• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Hidup Nggak Harus Ngebut, yang Penting Nggak Kehilangan Diri Sendiri

Noor Iqromah by Noor Iqromah
27 April 2026
in Analisis, Opini
0
Hidup Nggak Harus Ngebut, yang Penting Nggak Kehilangan Diri Sendiri

Sumber: Pinterest @SubaLakshmi

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Menjadi mahasiswa di era saat ini sering kali terasa seperti berada dalam sebuah perlombaan tanpa garis start yang jelas. Tuntutan akademik, organisasi, hingga eksistensi di media sosial membuat mahasiswa seakan dituntut untuk selalu produktif dan bergerak cepat.

Namun, menurut saya, di tengah tekanan tersebut justru penting untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah semua yang kita kejar benar-benar kita butuhkan, atau hanya sekadar mengikuti arus? Di sinilah muncul satu kesadaran penting bahwa hidup tidak selalu harus ngebut, yang terpenting adalah tidak kehilangan diri sendiri.

Teori social comparison yang dikemukakan oleh Leon Festinger menjelaskan bahwa individu cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai kemampuan dan pencapaiannya. Dalam konteks mahasiswa, media sosial memperkuat proses ini sehingga memicu perasaan tertinggal dan tidak percaya diri.

Saya melihat sendiri bagaimana banyak mahasiswa merasa “kurang” hanya karena melihat pencapaian orang lain di layar ponsel mereka. Padahal, media sosial adalah media maya yang semu dan menipu. Apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh yang sebenarnya.

Perilaku membanding-bandingkan diri dengan orang lain sehingga membuat individu merasa dirinya rendah atau insecure dapat meningkatkan kecemasan pada mahasiswa. Bahkan, perilaku membandingkan diri secara terus-menerus dapat menurunkan kesejahteraan psikologis dan memicu tekanan mental.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial dapat meningkatkan stres, kecemasan, bahkan gangguan tidur serta perasaan isolasi sosial. Hal ini sejalan dengan konsep information overload yang dikemukakan oleh Alvin Toffler, di mana individu mengalami kelelahan mental akibat terlalu banyak menerima informasi dalam waktu bersamaan.

ArtikelTerkait

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Syafaat Bubur Suro 2026, Kolaborasi Budaya Krapyak dan Ekonomi Syariah

Dorong Penghijauan Kampus di UIN Gus Dur, Menteri Agama Berikan Pembinaan Ekoteologi

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa lelah bukan karena terlalu banyak aktivitas fisik, tetapi karena pikiran kita dipenuhi oleh informasi yang tidak ada habisnya. Di sisi lain, pentingnya menjaga keseimbangan hidup dapat dikaitkan dengan konsep self-awareness dalam kecerdasan emosional menurut Daniel Goleman.

Self-awareness membantu mahasiswa memahami batas kemampuan dan menentukan prioritas hidupnya.
Menurut saya, kesadaran diri ini adalah kunci utama agar kita tidak mudah terbawa arus.

Ketika seseorang mengenal dirinya dengan baik, ia tidak akan mudah iri dengan pencapaian orang lain, karena ia tahu bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Lebih lanjut, gaya hidup “tidak harus ngebut” juga sejalan dengan konsep mindfulness, yaitu kesadaran penuh terhadap pengalaman saat ini.

Praktik mindfulness terbukti dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis, terutama bagi mahasiswa yang hidup di tengah tekanan akademik dan sosial. Dalam pandangan saya, mindfulness bukan hanya soal meditasi, tetapi tentang bagaimana kita benar-benar hadir dalam setiap proses yang dijalani, tanpa terburu-buru ingin sampai ke hasil akhir.

Dengan demikian, menjadi mahasiswa di era sekarang bukan hanya tentang seberapa cepat mencapai kesuksesan, tetapi tentang bagaimana menjalani proses dengan kesadaran dan keseimbangan. Hidup yang terlalu dipaksakan untuk selalu cepat justru berisiko membuat individu kehilangan arah dan identitas dirinya.

Pada akhirnya, setiap mahasiswa memiliki ritme dan jalannya masing-masing. Tidak masalah jika berjalan lebih pelan, selama tetap berada di jalur yang sesuai dengan nilai dan tujuan hidup.

Justru, keberanian untuk berjalan dengan tempo sendiri adalah bentuk kekuatan yang tidak dimiliki semua orang. Karena yang terpenting bukanlah siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap utuh, sadar, dan tidak kehilangan dirinya dalam perjalanan tersebut.

 

Penulis: Noor Iqromah

Editor: Sausan Zahra

Tags: #LPM Al Mizan#mindfulness#self-awareness#UINGusdur
Noor Iqromah

Noor Iqromah

Related Posts

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In