lpmalmizan – Di antara napas pepohonan,
angin berdesir seperti doa yang tak pernah selesai.
Daun-daun bergetar pelan,
seolah sedang berbincang dengan cahaya.
Langit menggantungkan birunya
di atas kepala yang diam-diam kagum.
Sementara tanah menyimpan cerita
tentang hujan yang datang dan pergi tanpa pamit.
Burung-burung tak pernah menanyakan arah,
mereka hanya percaya pada sayapnya.
Sungai pun tak meminta tepuk tangan,
ia mengalir apa adanya menuju entah di mana.
Di punggung sunyi hutan,
kita belajar bahwa sederhana itu cukup tumbuh perlahan, jatuh sesekali,
lalu berdiri lagi tanpa suara.
Dan alam, dengan sabarnya,
mengajarkan kita untuk tidak selalu menang,
melainkan pulang
kepada diri yang lebih tenang.
Gunung berdiri tanpa perlu menjelaskan diri,
ia kuat bukan karena meninggi,
melainkan karena setia
menjaga rahasia waktu.
Sementara angin melintas
membawa bau tanah yang baru tersentuh hujan,
kita pun menyadari
bahwa dunia terus berjalan
tanpa menunggu siapa pun siap.
Maka belajarlah dari rerumput yang membungkuk,
bukan karena kalah,
melainkan karena mengerti
bahwa rendah hati adalah cara bertahan paling lama.
Pada akhirnya,
kita bukan penguasa atas alam,
hanya tamu yang singgah sebentar
di rumah yang jauh lebih tua dari segala rencana.
Penulis: Diva Ardia






