• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Fenomena Child Grooming Pada Anak Usia Dini Dan Pencegahan Tepat Yang Dilakukan

Zida Farah Nabila by Zida Farah Nabila
17 Desember 2024
in Analisis, Opini
0
Fenomena Child Grooming Pada Anak Usia Dini Dan Pencegahan Tepat Yang Dilakukan

Foto by: id.theasianparent.com

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Fenomena child grooming dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan pada masyarakat. Meskipun sudah banyak kasus tentang child grooming, tetapi banyak juga masyarakat yang kurang paham apa itu child grooming. Child grooming bisa diartikan sebagai suatu upaya pendekatan yang dilakukan oleh orang dewasa kepada seorang anak (yang bukan keluarga atau darah dagingnya) agar bisa membangun kepercayaan pada anak tersebut, yang kemudian pelaku bisa melakukan pelecehan seksual terhadap anak tersebut, dimana anak tersebut sudah tidak khawatir kepada orang tersebut karena berhasil membangun kepercayaan pada diri anak tersebut. 

Fenomena child grooming bisa disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya yaitu kurangnya hubungan harmonis dalam keluarga. Keluarga yang kurang harmonis menyebabkan anak tidak betah untuk di rumah, oleh karena itu dia mencari seseorang yang dianggap sebagai rumah, yang bisa  memberikan perlindungan, kasih sayang dan perhatian yang tidak dia dapatkan di rumah. Faktor lain yaitu kurangnya peran orang tua sehingga  anak kurang memahami terhadap dirinya sendiri, padahal seharusnya sosok orang tua adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang anak. Karena kurang andilnya sosok orang tua dalam perkembangan nya maka munculah seseorang yang bisa memberi pemahaman tentang dirinya. Faktor lain yaitu hal yang memang terdapat pada diri anak itu sendiri yaitu sifat mencari perhatian meskipun dia sudah mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tua dan lingkungan rumah tapi karena dasar sifat nya begitu maka dia tetap mencari perhatian ke orang lain, bahkan remaja yang memiliki sifat tersebut kadang merasa bangga  apabila dia berhasil mendapatkan perhatian orang lain.

Korban dari Fenomena child grooming lebih banyak dialami oleh anak anak yang baru menginjak masa pubertas. Masa pubertas dimana sifat anak yang mengalami perubahan perubahan pada sifat bahkan tubuhnya, yang seharusnya dia mendapatkan pemahaman yang baik tentang apa yang akan terjadi pada dirinya dan dunia luar. Dan pada masa pubertas otak anak anak lebih mudah dipengaruhi. Karena itu banyak anak yang baru menginjak masa puber yang banyak mengalami hal tersebut. 

Foto by: id.theasianparent.com

Ada juga anak yang menjadi korban adalah anak  broken home yang mana anak hanya mendapat kasih sayang dari satu pihak sehingga dia mencari kasih sayang ke pihak lain yang umumnya lebih dewasa sehingga bisa memahami dirinya. Sedangkan untuk oknum yang melakukan hal ini lebih banyak merujuk kepada orang yang lebih tua yang memiliki ketertarikan kepada anak kecil, yang sering kita sebut dengan Pedofil. Biasanya pihak oknum muncul dari pihak keluarga atau lingkungan, seperti  paman yang biasa main ke rumah sehingga sering bercengkrama, bercerita sehingga menjadi dekat, adapun lingkungan dimana ketika ada tetangga yang ramah yang kadang mengajak basa basi sehingga menjadi akrab. Selain itu ada yang dari sekolah, yang dimana sosok guru maupun pekerja di sekolah yang kadang memang seakan akan memberikan perhatian dan perlindungan ketika di sekolah.

Disebabkan karena banyaknya kejadian ini dan banyak korban yang mengalami fenomena ini, sehingga sangat perlu sekali untuk masyarakat khususnya sosok orang tua untuk menjaga buah hati mereka. Oleh sebab itu para orang tua maupun masyarakat ditekankan untuk mengawasi tingkah laku anak anak, menjelaskan kepada mereka tentang lingkungan agar lebih mengetahui sekitar, serta yang paling penting adalah memberikan kasih sayang sehingga tidak ada namanya anak mencari sosok yang bisa memberikan kasih sayang melebihi orang tuanya. Ditanamkan juga pada diri anak tersebut tentang bahaya yang mungkin saja bisa timbul disebabkan oleh tingkah lakunya sehingga anak akan berpikir dua kali saat ingin melakukan suatu tindakan.

 

ArtikelTerkait

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi dari Kearifan Budaya Jawa dalam Menumbuhkan Empati di Dunia yang Individualistik

Kita Bisa Punya Kemampuan Public Speaking

Penulis: Zida Farah Nabila 

Editor: Alifatul Qaidah 

 

Tags: lpm al-mizanOpini
Zida Farah Nabila

Zida Farah Nabila

Related Posts

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In