lpmalmizan – Ia bawa seutas tali kelapa
seikat daun kering
dan sebuah botol kecil berisi air laut
yang dikumpulkan saat ombak sedang marah
Lalu kami berjalan ke sebuah pohon besar,
batangnya retak seperti tubuh yang pernah disambar petir
lelaki itu menyentuh kulit kayunya
menciumnya seperti dahi anaknya sendiri
“segala yang ingin tumbuh, harus diberi waktu untuk beristirahat”
Ia rajut daun kering itu
menjadi simpul-simpul kecil,
menenun kembali nasib yang sempat koyak
seolah mengamini sesuatu yang tak kami tahu
kami pun duduk melingkar
ia angkat botol kecil itu,
angin mengguncang suara air di dalamnya
terdengar seperti seseorang yang mengadu
kepada siapa pun.
“Inilah sasi,” katanya
tempat di mana kita menahan tangan
mengunci keinginan
agar roh alam dapat bernapas tanpa mengusik dirinya
dan untuk sesaat
aku merasa pohon itu menatapku—
dengan mata dan luka-luka lamanya
yang selama ini tak pernah kami dengar ceritanya
Saat upacara selesai,
lelaki tua itu berdiri,
menoleh kepadaku dan berbisik
“kau pun punya sasi dalam hidupmu
tempat kau harus berhenti sejenak
sebelum dunia menjadi terlalu berat untuk dilawan”
Dalam perjalanan pulang,
aku melihat bayangan kami memanjang di tanah—
seperti dua janji yang belum ditepati
namun sedang belajar dilindungi
Sejak malam itu,
setiap kali aku kehilangan arah,
aku teringat daun kering yang bergoyang di cabang rendah,
mengajarkan bahwa kadang cara terbaik untuk memikirkan sesuatu adalah dengan tidak menindak terlebih dahulu.
2025
Penulis: Rifqi Septian Dewantara
Editor: Atika Puspita Rini.






