lpmalmizan – Enam babi hutan mengejar Farrel dengan brutal. Farrel berusaha sekuat tenaga melarikan diri ke mana saja yang bisa ia capai. Kawanan babi hutan itu tak kalah cerdas, bergerak terkoordinasi, memotong setiap kemungkinan jalan keluar. Farrel terpojok di depan sebuah pohon besar. Mata babi-babi itu melotot, taring mereka terangkat, siap menghujam tubuh di hadapan mereka. Di detik terakhir itu, Farrel sadar, jabatan menteri tidak pernah menjamin keselamatan dari hutan yang telah ia ubah sendiri.
Sepuluh tahun lalu.
Di ibu kota provinsi, Farrel baru saja dilantik menjadi menteri kehutanan termuda sepanjang sejarah. Pemuda gagah, tampan, dan cerdas itu menjadi simbol bahwa pemuda harus terus bergerak mengubah peradaban. Sedikit yang tahu, Farrel berasal dari keluarga yang nyaris tak pernah disentuh keberuntungan ekonomi. Ibunya sering sakit, ayahnya bekerja serabutan. Sekolah gratis tidak otomatis membuat Farrel bisa bersekolah. Seragam, buku, dan keperluan lain tetap membutuhkan biaya. Farrel paham batas itu. Ia memilih membaca buku bekas, menghabiskan waktu di perpustakaan umum, belajar secara otodidak sambil menunggu ayahnya pulang membawa upah harian.
Suatu hari, Pak Damar, kepala perpustakaan, memperhatikan kebiasaan Farrel. Melihat ketekunan yang tak biasa, ia membantu Farrel mendapatkan akses pendidikan formal melalui jalur beasiswa. Farrel memeluk Pak Damar dengan air mata yang tak sempat ia sembunyikan.
Waktu berjalan cepat. Farrel menyelesaikan pendidikan akademiknya hingga program doktoral. Dunia yang dulu terasa jauh kini terbuka. Ia dikenal sebagai akademisi muda yang vokal dalam isu kehutanan dan keberlanjutan. Ketika namanya masuk bursa kandidat menteri, banyak yang menyebutnya harapan baru. Pada hari pengumuman, Farrel resmi menjadi menteri kehutanan termuda dan bergabung dalam kabinet pemerintahan. Hidupnya berubah. Dari ruang penelitian ke ruang rapat. Dari diskusi ilmiah ke tanda tangan kebijakan.
Rey, sahabat lama Farrel sekaligus ketua organisasi lingkungan hidup, tetap bergerak menghijaukan ruang hidup masyarakat. Programnya sederhana, satu rumah satu pohon. Rey datang membawa gagasan, bukan proposal proyek. Namun ia lupa, Farrel bukan lagi teman seperjuangan yang bisa ditemui di bangku taman kota. Farrel kini seorang menteri.
Tahun itu Indonesia mengalami krisis minyak goreng. Harga melambung, stok menipis, dan kemarahan publik meluas. Dalam kondisi darurat, pemerintah membuka kembali opsi ekspansi besar-besaran perkebunan kelapa sawit untuk menjamin pasokan. Di ruang rapat kabinet, kebijakan itu dibahas sebagai solusi jangka pendek dan jangka panjang.
Presiden menyampaikan arahan agar perluasan kebun sawit dipercepat melalui koordinasi lintas kementerian. Farrel mengangguk dan menjawab singkat, siap.
Sejak hari itu, berkas demi berkas ia tanda tangani. Izin demi izin terbit. Di saat yang sama, saldo rekening pribadinya terus bertambah. Rey mendobrak masuk ke ruang kerjanya tanpa janji temu.
“Rel, kamu mikir nggak? Tanda tanganmu mengusir satwa, merusak hutan. Kamu mikir nggak?”
Farrel tersenyum tipis.
“Aku tahu, Rey. Tapi ini untuk kemajuan bangsa. Untuk kebutuhan rakyat. Ini sementara. Nanti kita rawat lagi hutannya.”
“Kamu nggak bisa mengembalikan hutan seperti semula, Rel. Satwa yang mati nggak bisa hidup lagi.”
“Apa kamu mau menentang Presiden? Orang sepertimu bisa dianggap ekstremis lingkungan.”
“Aku nggak nyangka kata-kata itu keluar dari mulutmu.”
“Satpam, keluarkan orang ini.”
“Rel, alam akan menagih.”
Pintu tertutup. Sunyi.
Farrel merapikan jasnya dan membuka laptop. Berita terus bermunculan. Konflik aparat dengan masyarakat adat dalam perebutan lahan. Demonstrasi aktivis lingkungan yang berujung bentrokan. Kasus konflik manusia dan satwa liar meningkat akibat fragmentasi habitat dan berkurangnya sumber pakan. Banjir bandang melanda wilayah Sumatera disertai kayu gelondongan, menelan ribuan korban.
Farrel sempat ragu. Namun dering telepon dari Presiden menghentikan pikirannya. Pasokan minyak aman, harga turun. Ia diminta mengawasi situasi dan meredam keresahan publik. Farrel menyanggupi. Audit dilakukan sebatas formalitas. Laporan untuk pers disusun agar terlihat terkendali.
Ia memutuskan meninjau langsung kawasan yang telah dialihfungsikan. Ia ingin melihat dengan mata kepala sendiri, bukan lewat laporan dan grafik. Hutan yang dulu ia kenal dalam buku dan jurnal kini berubah menjadi hamparan sawit yang seragam. Tidak ada lagi kanopi rapat, tidak ada suara burung yang saling sahut. Udara panas menyengat kulit. Truk-truk besar berlalu-lalang tanpa henti, membawa hasil yang disebut sebagai kemajuan.
Farrel berjalan semakin ke dalam. Jika tempat ini masih bisa disebut hutan, ia tak lagi mengenalinya. Tanah kering, buah sawit membusuk berserakan, bau asam bercampur solar. Dalam hatinya muncul tanya yang terlambat, apakah ia telah melangkah sejauh ini.
Tiba-tiba suara pekikan memecah sunyi.
Enam ekor babi hutan muncul dari balik barisan sawit. Tubuh mereka besar, kotor oleh lumpur, dengan mata merah yang tak berkedip. Mereka tidak langsung menyerang. Mereka menyebar, memotong arah lari Farrel. Farrel mundur perlahan, napasnya tersengal, keringat bercampur tanah melekat di wajahnya.
Ia berbalik dan berlari. Buah-buah sawit yang membusuk membuat tanah licin. Kakinya terpeleset, lututnya menghantam tanah keras. Ia bangkit, berlari lagi, menabrak batang sawit yang berdiri rapat seperti pagar. Tidak ada celah. Tidak ada jalan keluar.
Satu babi hutan menerjang lebih dulu. Farrel mengayunkan dahan kayu yang sempat ia renggut. Buk. Tubuh babi itu terdorong, tetapi tidak jatuh. Dari sisi lain, babi kedua menyeruduk. Farrel terpental, bahunya menghantam batang pohon. Napasnya terputus sejenak.
Ia berdiri sempoyongan. Dahan kayu kembali diayunkan. Buk. Buk. Dua babi tertahan, tetapi kawanan itu tidak mundur. Mereka berputar, bergantian menyerang, seolah tahu kapan harus maju dan kapan menunggu. Farrel menyadari, ia tidak sedang melawan hewan liar semata, melainkan makhluk yang sedang mempertahankan sisa hidupnya.
Dahan kayu patah. Farrel terdiam sesaat, menatap tangannya yang kini kosong. Ia mundur hingga punggungnya menyentuh batang sawit. Napasnya terengah, dadanya perih. Teriakan minta tolong keluar, pecah, lalu hilang ditelan tempat yang pernah ia bisukan dengan tanda tangan.
Serangan datang bersamaan. Tubuh Farrel terangkat lalu jatuh menghantam tanah. Taring mengoyak perutnya. Rasa panas menyebar cepat. Darah mengalir, membasahi tanah yang dulu disebut lahan produksi.
Dalam kesadarannya yang mulai kabur, Farrel teringat peta-peta yang ia tanda tangani, garis-garis batas yang ia geser, dan kata sementara yang berulang ia ucapkan. Kini tidak ada yang sementara. Yang ada hanya tubuhnya di tanah dan kawanan babi hutan yang berdiri di sekelilingnya. Suara tembakan akhirnya memecah udara. Kawanan itu berhamburan. Tubuh Farrel tergeletak, napasnya tipis, matanya menatap langit yang terpotong daun sawit. Penjaga hutan datang terlambat sekaligus tepat. Farrel dibawa pergi dengan luka yang tidak akan sepenuhnya sembuh.
Dalam ruang rawat, Farrel terjaga tanpa suara. Bau antiseptik bercampur dengan ingatan tentang tanah panas, buah sawit yang menggelinding, dan mata-mata yang menatapnya bukan sebagai manusia, melainkan sebagai gangguan. Untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu yang selama ini luput dari seluruh laporan dan rapat: hutan tidak pernah kosong. Ia hanya dipaksa diam. Ia mengingat tanda tangan-tanda tangannya. Tidak satu pun seberat luka di perutnya. Luka itu bukan akibat serangan. Ia seperti catatan kecil yang akhirnya sampai kepadanya, setelah bertahun-tahun dikirim oleh akar yang putus, aliran air yang kehilangan arah, dan satwa yang kehilangan jalur pulang. Bencana tidak datang sebagai kemarahan. Ia datang sebagai kejujuran. Ia tidak mengenal jabatan, tidak membaca kartu identitas. Ia hanya bergerak mengikuti ruang yang dikosongkan manusia.
Di luar rumah sakit, proyek perluasan tetap berjalan. Peta diperbarui. Garis digeser. Negara terus melangkah, tegak dan percaya diri, tanpa pernah benar-benar melihat apa yang menopangnya. Di bawah langkah itu, perut hutan menganga pelan. Tidak berteriak. Tidak melawan. Hanya menunggu.
Penulis: Muhammad Zakki Musyafa
Editor: Atika Puspita Rini.






