• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Lagu Garam dan Madu Jadi Perdebatan di X, Kenapa?

Ika Amiliya Nurhidayah by Ika Amiliya Nurhidayah
19 Januari 2025
in Analisis, Opini
0
Lagu Garam dan Madu Jadi Perdebatan di X, Kenapa?

Gambar: Screenshot X

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Saat ini, tangga musik Indonesia tengah diguncang oleh lagu dengan genre yang tidak biasa dan terbilang baru. Lagu itu dinyanyikan oleh Tenxi, Naykilla, dan Jemsii yang berjudul Garam dan Madu. Lagu yang dinyanyikan dalam tiga bahasa ini (Indonesia, Inggris, dan Jawa) pertama kali rilis di YouTube pada 20 Desember 2024 dan telah ditonton sebanyak 18 juta kali. Layaknya lagu-lagu baru pada umumnya, Garam dan Madu pun telah viral di beberapa platform media sosial, terutama TikTok. Banyak pengguna yang menjadikan lagu ini sebagai backsound konten video mereka dan menjadi trending di platform sejuta umat ini.

Namun, respon yang berbeda muncul di platform X atau yang sebelumnya bernama Twitter. Berbagai platform media sosial dengan segenap penggunanya memang memiliki karakter tersendiri, seperti warganet TikTok yang sering disebut mudah percaya dengan informasi hoaks, warganet Instagram yang disebut “baperan,” atau warganet X yang terkenal dengan karakternya yang “bar-bar” karena sering kali melontarkan kata-kata kasar. Kali ini, agaknya lagu Garam dan Madu tengah menjadi bahan empuk perbincangan warga X. 

Pasalnya, mendadak terjadi polarisasi interpretasi yang begitu kontras mengenai lagu ini, sebagian mengatakan lagu ini catchy dan unik mengenai cinta yang tulus dan tak terbatas, sebagian lagi mengatakan lagu ini aneh, bahkan mengandung unsur negatif mengenai cinta yang obsesif. Beberapa cuitan di X mengenai lagu ini nyaris diisi oleh komentar-komentar yang cenderung tidak menghargai karya seni, bahkan muncul sebuah gambar meme yang bertuliskan “Ketahuan nyetel Garam dan Madu kami hajar di tempat baru kami polisikan.”

Meme Garam dan Madu

Dilansir dari liputan6.com, Garam dan Madu merupakan lagu yang menggambarkan tentang rasa rindu yang kuat namun dihantui oleh keraguan. “Garam” dan “madu” menginterpretasikan situasi dalam hubungan, bahwa cinta tidak melulu berjalan mulus melainkan seringkali dihiasi tantangan yang harus dihadapi bersama. Lebih jauh, “garam” dan “madu” juga tidak sekedar menggambarkan kondisi hubungan asmara, namun juga menyiratkan kompleksitas emosi manusia mengenai hubungan yang manis sekaligus menyakitkan. 

Secara tekstual, lagu ini memang menyiratkan makna ganda yang membuat beberapa orang mungkin bertanya-tanya. Seperti dalam liriknya yang cukup fenomenal sekaligus kontroversi, “Ku membayangkan jika kamu tidur di sampingku.” Kalimat ini mungkin memperparah polarisasi interpretasi orang-orang atas lagu ini, para tekstualis yang akan mengartikan kalimat itu sebagai fantasi liar yang tidak senonoh, dan para kontekstualis yang akan mendalami makna di balik kata-kata tersebut dengan lebih filosofis. Memang pada hakikatnya, seni memiliki kebebasan untuk ditafsirkan. Mayoritas alasan warganet X tidak menyukai lagu ini adalah karena liriknya yang seakan menyiratkan hal tidak senonoh dalam percintaan, beberapa warganet melabeli lagu ini dengan istilah-istilah negatif yang semestinya tidak dihadiahkan untuk sebuah karya seni.

Setiap individu tentu memiliki ciri khas dan perbedaan dalam menginterpretasikan sesuatu. Beberapa orang menafsirkan terlalu dangkal dan tekstualis, beberapa yang lain menafsirkan secara dalam dan kontekstualis. Perdebatan ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman konteks dan kepekaan dalam menikmati karya seni. Selain itu, perdebatan ini juga memperlihatkan kekuatan musik dalam memicu diskusi dan refleksi sosial. Namun, perlu diingat bahwa kita sangat perlu untuk menjunjung tinggi etika dalam bermedia sosial, terutama dalam mengutarakan persepsi melalui komentar. Tidak ada yang salah dengan mengungkapkan perasaan tidak suka, namun perasaan tersebut harus tetap tersampaikan dalam koridor etika.

ArtikelTerkait

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi dari Kearifan Budaya Jawa dalam Menumbuhkan Empati di Dunia yang Individualistik

Kita Bisa Punya Kemampuan Public Speaking

 

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah

Editor: Dina Fitriana

Tags: garam dan madulpm al-mizanOpiniTwitter
Ika Amiliya Nurhidayah

Ika Amiliya Nurhidayah

Related Posts

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In