lpmalmizan – Tahun ini, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (Gusdur) dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggara Ekspo Kemandirian Pesantren dengan tema “Dari Pesantren untuk Negeri: Wujudkan Kemandirian, Ciptakan Keberlanjutan”, yang digelar pada 28–29 Oktober di Gedung Student Center UIN Gusdur Pekalongan dan diikuti oleh pesantren se-Eks Karesidenan Pekalongan.
Acara dibuka dengan khidmat melalui sambutan dari tiga pihak, yakni Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Perwakilan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, dan laporan dari ketua pelaksana, Mukhtar Ali. Dalam sambutan-sambutan tersebut, ketiganya menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan pesantren dalam memperkuat kemandirian ekonomi santri.
Zaenal Mustakim, selaku Rektor UIN Gusdur, menuturkan bahwa ekspo ini menjadi bukti nyata pesantren mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa.
“Pesantren hari ini tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga ruang lahirnya wirausaha muda yang kreatif dan mandiri,” ujarnya dalam sambutan.
Rangkaian acara berlangsung meriah dengan berbagai kegiatan mulai dari penampilan silat, hadroh dari LPTQ, tari sufi dari mahasiswa prodi Tasawuf Psikoterapi, musik religi dari UKM El-Fatah, hingga bazar yang sudah ada kurang lebih 58 stand dari berbagai pondok pesantren. Para peserta menjual beragam produk mulai dari hasil karya sendiri seperti gelang, kaligrafi, dan makanan olahan, hingga pakaian, kerudung, dan buku.
Karena bazar digelar di dalam gedung, panitia hanya memperbolehkan penjualan barang siap saji. Peserta yang ingin memasak di tempat diarahkan untuk melakukannya di area luar gedung. Pada akhir acara, panitia juga akan memberikan penghargaan untuk tiga kategori, yakni stan paling kreatif, stan paling ramai, dan stan paling bersih.
Menariknya, acara ini juga menghadirkan lomba Bernyanyi Pop Solo Islami yang terbuka untuk umum. Meski begitu, Kemenag tetap memberikan amanat khusus bagi pondok pesantren penerima program inkubasi untuk turut menjadi peserta dalam kegiatan ini.
Menurut Amin Handoyo, selaku Kabid Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jawa Tengah, kehadiran lomba terbuka tersebut menjadi pembeda utama dengan ekspo pesantren di tempat lain.
Pemberitahuan pelaksanaan ekspo yang baru diterima pada 15 Oktober membuat panitia hanya memiliki waktu persiapan yang singkat. Meski koordinasi berlangsung cukup terburu-buru dan jumlah penampilan akhirnya terbatas, panitia tetap berhasil menghadirkan suasana yang meriah dan terkoordinasi dengan baik.
Panitia Ekspo Pesantren terbentuk dengan cepat di bawah koordinasi Kabiro yang ditunjuk langsung oleh Rektor. Ia menggandeng Mahad Al-Jamiah serta beberapa pegawai berpengalaman. Dari UTIPD dan humas kampus, tim ini menangani dekorasi, dokumentasi, dan dukungan teknis.
Dukungan juga datang dari perpustakaan, bagian keamanan, serta tenaga kebersihan gedung. Tak hanya pegawai, mahasiswa asrama Mahad pun ikut terlibat sebagai panitia, sambil belajar mengelola acara kampus secara langsung.
Sebenarnya, terdapat satu agenda tambahan berupa bedah buku yang rencananya menghadirkan Alissa Wahid, putri dari K.H. Abdurrahman Wahid. Namun, karena beliau sedang kurang sehat, sesi tersebut terpaksa dibatalkan dan akan dijadwalkan ulang pada bulan November mendatang.
Secara keseluruhan, acara ekspo ini mendapat kesan positif dari peserta maupun pengunjung. Mereka merasa kegiatan seperti ini menjadi ruang bagi santri untuk menunjukkan potensi dan kreativitasnya.
“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa diselenggarakan setiap tahun oleh Kementerian Agama, dan semoga pesantren yang belum mendapatkan program inkubasi bisnis juga bisa diundang” ujar Rizki selaku sekretaris acara.
Panitia berharap ekspo pesantren dapat menjadi agenda tahunan yang semakin berkembang dan memberi dampak lebih luas bagi masyarakat pesantren di Indonesia.
Penulis: Ainun Naimah
Editor: Atika Puspita Rini.






