lpmalmizan — Sekitar 30 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid (Gusdur) Pekalongan menggelar demonstrasi di depan Gedung Perkuliahan terpadu (GPT), Jumat (10/10). Mereka menuntut klarifikasi dan transparansi dari pihak kampus terkait dugaan pelanggaran etika dosen, penggunaan fasilitas kampus, dan pengelolaan dana hibah pembangunan.
Aksi dimulai pukul 15.00 WIB dengan suasana tertib. Mahasiswa membawa MMT yang dipilok dan lembaran kertas HVS bertuliskan seruan keterbukaan dan akuntabilitas. Setelah berorasi selama lebih dari satu jam, mereka diterima oleh Rektor UIN Gusdur, Zaenal Mustaqim, untuk melakukan audiensi pada pukul 16.30 WIB.
Dalam pertemuan itu, mahasiswa menyampaikan empat tuntutan utama. Pertama, mereka meminta klarifikasi terhadap dugaan pelanggaran kode etik dosen sebagaimana diatur dalam Keputusan Rektor Nomor 501 Tahun 2017.
Dugaan itu mencakup penyalahgunaan jabatan, wewenang, lembaga, dan lambang institusi untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Kedua, mahasiswa menuntut kejelasan penggunaan fasilitas kampus oleh organisasi mahasiswa eksternal yang dinilai belum memiliki aturan jelas.
Ketiga, mereka meminta transparansi pengelolaan dana hibah pembangunan Masjid Kampus dan Gedung Rektorat baru sebagai bentuk keterbukaan informasi publik.
Keempat, mahasiswa mendesak laporan pertanggungjawaban kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2025 agar pelaksanaannya dapat diaudit secara terbuka.
Rektor Zaenal Mustaqim menyatakan menghargai aspirasi mahasiswa yang disampaikan secara damai. Ia menegaskan bahwa rektorat terbuka terhadap kritik dan akan menindaklanjuti setiap tuntutan sesuai prosedur.
“Kami menghargai semangat mahasiswa dalam menjaga transparansi dan etika akademik. Semua akan kami kaji dan tindak lanjuti sesuai mekanisme yang berlaku,” ujarnya.
Zaenal juga menjelaskan bahwa pihaknya sudah lebih dulu menawarkan jadwal audiensi.
“Sejak awal saya sudah menyampaikan kepada koordinator mahasiswa bahwa jika ingin mengadakan audiensi, saya bersedia menerima pada hari Selasa lalu. Namun tidak ada konfirmasi dari pihak mahasiswa,” katanya.
Ia menambahkan, keterlambatan menemui peserta aksi karena dirinya baru saja selesai menghadiri rapat. “Begitu rapat selesai, saya langsung menemui mahasiswa,” ujarnya.
Sementara itu, Ilyas salah satu peserta aksi, menilai tanggapan rektorat belum memuaskan.
“Setelah audiensi ini, sangat disayangkan rektorat justru terlihat cuci tangan terhadap beberapa tuntutan yang dilayangkan. Padahal seharusnya rektor mengawasi langsung terhadap kabinetnya,” ujarnya.
Ilyas menambahkan bahwa aksi mahasiswa tidak berhenti di sini. “Akan ada lanjutannya terhadap aksi damai mahasiswa ini agar permasalahan bisa benar-benar terselesaikan,” tambahnya.
Aksi ditutup dengan penandatanganan dan penyerahan dokumen tuntutan kepada pihak rektorat sebagai bentuk sikap resmi mahasiswa. Setelah prosesi tersebut, massa membubarkan diri dengan tertib sekitar pukul 18.00 WIB, menandai berakhirnya rangkaian demonstrasi yang berlangsung damai dan terkoordinasi.
Penulis: Ibnu Salim
Editor: Atika Puspita Rini.






