lpmalmizan – Di belahan Yogyakarta yang tenang, ada dua sahabat karib bernama Anya dan Bintang. Anya, gadis dengan rambut panjang berkilau dan senyum ceria, adalah sosok yang penuh semangat. Sedangkan Bintang, dengan buku-buku yang selalu setia menemaninya, adalah pria yang pendiam namun memiliki imajinasi yang kaya. Persahabatan mereka dimulai sejak kecil, ketika mereka duduk di bangku taman kanak-kanak. Anya yang ceria sering mengajak Bintang bermain petak umpet atau membuat istana pasir di pantai. Bintang, yang awalnya pemalu, perlahan mulai terbuka dan menikmati kebersamaan mereka. Seiring berjalannya waktu, persahabatan mereka semakin erat. Mereka berbagi suka duka, rahasia, dan mimpi-mimpi. Anya selalu ada di samping Bintang saat ia merasa sedih atau bingung, sedangkan Bintang selalu memberikan semangat dan dukungan pada Anya.
“Kamu tahu, Anya,” kata Bintang suatu sore sambil menatap langit yang mulai gelap, “Aku merasa seperti bintang yang tertutup awan. Terkadang, aku merasa cahaya dalam diriku redup dan sulit untuk bersinar.”
Anya meraih tangan Bintang dan tersenyum lembut.
“Bintang, kamu tidak pernah redup. Kamu seperti bintang yang paling terang, hanya saja terkadang tertutup awan. Tapi ingat, awan itu pasti akan berlalu, dan cahayamu akan bersinar lebih terang lagi.”
Bintang mengangguk pelan, hatinya terasa lebih tenang mendengar kata-kata Anya.
Namun, persahabatan mereka sempat diuji ketika mereka memasuki masa remaja. Minat dan perhatian mereka mulai terbagi. Anya semakin aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, sedangkan Bintang lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Mereka mulai merasa canggung satu sama lain dan jarang menghabiskan waktu bersama seperti dulu.
Suatu hari, Anya datang ke rumah Bintang dengan wajah cemas.
“Bintang, aku diterima di sekolah seni di kota besar. Aku harus pindah minggu depan.”
Bintang terdiam. Ia merasa sedih dan kehilangan.
“Aku akan merindukanmu, Anya.” Anya memeluk Bintang erat-erat.
“Aku juga akan merindukanmu. Tapi jangan khawatir, kita akan tetap bisa berkomunikasi.”
Meski begitu, jarak dan perbedaan minat membuat persahabatan mereka semakin renggang. Mereka masih saling mengirim pesan dan menelepon, namun tidak sesering dulu. Beberapa tahun kemudian, Anya kembali ke kota kecil mereka. Ia sudah menjadi seorang seniman yang sukses dan bintang menjadi pustakawan senior di daerahnya. Saat mengunjungi Bintang di rumahnya, ia melihat sahabatnya tampak lebih dewasa dan gagah.
“Bintang, kamu sudah berubah,” kata Anya.
Bintang tersenyum. “Kamu juga, Anya. Kamu sudah mewujudkan mimpimu.”
Mereka menghabiskan waktu bersama, mengobrol tentang masa lalu dan masa depan. Anya menyadari bahwa persahabatan mereka tidak pernah benar-benar pudar, hanya saja tertidur untuk sementara waktu.
“Kamu tahu, Anya,” kata Bintang. “Selama ini aku selalu merasa seperti bintang yang tertutup awan. Tapi berkat kamu, aku belajar bahwa setiap bintang memiliki cahayanya sendiri, meskipun terkadang tertutup oleh kegelapan. Dan persahabatan kita adalah cahaya yang selalu membimbingku.”
Saat ngobrol di teras, Ibu Bintang datang menghampiri dan menyapa Anya.”Wah … makin cantik saja kamu Nduk, gimana kabarnya sekarang?” Tanya ibu Bintang.
Anya tersenyum dan sambil bersalaman kepada Ibu Bintang.
“Alhamdulillah tante Anya sehat, tante juga masih keliatan muda aja dari dulu, cantiknya ngga pudar ya tan hehe …” Balas Anya sambil menggoda Ibu Bintang.
Setelah berbincang sebentar, Ibu Bintang menyuruh Anya dan Bintang masuk untuk makan. Ketika lewat di ruang tengah, Anya memandang sebuah foto yang dipajang di samping TV. Anya seperti tidak asing dengan foto tersebut, ia seperti mengenal 2 orang perempuan muda yang ada dalam foto tersebut.
“Bintang, ini foto siapa? Kok aku kaya pernah liat ya.” Tanya Anya kepada Bintang yang sedang menyiapkan makanan di meja makan dekat TV.
Bintang menjawab sambil tersenyum “Itu kan foto nenek kita pas masih muda, mereka sahabatan juga sama kaya kita Anya.”
Anya kaget dan terdiam beberapa saat, dia baru saja mengetahui fakta tersebut. Nenek nya belum sempat cerita karena beliau meninggal ketika Anya masih kecil. Bintang mendekati Anya yang masih terdiam sambil terus memandangi foto tersebut. Ada rasa kaget dan juga rindu kepada nenek yang dulu selalu menemani masa kecilnya.
“Ibu ku pernah cerita, nenek kita adalah sahabat karib sama seperti kita, hanya maut yang memisahkan mereka. Dan ada satu hal yang mereka titipkan … mereka pernah berjanji akan menjodohkan cucu mereka, Anya ….”
Penulis: Fathimah
Editor: Dina Fitriana






