lpmalmizan – Senat Mahasiswa (SEMA) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Simposium Legislator Muda Jawa Tengah 2026 bertema “Menempa Legislator Muda Luhur dalam Etika, Tajam dalam Nalar, dan Visioner Menentukan Arah Juang” di Ballroom Gedung Rektorat Lantai 3 dan Aula Fakultas Syariah Lantai 4 Kampus 2 UIN Gusdur, Sabtu–Minggu (1–2/8).
Kegiatan ini mempertemukan pelajar, mahasiswa, dan aktivis organisasi dari berbagai daerah di Jawa Tengah untuk memperkuat pemahaman mengenai demokrasi, kepemimpinan, dan peran generasi muda dalam kehidupan berbangsa.
Sebelum sesi penyampaian materi, diskusi awal mengajak peserta melihat politik dari sudut pandang yang lebih luas. Materi pertama disampaikan oleh Rahma Winarto, perwakilan Gubernur Jawa Tengah, dengan tajuk ”Integritas, Wawasan Kebangsaan, dan Kepemimpinan Visioner”.
Ia mengajak peserta memandang politik sebagai ruang untuk mewujudkan cita-cita bangsa, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Menurutnya, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas, etika, dan visi yang kuat.
“Bangsa kita enggak kekurangan orang pintar, tetapi bangsa kita kekurangan orang yang cukup bisa memegang integritas. Dan Itu enggak hanya terjadi hari ini, itu sudah terjadi dari zaman dulu.” ujarnya.
Pada materi kedua disampaikan oleh Akademisi Hukum Tata Negara UIN Gusdur, Mikdam Yusril Ahmad dengan tajuk ”Mengawal Demokrasi Pancasila”.
Ia menjelaskan bahwa demokrasi Indonesia harus berjalan seiring dengan supremasi hukum atau nomokrasi. Menurutnya, demokrasi tanpa hukum akan kehilangan arah dan berpotensi melahirkan penyalahgunaan kekuasaan.
“Tanpa hukum demokrasi itu liar seperti kuda tanpa kekang. Bahkan bisa menimbulkan anarkis,” katanya.
Ia juga menyoroti tantangan demokrasi Indonesia, seperti oligarki, kartelisasi kekuasaan, hingga pembentukan regulasi yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan publik.
Karena itu, Mikdam mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami konstitusi dan aktif mengawal proses legislasi melalui jalur partisipasi publik yang sah.
Sementara itu, materi ketiga disampaikan oleh salah satu Aktivis Jawa Tengah, Asrof Farizzi yang mengangkat pembahasan mengenai pembangunan aktor demokrasi melalui etika, integritas, dan intelektualitas.
Ia menilai bahwa persoalan utama dalam pemerintahan maupun organisasi saat ini bukan lagi terletak pada sistem, melainkan kualitas orang yang menjalankannya.
“Kekurangan kita hari ini enggak lagi berbicara tentang sistem. Karena undang-undang kita sudah terlalu banyak aturan. PR kita yang paling besar ini adalah memperbaiki aktor,” ungkapnya.
Melalui acara ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep politik dan demokrasi secara teoritis, tetapi juga memiliki kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran dalam mengawal kebijakan publik serta membangun kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan bersama.
Penulis: Achmad Bagas Pranata
Tim liputan: Sodiq & Fatma
Editor: Sausan Zahra






