lpmalmizan – Jadi mahasiswa itu kalo belum nugas sampai begadang habisin tiga gelas kopi, ya belum sah jadi mahasiswa. Candaan seperti ini umum terdengar di lingkungan kampus. Candaan ini bahkan sudah dinormalisasikan di kalangan mahasiswa. Begadang, stres, hingga kelelahan terus-menerus telah dianggap wajar.
Mahasiswa yang tidur larut karena mengerjakkan tugas dianggap produktif bahkan keren, sedangkan yang memilih istirahat terkadang dianggap kurang berusaha. Lalu apakah begadang dianggap sebagai nilai tambah produktif?
Mirisnya, tak jarang begadang digunakan untuk hal-hal yang tidak bersangkutan dengan perkuliahan atau pun tugas. Laptop memang terbuka, tetapi bukannya mengetik atau mengerjakan tugas, malah menggulir media sosial. Niat awal mau mau menyegarkan otak dengan scroll lima menit, namun bablas hingga lima jam, walhasil tugas tidak jadi dikerjakkan. Ya, namanya juga mahasiswa, katanya.
Sering kali kesibukan dalam perkuliahan terlihat seperti pencapaian. Semakin banyak kegiatan, organisasi, atau sibuk jadwalnya maka dianggap semakin produktif. Mahasiswa akan berlomba-lomba meraih nilai tinggi dengan aktif, ikut organisasi, menambah relasi dan pengalaman.
Semuanya memanglah hal baik. Masalahnya muncul ketika kesibukan dianggap menjadi tolok ukur sebuah keberhasilan, sementara istirahat menjadi sebuah kemalasan.
Nyatanya, kapasitas setiap mahasiswa jelas berbeda. Ada mahasiswa yang mampu mendapatkan nilai tinggi sekaligus aktif dalam berkegiatan, dan sebagian lainnya belum mampu.
Tak jarang hal tersebut membuat mahasiswa mahasiswa iri dan memunculkan keinginan untuk menjadi demikian. Namun, apakah kapasitas setiap orang sama? Tentu saja tidak. Ada mahasiswa yang paham dengan materi dengan belajar di malam hari hingga larut, namun ada pula yang mampu memahami materi ketika telah cukup tidur.
Terlalu memaksakan diri untuk menjadi sama dengan yang lain bukan selalu bentuk kegigihan. Barangkali itu justru bentuk ketidakmampuan untuk memahami batas diri. Masalahnya lagi, kerap kali lingkungan perkuliahan ikut andil dalam mempertahankan pola tersebut.
Mahasiswa sering dianggap berprestasi apabila mampu meraih IPK tinggi, memiliki banyak sertifikat, aktif dalam beroganisasi hingga mampu memenuhi CV. Hal tersebut memunculkan persaingan yang tidak selalu sehat, “siapa cepat dia dapat, siapa yang aktif dialah yang berprestasi.”
Mahasiswa yang bersaing tentu tidaklah salah karena persaingan dapat mendorong mahasiswa untuk terus berkembang. Namun, persaingan tersebut haruslah dibarengi dengan dukungan emosional.
Pada akhirnya mahasiswa tidak hanya dibebani dengan tugas menumpuk, namun juga dengan tekanan untuk terlihat berhasil di depan teman seperjuangan. Permasalahan ini tentu melebar menjadi lebih luas.
Pasalnya mahasiswa bukan hanya dituntut untuk menjadi berhasil melainkan juga menunjukkan keberhasilannya. Hal inilah yang terkadang membuat kesehatan mental mahasiswa terganggu.
Sering kali mereka tak menyadari gangguan yang telah muncul disebabkan oleh stres akademik misalnya kecemasan dan perubahan mood yang signifikan. Permasalahan yang melebar ini bukan tidak diselesaikan dengan berhenti begadang.
Karena sebagaimana mahasiswa yang memiliki tugas, ada kalanya tugas tersebut harus diselesaikan dengan waktu yang panjang dan perlu kerja keras. Namun, bukan serta merta menjadikan stres, kurang tidur hingga begadang sebagai tolok ukur keberhasilan itu jelas penafsiran yang salah kaprah.
Karena itu, menjadi mahasiswa bukan hanya mengejar prestasi dan sibuk organisasi melainkan juga perlu berdamai dengan diri. Toh “generaasi emas” tidak dibangun dari generasi yang dipaksa berlari cepat tanpa jeda berhenti, tetapi juga bagaimana mengenali batas diri.
Jadi, ketika kita tidak sesibuk lainnya, tak mengapa. Kalau hari ini hanya mampu menyelesaikan sedikit tugas, tak apa. Selama masih ada keinginan untuk berusaha dan tahu kapan harus berhenti, itu tetap menjadi sebuah proses. Sebab, menjadi mahasiswa bukan hanya siapa yang berprestasi tinggi atau sibuk organisasi namun juga tentang menjalani perkuliahan tanpa harus kehilangan jati diri.
Penulis: Vina Vitri Alawiyah
Editor: Yunita Alfa Nikmah






