lpmalmizan – Pernah nggak sih saat menonton film Frozen kita merasa ada bagian dari tokoh Elsa yang ternyata relate dengan kehidupan? Keinginan untuk menjadi diri sendiri, tetapi harus menyembunyikan sisi tertentu agar bisa diterima dan tidak dianggap berbeda oleh orang lain.
Ingin hidup sesuai apa yang kita mau, tetapi takut di-judge dan dicap berbeda, sampai-sampai kita memilih menyembunyikan diri yang sebenarnya. Pengalaman inilah yang dialami Elsa dalam film Frozen (2013), ketika ia harus menekan perasaan dan kekuatannya demi memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitarnya.
Siapa sih yang nggak tahu film Frozen? Film yang meraih dua Piala Oscar, salah satunya adalah Film Animasi Terbaik di ajang Academy Awards ke-86. Frozen (2013) menceritakan tentang kisah dua putri Kerajaan Arendelle, Elsa dan Anna.
Putri sulung dari Raja dan Ratu Arendelle, Elsa, memiliki kekuatan sihir bawaan yang berkaitan dengan es dan salju. Namun, dibalik kisahnya mengenai kerajaan, sihir, dan persaudaraan, kita bisa menelisik kisahnya dengan lebih dalam melalui perspektif eksistensialisme oleh Jean-Paul Sartre.
Faktisitas: Realitas yang Membelenggu
Salah satu pernyataan ikonik Jean-Paul Sartre dalam aliran eksistensialisme ialah “we are condemned to be free”, di mana kita sebagai manusia memiliki kebebasan untuk menjalani hidup sesuai dengan yang kita mau. Sartre menekankan bahwa kebebasan manusia bersifat absolut, meskipun berlangsungnya tidak lepas dari situasi tertentu.
Manusia dalam kebebasan itu pada akhirnya berhadapan dengan kenyataan yang ada (facticity). Dengan kata lain, faktisitas adalah seluruh kondisi atau fakta bawaan dalam hidup seseorang yang tidak bisa diubah, yang mencakup masa lalu, lingkungan tempat lahir, kondisi fisik, hingga ekspektasi sosial yang melekat sejak awal.
Konsekuensi dari faktisitas ini sering kali membuat kebebasan menjadi terhambat, bahkan dirasakan sebagai sesuatu yang menakutkan dan menghantui. Elsa dilahirkan sebagai seorang putri Kerajaan Arendelle dan memiliki kekuatan sihir.
Hal tersebut bukanlah pilihan Elsa, melainkan faktisitas dalam hidupnya, kondisi yang melekat sejak awal. Elsa membiarkan faktisitas dalam dirinya menghambat kebebasan dan pemaknaan hidupnya.
Menurut Sartre, kondisi yang dibawa sejak lahir dan alami tidaklah menghalangi kebebasannya, asalkan manusia dapat menerima kondisi tersebut sebagai suatu kewajaran dan kenyataan sebagai pilihan-pilihan yang ada juga sebagai konsekuensi dari kebebasannya. Faktisitas tidak akan mengurangi kebebasan manusia karena manusia tetap dapat bersikap bebas dan memanipulasinya.
Hidup dalam Bad Faith
Dalam karyanya “Being and Nothingness”, Sartre mengemukakan teori bad faith (mauvaise foi), yang menjelaskan keadaan di mana seseorang hidup dengan cara menipu dirinya sendiri, mengabaikan kebebasannya, dan terpengaruh tekanan dari luar. Mereka bertindak seolah-olah tidak memiliki kebebasan atas pilihan hidupnya.
Selama bertahun-tahun, Elsa ditanamkan oleh kedua orang tuanya sebuah “mantra” yaitu “Conceal, don’t feel” (sembunyikan, jangan rasakan) karena masa lalunya yang pernah menyakiti adiknya, Anna, dengan kekuatan sihirnya secara tidak sengaja.
Raja dan Ratu Arendelle menyembunyikannya karena takut dan khawatir apabila kekuatan Elsa diketahui orang lain dan ia dianggap berbahaya. Elsa terjebak dalam fenomena bad faith, di mana ia tidak memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Elsa mengurung dirinya di kamar, menekan potensinya, dan hidup sebagai apa yang diharapkan orang lain, bukan sebagai dirinya yang sebenarnya. Ia membiarkan eksistensinya ditentukan oleh tekanan eksternal yaitu ketakutan orang tuanya dan norma masyarakat Arendelle.
Padahal, menurut eksistensialisme, setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih meskipun dihadapkan pada tekanan sosial atau kebiasaan.
Transendensi: Melampaui Batasan
Di kutub yang berlawanan terdapat Transendensi, yang merujuk pada gagasan bahwa individu memiliki kapasitas untuk memproyeksikan dirinya ke masa depan dan melampaui batasan-batasan yang dimilikinya dengan mendefinisikan makna hidupnya sendiri melalui tindakan dan pilihan.
Awalnya, Elsa membiarkan faktisitas mengalahkan dirinya. Namun, setelah melewati banyak hal, ia mulai menghancurkan batasan dalam dirinya dan memproyeksikan diri menuju realitas yang ia maknai sendiri.
Elsa tidak lagi menyembunyikan kekuatannya, tetapi ia meninggalkan kerajaannya dan menghindari tanggung jawabnya sebagai Ratu Arendelle. Memang benar bahwa Elsa melepaskan dirinya dari tekanan sosial.
Tapi ia juga melarikan diri dari realitas dan tanggung jawabnya. Dalam perspektif eksistensialisme Sartre, kebebasan dan tanggung jawab bagaikan dua sisi koin, artinya tidak dapat dipisahkan.
Kebebasan selalu dibarengi dengan tanggung jawab. Kebebasan yang diwujudkan dengan pelarian belum bisa dikatakan sebagai kebebasan sejati. Pada titik ini, Elsa belum benar-benar mencapai hidup yang autentik.
Menuju Kehidupan yang Autentik
Menurut Sartre, hidup yang autentik (authenticity) berarti berani mengambil alih kebebasan totalnya dan bertindak atas pilihannya sendiri untuk membentuk makna hidup. Di penghujung film, Elsa akhirnya kembali ke kerajaannya dan berdamai dengan apa yang melekat dalam dirinya.
Ia tidak lagi menolak realitas bawaannya (faktisitas) sebagai manusia yang memiliki kekuatan sihir, justru melalui kemampuannya melampaui batasan (transendensi), ia berhasil merekonstruksi makna baru dari kekuatan yang dimilikinya.
Kekuatan sihirnya tidak lagi dimaknai sebagai ‘kutukan’ atau sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi sebagai sebuah cara untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Proses pemaknaan hidup Elsa dalam kisahnya mencerminkan aliran eksistensialisme bahwa makna hidup bukan ditentukan orang lain, melainkan diciptakan oleh manusia itu sendiri.
Penulis: Raissa Aliyarahman
Editor: Yunita Alfa Nikmah






