lpmalmizan – Ketika seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, tewas terlindas rantis polisi pada Kamis malam (28/8), gelombang demonstrasi di berbagai wilayah Indonesia semakin memanas. Namun, terdapat hal lain yang turut membakar emosi publik, yakni perusakan fasilitas umum dan fasilitas negara yang justru mengaburkan suara rakyat.
Di Makassar, terjadi pembakaran Gedung DPRD yang menyebabkan dua orang tewas. Di Jakarta, fasilitas umum seperti halte Transjakarta juga dilalap api. Di berbagai daerah lain, hal serupa susul-menyusul terjadi. Mulai dari perusakan, pembakaran, hingga penjarahan terhadap ruko, kantor, maupun bangunan lain oleh massa. Hal ini sekaligus menimbulkan pertanyaan, mengapa aksi para demonstran cenderung mengarah ke anarkis?
Fakta di lapangan menunjukkan hal janggal. Melansir dari jkt.spot, sukarelawan medis melihat secara langsung pembakaran fasilitas umum, yakni halte, oleh oknum provokator yang diyakini bukan bagian dari massa aksi. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa massa telah disusupi oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab.
Mengutip opini Ferry Irwandi dalam sebuah postingan, sebelum tanggal 25 Agustus terdapat akun-akun pro pemerintah yang justru menghasut massa untuk menciptakan kerusuhan. Terdapat ribuan komentar seragam di seluruh media sosial dan pergerakan dari suatu kelompok. Menurutnya, halte bus modern tidak mudah dibakar oleh rakyat sipil yang tidak memiliki bubuk mesiu. Hal ini sekaligus memperkuat anggapan terdapat suatu intervensi di tengah-tengah massa oleh suatu kelompok. “Tidak hanya banyak, mereka terorganisir, mereka bergerak sesuai strategi dan mereka ‘bersenjata’” ujarnya. Ia juga mengimbau masyarakat supaya berstrategi, menahan diri, dan jangan sampai dimanfaatkan oleh kelompok ini.
Jika benar terdapat penyusupan, maka rakyat benar-benar sedang dijebak. Tuntutan yang semestinya bersifat murni berubah menjadi kerusuhan. Akibatnya rakyat dianggap anarkis, dikambing hitamkan sebagai pelaku kerusuhan, sedangkan pemerintah merasa berhak untuk semakin menekan, bahkan mengaku akan bertindak tegas terhadap pelaku anarkis. Meskipun tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai ukuran “tindakan tegas” dan “anarkis” tersebut. Sehingga hal ini membuat tujuan demonstrasi lenyap dilahap kebakaran dan api kebencian.
Walaupun tidak bisa dipungkiri, di beberapa daerah memang terjadi perusakan oleh massa. Namun, menggeneralisasi seluruh demonstran sebagai anarkis tidak dapat dibenarkan, karena terdapat indikasi kuat bahwa kerusuhan itu dipicu oleh provokasi dan penyusupan oleh kelompok tersebut. Aparat juga tidak terlepas dari kesalahan jika menanggapi dengan kekerasan.
Meskipun tujuan aksi ini adalah mendesak pemerintah memenuhi tuntutan masyarakat, tindakan anarkis seperti perusakan dan penjarahan fasilitas tidak dapat dibenarkan, karena justru menimbulkan kerugian dan kerusakan bagi negara yang sedang kita perjuangkan bersama. Hal ini juga sejalan dengan tujuan kelompok provokator tersebut jika terus-menerus dilakukan. Belum lagi negara menjadi lebih buas terhadap demonstran, ditandai dengan penerangan yang dimatikan, diblokirnya fitur live di beberapa platform media sosial, hingga penembakan massa oleh aparat bersenjata di daerah “zona merah”.
Mari kita menjaga ketertiban saat menyuarakan aspirasi. Jangan mudah terprovokasi oleh kelompok yang tidak pro terhadap kepentingan rakyat. Mari gunakan akal dan pikiran kita dengan baik, supaya tidak terjerumus ke dalam aksi yang justru merugikan. Jika dilakukan secara anarki, aksi massa akan kehilangan legitimasi, dan negara akan kehilangan kepercayaan jika terus-menerus merespon dengan kekerasan. Karena itu, menjaga kemurnian demonstrasi adalah tanggung jawab bersama, supaya suara rakyat bisa tersampaikan dengan tertib dan terfokus pada tujuan utama.
Penulis: Mufti Amri Huda
Editor: Atika Puspita.






