas Pertanian, Jurusan Ilmu Tanah agar bisa membantu memberdayakan kebun sayur milik Bapak menjadi lebih baik.

****
tuttt tuttt tutt
“Duh nang kok bapakmu ndak njawabi telpon yah? Ibu kok khawatir nang,” seraya duduk di ruang TV tepat di sebelahku.

“Sabar bu, mungkin kuota Hp bapak habis,” seraya memegang tangan ibu.

“Tapi lho, dari pagi bapakmu ya ditelpon ndak bisa.”

“Oke bu kita coba 5 menit setelah ini ya, Ibu tarik nafas lalu buang pelan-pelan. ibu nunggu sambil nonton TV saja. Ibu suka nonton berita kan?”

Ibu lalu melakukan sesuai dengan yang aku arahkan.
“Oiya Ibu juga hari ini belum sempat nonton berita. Lagian habis beres-beres,” seraya beranjak mengambil remot TV yang terletak di meja.

Tak lama setelahnya Ibu diam tak bersuara lagi, dan aku berusaha menghibungi Bapak berharap cemas.

” YA ALLAH NANG. Cepet perhatikan berita di TV ini,” seru Ibu dengan panik.

” Innalillahi Ibuu, ituu kan desanya Nenek.”
Kuperhatikan TV dengan seksama, hingga secara tak sadar alisku berkerut, dan air mataku hampir luruh di depan Ibu.

Berita yang ada di TV menyiarkan bencana Alam yang terjadi dini hari di Aceh. Dimana Aceh saat ini mengalami Banjir bandang, dan Longsor yang amat dahsyat. Tak tega aku melihat layar TV. Ku seka bulir air mataku agar tak terlihat Ibu.

“Nang, bapakmu nang,” wajah Ibu kian memerah, dengan air mata yang mengalir.

“Ibuu, kita doakan bapak ya bu. Semoga Bapak selamat,” kurengkuh tubuh Ibu dengan hangat.

*******
Semenjak tadi siang hingga jam 8 malam Ibu tak banyak bicara, yang ada hanya komat-kamit melayangkan dzikir untuk keselamatan Bapak, nenek, dan keluarga kecil om Amir. Aku pun berharap cemas sembari berdoa untuk keselamatan mereka.

“Ibu, Ikhsan ke kamar dulu ya. Mau belajar bu,” selangkah lagi kakiku menapaki lantai kamar.

(Hening, tidak ada jawaban dari Ibu yang masih menggunakan mukena sholatnya)

Kucoba fokus untuk memahami soal, namun nyatanya fikiranku campur aduk. Kuambil telefon genggamku dan kucoba menghubungi Bapak dan Om Amir kembali namun hasilnya nihil. Namun setelah aku kembali mencoba fokus belajar Om Amir menghubungiku. Segera aku keluar kamar dan menghampiri Ibu yang masih berada diruang TV.

“Ibuu, ini.. inii.. Om Amir nelpon,” ucapku dengan bersemangat. Ibu mengambil teleponku seraya menaikkan volume agar kami bisa mendengar lebih jelas.

“Assalammu’alaikum mbak, mbak….,” suara om amir terdengar lirih ditelinga kami.

“Wa’alaikumsalam Amir, gimana mir? Kabar kalian gimana? Ya Allah mir kami menghawatirkan kalian.”

“Maaf mba, mas.. mas.. mas Ahmad dan nenek tidak selamat,” rasanya seperti ada batu yang menghantam dadaku. Duar ! Air mata yang kutahan saat ini tumpah ruah.

“In- innalillahi mir, lalu mas Ahmad dan nenek sudah ditemukan?” Tanya Ibu sembari menyeka air mata menggunakan mukenah dengan nada terputus-putus.

“Alhamdulillah sudah mba… sudah ketemu, ditemukan sedang berpelukan dengan nenek, dan untungnya tak terbawa banjir terlalu jauh…”

“Kapan kami bisa kesana mir?”

“Maaf mbak untuk saat ini sepertinya tidak ada akses untuk bisa kesini. Jalanan penuh lumpur dan kayu”

Setelah kami tenang, bergegasku menemui takmir masjid untuk memberikan informasi terkait bapak dan nenek, lalu kami putuskan untuk mengumumkan melalui microphon masjid untuk memberikan informasi tersebut dan melakukan sholat ghaib esok setelah shubuh.

*****
Setelah sholat ghaib, rumah kami ramai orang berduka cita. Banyak yang memberikan kekuatan, doa dan pelukan hangat untuk Ibu. Bahkan sampai menjelang 7 hari kepergian bapak dan nenek banyak orang yang datang untuk mendoakan. Katanya, masyarakat desa mengenal nenek dengan baik. Karena nenek dahulu sering ke Sleman saat aku masih belia. Ah, aku rindu Bapak dan Nenek.

Setelah Bapak tak ada, hanya ada Pakde Anom yang menggarap kebun sayur milik Bapak. Ibu yang bekerja sebagai guru Taman Kanak-Kanak tak mampu untuk menggarap kebun. Sedangkan aku, berusaha belajar dengan giat agar harapan Bapak tercapai.

Tak terasa hari berganti hari, kami sudah mengikhlaskan Bapak, dan Nenek. Tak lupa hampir setiap seminggu sekali kami menghubungi om Amir. Kata om Amir 5 hari setelah bencana tersebut alhamdulillah kondisi Aceh kembali membaik. Keluarga om Amir saat ini sudah berada di keluarga istri om Amir yang tidak terdampak bencana. Puji syukur alhamdulillah, batinku.

Hari ini tepat dihari pengumuman penerimaan mahasiswa baru melalui prestasi. Ibu duduk disebelahku seraya melihat layar handphoneku menanti pengumuman. Sejak dini hari, kuberharap cemas menanti pengumuman ini. Semoga menjadi rezeki ku. Aamiin.

Jam 4 tepat dari pihak kampus akan memberikan pengumuman melalui web. Saat jam 4 tiba, aku bergegas membuka web dan YA. Tertulis dalam layar.
Selamat! Muhammad Ikhsan, anda diterima sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Fakultas Pertanian, Jurusan Ilmu Tanah

Aku terkejut bahagia, dan terdengar Ibu mengucap syukur. Langsung kupeluk Ibu.
“Ibu maturnuwun sanget bu, atas doa, dan ridho Ibu. Akhirnya harapan Bapak tercapai,” ku usap mata yang sudah berlinang air mata ini.

“Sami sami nak, doa Ibu selalu menyertaimu,” kurasakan tangan hangat Ibu mengusap punggunggku.

 

Penulis: Aisyah Khairina.

Tags: #LPM Al Mizan#sastracerpen#UINGusdur
Aisyah Khairina

Aisyah Khairina

Related Posts

Tak Sama Tanpamu

Tak Sama Tanpamu

28 April 2026
Rendang

Rendang

11 April 2026
Bengawan Solo

Bengawan Solo

15 Januari 2026
Dia Yang Datang Bukan Untukku

Dia Yang Datang Bukan Untukku

5 Januari 2026
Pergolakan Emosi

Pergolakan Emosi

5 Januari 2026
Di Punggung Sunyi Hutan

Di Punggung Sunyi Hutan

4 Januari 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In