lpmalmizan – Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan kembali sukses menggelar kegiatan tahunan Studium General dengan menghadirkan Fahruddin Faiz sebagai pembicara.
Acara ini yang berlangsung di Gedung Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah Lt. 2 kali ini mengangkat tema “Filsafat dan Pengembangan Ilmu-ilmu Keislaman di Era Milenial.”
Miftahul Ula selaku panitia menyebutkan alasan pemilihan tema tersebut, bertujuan untuk mendorong mahasiswa agar terus berpikir kritis terhadap ilmu yang dipelajari. Menurutnya, di tengah situasi yang semakin pragmatis, mahasiswa perlu diingatkan tentang pentingnya filsafat dalam kehidupan sehari-hari.
“Melihat situasi yang pragmatis saat ini, kami ingin memberikan wawasan bahwa filsafat memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir mahasiswa. Sayangnya, banyak mahasiswa justru lebih menyukai konsep kerja fisik yang bertentangan dengan nilai-nilai Ushuluddin. Kami ingin mengingatkan mereka kembali tentang apa yang mereka pelajari dan bagaimana mengembangkannya di program studi masing-masing,” ungkapnya.
Lebih lanjut, pemilihan Fahruddin Faiz sebagai pembicara kali ini, didasarkan pada relevansi tema serta audiens yang mayoritas merupakan mahasiswa. Selain itu, Miftahul Ula menambahkan, gaya penyampaiannya yang sederhana namun mampu menjelaskan konsep filsafat yang kompleks dengan mudah, serta popularitas Fahruddin Faiz di media sosial juga menjadi faktor pertimbangan lainnya.
Namun, dibalik suksesnya acara studium general tersebut, terdapat kendala yang hampir membuat Studium General tahun ini batal terlaksana Seperti yang disampaikan Pak Miftahul ula, efisiensi anggaran menjadi tantangan utama yang sempat mengancam keberlangsugan acara. Meski begitu, panitia tetap berupaya mempertahankan kegiatan ini karena menganggapnya sebagai momentum penting bagi mahasiswa untuk menambah wawasan. Terutama dalam ranah filsafat.
“Meskipun sempat hampir terkena pemotongan anggaran seperti acara lainnya, kami tetap berusaha mepertahan studium general ini. Karena kami menganggap ini sebagai kesempatan penting bagi mahasiswa mengikuti studium general untuk menambah wawasan,” jelasnya.
Sementara itu, Hendrik salah satu peserta, menanggapi persoalan efisiensi anggaran, dirinya mengaku tidak mempermasalahkan dampak yang ditimbulkan, termasuk soal konsumsi yang disediakan. Ia menegaskan bahwa kehadirannya dalam acara ini murni karena ketertarikan terhadap materi dan narasumber yang dihadirkan.
Hendrik juga mengungkapkan kepuasannya setelah mengikuti acara ini. Ia merasa wawasan mengenai cara berpikir mahasiswa dalam berperilaku semakin terbuka, serta mendapatkan pemahaman lebih dalam mengenai esensi kebahagiaan dan kebutuhan. Hendrik berharap acara serupa dapat terus diadakan dengan lebih menekankan pada aspek etika mahasiswa.
Penulis: Desi Rahmawati Agustin
Editor: Ika Amiliya Nurhidayah
Tim Liputan: Bagas, Tika, & Desi.






