lpmalmizan-UIN K.H. Abdurrahman Wahid menggelar Studium General bertema “Seribu Jalan Menuju Tuhan” di Gedung Student Center, Kamis (13/2).
Acara ini menghadirkan Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga sebagai narasumber utama.
Rektor UIN Gus Dur, Prof. Dr. H. Zaenal Mustaqim, M. Ag., dalam sambutannya menyatakan semua penganut agama harus meyakini bahwa jalan yang dianut ialah benar meski berbeda-beda namun arahnya sama menuju Tuhan yang maha kuasa.
“Kita sebagai Umat Muslim harus meyakini bahwa jalan kita benar. Demikian juga Pendeta Pak Martin Lukito Sinaga, jalannya juga jalan yang benar. Namun, titiknya sama, yaitu Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa,” jelasnya.
Setelah memberikan sambutan beliau secara resmi melaunching acara haul Gus Dur yang ke-15.
Dalam pemaparan Pdt. Dr. Martin Lukito Sinaga menekankan bahwa setiap agama, termasuk Islam, boleh mengklaim kesempurnaannya. Namun, ia mengingatkan bahwa agama juga merupakan bagian dari perjalanan rohani kemanusiaan.
“Islam atau agama mana pun boleh mengatakan dia sempurna, tapi jangan lupa bahwa dia adalah bagian dari perjalanan rohani kemanusiaan,” ujarnya.
Ia juga mengutip teori Samuel Huntington tentang Clash of Civilizations yang menyatakan bahwa setelah runtuhnya komunisme pada 1989, dunia akan mengalami benturan peradaban, terutama antara dunia Barat dan Islam.
Namun, menurutnya, pemikiran Gus Dur justru menawarkan jalan yang lebih humanis dan terbuka, yaitu dengan saling belajar antar peradaban.
Di sisi lain, Edi Zubaidi, selaku penanggung jawab acara, berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang nilai-nilai humanisme dan keberagaman.
“Diharapkan mahasiswa dapat menyalurkan ilmu terkait pemahaman kemanusiaan, menyadari keberagaman yang ada, serta berkontribusi dalam menyukseskan program moderasi beragama,” ungkapnya.
Terselanggaranya acara ini mendapat tanggapan baik oleh mahasiswa, di antaranya Alisha Rafa Anjeli dan Putri Syabila mahasiswa semester 2 prodi Tasawuf dan Psikoterapi, mereka mengaku tertarik pada acara ini karena narasumber memaparkan terkait toleransi yang dijunjung tinggi oleh Gus Dur.
“Materinya sangat menarik karena narasumber banyak menceritakan tentang Gus Dur, seorang politikus Islam yang menjunjung tinggi toleransi, bahkan Gus Dur tidak membenci, melainkan mendukung agama selain Islam,” tutur mereka.
Acara ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa dalam memahami keberagaman serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis : Ainun & Alis
Editor : Ika Amiliyah
Tim Liputan : Ainun, Yunita, & Alis.






