lpmalmizan – Rabu (23/10), DEMA-U UIN Gusdur Pekalongan mengadakan Garuda Culture Festival 2024 yang diselenggarakan di Gedung Student Centre Kampus II Rowolaku. Kegiatan yang bertajuk “Panggung Warisan Budaya” ini terbuka untuk mahasiswa dan umum secara gratis atau tanpa dipungut biaya.
Kegiatan pertama diawali dengan Diskusi Kebudayaan dengan mengundang tokoh budayawan-budayawan lokal di Kabupaten Pekalongan dan Dinas Pariwisata. Diantaranya; Joko (aktif dan mengawal kegiatan seni di Kabupaten Pekalongan), Wahyu (Dinas Pemuda dan Pariwisata), Awang (pelaku seni di bidang Teater).
Pagelaran Kebudayaan terdiri beberapa tim dari Kecamatan di Pekalongan yang telah diseleksi sebelumnya. Diantaranya: Musik Etnik Langen Budaya dari Kesesi, Tari Kang Gerak dari Mahasiswi UIN Gusdur Pekalongan, Teater Sotya Buana dari Wonokerto, Tari Jaranan Ebe dari Paninggaran, dan Sintren Sido Mulyo yang menjadi ciri khas kesenian lokal kabupaten Pekalongan.
Kemudian penampilan Teater Sotya Buana dari Wonokerto yang dikoordinatori oleh Awang Setiawan nampaknya perlu disoroti. Tampilan teater kali ini gabungan dengan peran anak-anak, yang mengampil tema cerita pada era Mataram. Cerita dimana raja Mataram (Panembahan Senopati) dulu tidak bisa menguasai satu wilayah bernama Mangir, di dalam Mangir ini terdapat pusaka yang bernama Tombak Batu Klinting.

Pertunjukan ini menggunakan bahasa Indonesia dengan tujuan agar ceritanya bisa ditangkap dan dicerna lebih baik oleh penonton. “Permasalahan ini masih relevan dan kisah ceritanya disukai oleh anak muda. Dan untuk mengurangi hal-hal negatif untuk ranah bermain anak-anak dalam game online,” ungkap Awang.
Joko, dalam kelembagaan sebagai Dewan Kesenian mengungkapkan beberapa hal, termasuk tentang kebudayaan di Pekalongan khususnya yang makin luntur seiring berjalannya waktu.
“Sayangnya kebudayaan di pekalongan sendiri seiring waktu ini terkikis zaman yang tidak bisa ditolak karena adanya teknologi, adanya pergaulan dunia luar lebih banyak yang nampaknya menggeser nilai-nilai kebudayaan lokal,” ungkapnya.
Beliau juga menyampaikan pesan bagi mahasiswa, agar tidak terbawa arus dari luar dan lebih baik lagi dalam menggunakan logika untuk memahami segala sesuatu, terutama dalam hal memahami kebudayaan. Dan generasi muda juga harus bisa berinovasi terhadap kebudayaan agar tidak serta merta tertinggal zaman.
Nur Muhammad Subkhan, selaku ketua OC pada kegiatan ini menyampaikan harapannya ketika diwawancarai oleh tim Al-Mizan, “Harapan kita (DEMA-U) dan saya sebagai kaum muda agar lebih peduli dan juga melek, kalau bisa ikut melestarikan kebudayaan ataupun kesenian lokal yang ada di sekitar kita supaya tetap eksis dan tidak hilang termakan zaman,” ujarnya.
Antusias penonton terhadap pertunjukan Panggung Warisan Budaya bisa terlihat dengan kedatangan mahasiswa dari beberapa kampus di Pekalongan dan juga masyarakat umum. Salman Saizi, selaku mahasiswa yang berkecimpung di dunia kesenian mengungkapkan alasannya mengikuti kegiatan ini adalah sebagai salah satu bentuk apresiasi dan respon terhadap kebudayaan.
“Harapannya untuk acara-acara kebudayaan seperti ini bisa lebih digencarkan lagi, karena dari sudut pandang saya ingin rasanya turut andil. Dan semoga teman-teman mahasiswa bisa saling memberikan support untuk melestarikan kebudayaan di Pekalongan,” tutur Salman.
Penulis : Amarul Hakim
Tim Liputan : Amar, Muslimah, Titi, Riski, Ainun
Editor : Alifatul Qaidah






