lpmalmizan – Menjadi mahasiswa di era saat ini sering kali terasa seperti berada dalam sebuah perlombaan tanpa garis start yang jelas. Tuntutan akademik, organisasi, hingga eksistensi di media sosial membuat mahasiswa seakan dituntut untuk selalu produktif dan bergerak cepat.
Namun, menurut saya, di tengah tekanan tersebut justru penting untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah semua yang kita kejar benar-benar kita butuhkan, atau hanya sekadar mengikuti arus? Di sinilah muncul satu kesadaran penting bahwa hidup tidak selalu harus ngebut, yang terpenting adalah tidak kehilangan diri sendiri.
Teori social comparison yang dikemukakan oleh Leon Festinger menjelaskan bahwa individu cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai kemampuan dan pencapaiannya. Dalam konteks mahasiswa, media sosial memperkuat proses ini sehingga memicu perasaan tertinggal dan tidak percaya diri.
Saya melihat sendiri bagaimana banyak mahasiswa merasa “kurang” hanya karena melihat pencapaian orang lain di layar ponsel mereka. Padahal, media sosial adalah media maya yang semu dan menipu. Apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh yang sebenarnya.
Perilaku membanding-bandingkan diri dengan orang lain sehingga membuat individu merasa dirinya rendah atau insecure dapat meningkatkan kecemasan pada mahasiswa. Bahkan, perilaku membandingkan diri secara terus-menerus dapat menurunkan kesejahteraan psikologis dan memicu tekanan mental.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial dapat meningkatkan stres, kecemasan, bahkan gangguan tidur serta perasaan isolasi sosial. Hal ini sejalan dengan konsep information overload yang dikemukakan oleh Alvin Toffler, di mana individu mengalami kelelahan mental akibat terlalu banyak menerima informasi dalam waktu bersamaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa lelah bukan karena terlalu banyak aktivitas fisik, tetapi karena pikiran kita dipenuhi oleh informasi yang tidak ada habisnya. Di sisi lain, pentingnya menjaga keseimbangan hidup dapat dikaitkan dengan konsep self-awareness dalam kecerdasan emosional menurut Daniel Goleman.
Self-awareness membantu mahasiswa memahami batas kemampuan dan menentukan prioritas hidupnya.
Menurut saya, kesadaran diri ini adalah kunci utama agar kita tidak mudah terbawa arus.
Ketika seseorang mengenal dirinya dengan baik, ia tidak akan mudah iri dengan pencapaian orang lain, karena ia tahu bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Lebih lanjut, gaya hidup “tidak harus ngebut” juga sejalan dengan konsep mindfulness, yaitu kesadaran penuh terhadap pengalaman saat ini.
Praktik mindfulness terbukti dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis, terutama bagi mahasiswa yang hidup di tengah tekanan akademik dan sosial. Dalam pandangan saya, mindfulness bukan hanya soal meditasi, tetapi tentang bagaimana kita benar-benar hadir dalam setiap proses yang dijalani, tanpa terburu-buru ingin sampai ke hasil akhir.
Dengan demikian, menjadi mahasiswa di era sekarang bukan hanya tentang seberapa cepat mencapai kesuksesan, tetapi tentang bagaimana menjalani proses dengan kesadaran dan keseimbangan. Hidup yang terlalu dipaksakan untuk selalu cepat justru berisiko membuat individu kehilangan arah dan identitas dirinya.
Pada akhirnya, setiap mahasiswa memiliki ritme dan jalannya masing-masing. Tidak masalah jika berjalan lebih pelan, selama tetap berada di jalur yang sesuai dengan nilai dan tujuan hidup.
Justru, keberanian untuk berjalan dengan tempo sendiri adalah bentuk kekuatan yang tidak dimiliki semua orang. Karena yang terpenting bukanlah siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap utuh, sadar, dan tidak kehilangan dirinya dalam perjalanan tersebut.
Penulis: Noor Iqromah
Editor: Sausan Zahra






