• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

OSD HMT-ITB Menyanyikan Lagu Erika Memicu Kemarahan Publik

Firdasari Desfiani by Firdasari Desfiani
12 Mei 2026
in Analisis, Opini
0
OSD HMT-ITB Menyanyikan Lagu Erika Memicu Kemarahan Publik

Sumber: tvOneNews

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Lagu ‘Erika’ yang dibawakan oleh Orkes Semi Dangdut Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknolgi Bandung (OSD HMT-ITB) menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Karena isi lagu tersebut dianggap merendahkan perempuan.

OSD merupakan salah satu unit kegiatan di bawah naungan HMT-ITB, organisasi ini telah berdiri sejak 1970-an. Sementara lagu Erika, diperkirakan muncul pada 1980-an.

Di era sekarang, masyarakat cenderung lebih kritis dan tidak lagi menoleransi konten yang dapat merendahkan kelompok tertentu, meskipun sebelumnya dianggap sebagai hiburan biasa. Selain itu, kasus ini menimbulkan perdebatan tentang batas antara tradisi organisasi dan etika kemanusiaan yang mencolok.

Banyak netizen menganggap lirik lagu tersebut mengandung unsur yang tidak pantas dan merendahkan perempuan, khususnya yang bernama “Erika”. Hal ini dianggap tidak etis, terutama karena itu berasal dari kampus, yang seharusnya memiliki standar yang baik di lingkungannya.

Narasi seksis di lingkungan organisasi mahasiswa sudah tidak sepantasnya mendapatkan ruang dengan dalih menjaga “tradisi.” Ada beban moral yang besar bagi mahasiswa untuk membuktikan bahwa kecerdasan mereka berbanding lurus dengan cara menghormati orang lain.

Apabila perilaku yang merendahkan gender ini terus dibiarkan tumbuh, hal tersebut menjadi indikator nyata bahwa institusi pendidikan telah luput dalam mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar. Rasanya sangat ironis ketika pencapaian akademik yang membanggakan justru berjalan beriringan dengan ketumpulan empati terhadap masalah objektifikasi gender.

ArtikelTerkait

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Syafaat Bubur Suro 2026, Kolaborasi Budaya Krapyak dan Ekonomi Syariah

Dorong Penghijauan Kampus di UIN Gus Dur, Menteri Agama Berikan Pembinaan Ekoteologi

Dalam sebuah video yang beredar pada akun X @Momooo1717, juga memperlihatkan ada beberapa mahasiswi yang ikut bergabung dalam menyanyikan lagu “Erika” sambil menikmati bersama dengan mahasiswa lainnya.

Fenomena ini justru ironis, karena keterlibatan mahasiswi dalam menyanyikan lirik yang merendahkan perempuan menunjukkan betapa dalamnya normalisasi narasi seksis di lingkungan organisasi mahasiswa, di mana solidaritas kelompok sering kali mengalahkan kesadaran diri akan dampaknya terhadap martabat gender.

Kecepatan hukuman sosial di media sosial membuat batasan antara urusan internal dan konsumsi publik menjadi hancur seketika, sebagaimana terlihat pada kasus video viral ini. Meskipun pihak HMT telah merespons dengan pernyataan maaf, suatu langkah yang dinilai krusial oleh banyak pengamat.

Ada ekspektasi besar akan perubahan yang nyata dan struktural, bukan sekadar basa-basi diplomatik. Respons permintaan maaf ini diunggah melalui akun instagram @yudhabumi milik HMT-ITB yang menunjukkan adanya kesadaran dan tanggung jawab.

Walaupun demikian, ini menjadi pengingat bagi masyarakat dan institusi pendidikan memiliki peran besar dalam menjaga nilai dan etika, apalagi tradisi lama yang merendahkan martabat orang lain tidak lagi memiliki tempat di tengah standar kesusilaan dan kesadaran gender masa kini.

Jikalau suatu pelecehan verbal diwajarkan, lantas di mana sebuah simbol perlawanan yang mulanya bernilai luhur justru berbalik arah menjadi narasi yang mengabaikan harga diri, di titik manakah kita harus menetapkan batasan tegas demi menjaga kehormatan manusia yang paling hakiki?

Jika sebuah warisan perjuangan perlahan berubah bentuk menjadi alat untuk merendahkan, akankah kita tetap berdiam diri dan membiarkan batas-batas etika itu memudar tanpa adanya upaya untuk memulihkan kembali rasa kemanusiaan yang mendasar?

Apabila ruang-ruang publik dan akademik justru menjadi tempat penyemaian narasi yang merendahkan, bukankah itu berarti kita sedang perlahan-lahan meruntuhkan nilai etika yang selama ini kita bangun, lalu apakah kita akan terus membiarkan rasa hormat terkikis habis hanya demi sebuah pembelaan atas nama tradisi atau solidaritas yang semu?

 

Penulis: Firdasari Desfiani

Editor: Achmad Bagas Pranata

Tags: #Lagu Erika#LPM Al Mizan#OSD HMT-ITB#UINGusdur
Firdasari Desfiani

Firdasari Desfiani

Related Posts

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In