lpmalmizan – Di zaman modern dengan ditandainya kemajuan teknologi yang serba cepat ini, konsep hidup dengan diri sendiri telah menjadi prinsip yang mendominasi di tengah kehidupan masyarakat. Khususnya Gen Z dan banyak pihak memandang pencapaian pribadi dan kemandirian sebagai indikator kesuksesan. Namun, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan adanya budaya self-first yang semakin mengakar, terdapat kekhawatiran bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar, seperti empati, mulai terkikis. Opini ini mengajak kita untuk menggali lebih dalam tentang fenomena tersebut, sekaligus menghadirkan kembali kearifan lokal. Khususnya budaya Jawa sebagai sumber inspirasi dalam menumbuhkan empati, dan menguji apakah budaya serta nilai-nilai luhur Jawa sampai hari ini masih relevan di tengah dunia yang makin individualistik.
Sampai hari ini dalam masyarakat yang sering kita jumpai, individualisme telah menjadi pondasi dalam banyak keputusan dan prinsip hidup. Nilai-nilai seperti kebebasan berekspresi, kemandirian, dan penekanan pada pencapaian pribadi sangat dihargai. Dengan ditandainya media sosial kerap menjadi tolak ukur untuk menampilkan kisah sukses secara berlebihan, mengaburkan kenyataan bahwa di balik tiap pencapaian ada kisah perjuangan yang sering kali tak terlihat.
Ketika semua aspek kehidupan fokus bergeser sepenuhnya pada diri sendiri, jarak antarindividu pun makin terasa dan melebar. Rasa ingin tahu apa yang sedang terjadi pada orang lain, dan keinginan untuk memahami latar belakang serta perasaan. Rasa open pada yang terjadi di sekitar semakin memudar padahal, empati adalah jembatan yang menyambungkan hati antar manusia.
Dalam budaya Jawa, empati bukanlah sekadar konsep, melainkan bagian dari laku hidup sehari-hari. Nilai-nilai seperti tepa selira, ngerti ing rasa, andhap asor, dan rukun mengajarkan bahwa hidup bukan hanya soal diri sendiri. Melainkan juga soal bagaimana kita menempatkan diri di tengah-tengah orang lain dengan penuh kesadaran dan hormat.
Tepa selira, yang bermakna tenggang rasa atau menempatkan diri di posisi orang lain, merupakan inti dari empati. Masyarakat Jawa diajarkan sejak dini untuk mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan orang lain sebelum bertindak atau berbicara. Dalam konteks ini, empati bukan hanya kepekaan emosional, tetapi juga kesadaran sosial yang sangat mendalam.
Begitu pula dengan nilai ngerti ing rasa, yang mengandung makna lebih halus: memahami rasa orang lain secara batiniah. Ini melampaui empati yang bersifat reaktif, bentuk kepekaan hati yang terlatih melalui kebiasaan diam, mendengar, dan menjaga keharmonisan.
Andhap asor, sikap rendah hati dan tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, juga melandasi praktik empati dalam budaya Jawa. Sikap ini memudahkan seseorang untuk membuka diri terhadap pengalaman dan penderitaan orang lain tanpa merasa superior atau menghakimi.
Akhirnya, nilai rukun menekankan pentingnya harmoni dalam kehidupan bersama. Rukun bukan berarti tidak ada konflik, melainkan kesediaan untuk saling memahami dan menyelesaikan perbedaan dengan tenang dan bermartabat. Semua nilai ini saling melengkapi dan menjadi landasan kuat bagi praktik empati dalam kehidupan masyarakat tradisional Jawa.
Di era modern, konsep self-care sering dikampanyekan sebagai cara merawat kesehatan mental. Walaupun demikian, hal tersebut juga penting kadang kala self-care kerap di artikan sangat sempit, seperti berubah sikap yang abai terhadap orang lain. Budaya Jawa mengajarkan mengajarkan bahwa dalam merawat diri itu penting, kita juga patut merawat keseimbangan sosial. Ketika seseorang terlalu menonjolkan diri, akan ada ungkapan seperti “aja nggendhong lali” (jangan sampai lupa daratan). Ini bukan bentuk kecemburuan, melainkan pengingat agar seseorang tetap mawas diri dan peka terhadap sekitar.
Ketiadaan empati berpotensi melahirkan masyarakat yang terpecah belah. Politik identitas, ujaran kebencian di media sosial, dan perpecahan antar kelompok adalah gejala dari minimnya keinginan untuk memahami orang yang berbeda pandangan.
Nilai musyawarah dan rembugan yang dijunjung tinggi dalam tradisi Jawa dapat menjadi solusi. Budaya Jawa mengedepankan penyelesaian konflik melalui dialog yang tenang dan penuh penghormatan. Ketika semua pihak duduk bersama dengan niat baik dan saling mendengarkan, empati akan tumbuh, dan solusi pun akan lebih mudah ditemukan.
Empati adalah fondasi bagi masyarakat yang damai dan harmonis. Di tengah gelombang individualisme, kita bisa kembali belajar dari akar budaya kita sendiri—budaya Jawa—yang telah sejak lama mempraktikkan empati sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Dengan menjadikan nilai-nilai seperti tepa selira, ngerti ing rasa, rukun, dan andhap asor sebagai bagian dari gaya hidup masa kini, kita tidak hanya menjaga warisan leluhur, tapi juga menjawab tantangan zaman. Dunia modern tidak harus bertentangan dengan nilai tradisional, justru dengan menyatukan keduanya, kita bisa membangun masyarakat yang tidak hanya maju secara teknologi, tapi juga hangat secara kemanusiaan.
Empati bukan kelemahan, ia adalah kekuatan yang menghidupkan rasa saling memiliki, memperkuat ikatan sosial, dan menjaga keberlangsungan nilai luhur dalam kebersamaan. Mari belajar kembali dari kearifan budaya kita, dan jadikan empati sebagai dasar kita melangkah dalam dunia yang terus berubah.
Penulis: Hengki Firnando
Editor: Atika Puspita.






