lpmalmizan – Bentuk refleksi spiritual di tengah isu krisis lingkungan, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Seminar Nasional Jihad Ekologis di Gedung Student Centre, Kampus 2 pada Selasa (28/4).
Seminar ini bertajuk “Jihad Ekologi dengan Perspektif Sufisme”. Dialog dalam seminar ini berusaha mengaitkan persoalan ekologis dengan dimensi spiritualitas Islam.
Maghfur, Ketua Acara, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya kampus membangun kesadaran ekologis yang mendorong perubahan perilaku.
“Persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan teknis saja. Perlu ada kesadaran batin yang mendorong perubahan perilaku,” ungkapnya.
Kiai Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq sebagai narasumber utama, menyoroti pola konsumtif manusia terhadap kekayaan alam yang telah menjadi siklus terus-menerus, serta sifat eksploitatif manusia yang menurutnya selalu berulang dalam sejarah peradaban. Ia juga menjelaskan bahwa ketika peradaban mencapai titik eksploitasi, maka akan muncul gerakan spiritual sebagai bentuk koreksi.
“Kita ini sering lupa bahwa alam bukan sekadar sumber daya, tapi bagian dari keseimbangan hidup. Ketika manusia terlalu jauh mengeksploitasi, di situlah spiritualitas hadir untuk mengingatkan,” tuturnya.
Ratusan peserta turut hadir dengan antusias dalam mengikuti rangkaian acara demi acara. Navi, salah satu peserta, memberikan kesan positif terhadap seminar ini karena sesuai dengan isu yang sedang menjadi perhatian global mengenai kesadaran ekologis. Ia juga berharap pihak kampus juga menerapkan jihad ekologis di lingkungan UIN Gus Dur.
“Acara ini sesuai dengan isu yang sedang tren global yaitu tentang lingkungan hidup dengan mengambil tema jihad ekologis. Tinggal tindak lanjutnya saja, saya harap Pak Rektor agar bisa membentuk lembaga khusus yang mengurus sampah kampus agar tidak keluar,” ujar Navi.
Diskusi yang berjalan tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga reflektif. Para peserta diajak melihat kembali hubungan manusia dengan alam, bukan dijadikan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga dan digunakan dengan batas yang cukup.
Melalui seminar ini, UIN Gus Dur membuka ruang refleksi di mana ilmu pengetahuan dan kesadaran berjalan beriringan dalam merespons persoalan zaman.
Penulis: Fatma Inayah
Tim liputan: Fatma, Alis, Alfy
Editor: Achmad Bagas Pranata






