• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

“Ya Namanya Juga Mahasiswa”: Ketika Begadang dan Stres Dinormalisasi

Vina Vitri Alawiyah by Vina Vitri Alawiyah
15 September 2026
in Analisis, Esai
0
“Ya Namanya Juga Mahasiswa”: Ketika Begadang dan Stres Dinormalisasi

Pinterest: Beiba!!

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Jadi mahasiswa itu kalo belum nugas sampai begadang habisin tiga gelas kopi, ya belum sah jadi mahasiswa. Candaan seperti ini umum terdengar di lingkungan kampus. Candaan ini bahkan sudah dinormalisasikan di kalangan mahasiswa. Begadang, stres, hingga kelelahan terus-menerus telah dianggap wajar.

Mahasiswa yang tidur larut karena mengerjakkan tugas dianggap produktif bahkan keren, sedangkan yang memilih istirahat terkadang dianggap kurang berusaha. Lalu apakah begadang dianggap sebagai nilai tambah produktif?

Mirisnya, tak jarang begadang digunakan untuk hal-hal yang tidak bersangkutan dengan perkuliahan atau pun tugas. Laptop memang terbuka, tetapi bukannya mengetik atau mengerjakan tugas, malah menggulir media sosial. Niat awal mau mau menyegarkan otak dengan scroll lima menit, namun bablas hingga lima jam, walhasil tugas tidak jadi dikerjakkan. Ya, namanya juga mahasiswa, katanya.

Sering kali kesibukan dalam perkuliahan terlihat seperti pencapaian. Semakin banyak kegiatan, organisasi, atau sibuk jadwalnya maka dianggap semakin produktif. Mahasiswa akan berlomba-lomba meraih nilai tinggi dengan aktif, ikut organisasi, menambah relasi dan pengalaman.

Semuanya memanglah hal baik. Masalahnya muncul ketika kesibukan dianggap menjadi tolok ukur sebuah keberhasilan, sementara istirahat menjadi sebuah kemalasan.

Nyatanya, kapasitas setiap mahasiswa jelas berbeda. Ada mahasiswa yang mampu mendapatkan nilai tinggi sekaligus aktif dalam berkegiatan, dan sebagian lainnya belum mampu.

ArtikelTerkait

Membuka Entrok Karya Okky Madasari

Warga Tuntut PTDH Guru Imbas Dugaan Asusila di Sekolah

UIN Gusdur Pekalongan vs UIN Bandung, Wisnu Aditya Pratama Sukses Sabet Medali Emas

Tak jarang hal tersebut membuat mahasiswa mahasiswa iri dan memunculkan keinginan untuk menjadi demikian. Namun, apakah kapasitas setiap orang sama? Tentu saja tidak. Ada mahasiswa yang paham dengan materi dengan belajar di malam hari hingga larut, namun ada pula yang mampu memahami materi ketika telah cukup tidur.

Terlalu memaksakan diri untuk menjadi sama dengan yang lain bukan selalu bentuk kegigihan. Barangkali itu justru bentuk ketidakmampuan untuk memahami batas diri. Masalahnya lagi, kerap kali lingkungan perkuliahan ikut andil dalam mempertahankan pola tersebut.

Mahasiswa sering dianggap berprestasi apabila mampu meraih IPK tinggi, memiliki banyak sertifikat, aktif dalam beroganisasi hingga mampu memenuhi CV. Hal tersebut memunculkan persaingan yang tidak selalu sehat, “siapa cepat dia dapat, siapa yang aktif dialah yang berprestasi.”

Mahasiswa yang bersaing tentu tidaklah salah karena persaingan dapat mendorong mahasiswa untuk terus berkembang. Namun, persaingan tersebut haruslah dibarengi dengan dukungan emosional.

Pada akhirnya mahasiswa tidak hanya dibebani dengan tugas menumpuk, namun juga dengan tekanan untuk terlihat berhasil di depan teman seperjuangan. Permasalahan ini tentu melebar menjadi lebih luas.

Pasalnya mahasiswa bukan hanya dituntut untuk menjadi berhasil melainkan juga menunjukkan keberhasilannya. Hal inilah yang terkadang membuat kesehatan mental mahasiswa terganggu.

Sering kali mereka tak menyadari gangguan yang telah muncul disebabkan oleh stres akademik misalnya kecemasan dan perubahan mood yang signifikan. Permasalahan yang melebar ini bukan tidak diselesaikan dengan berhenti begadang.

Karena sebagaimana mahasiswa yang memiliki tugas, ada kalanya tugas tersebut harus diselesaikan dengan waktu yang panjang dan perlu kerja keras. Namun, bukan serta merta menjadikan stres, kurang tidur hingga begadang sebagai tolok ukur keberhasilan itu jelas penafsiran yang salah kaprah.

Karena itu, menjadi mahasiswa bukan hanya mengejar prestasi dan sibuk organisasi melainkan juga perlu berdamai dengan diri. Toh “generaasi emas” tidak dibangun dari generasi yang dipaksa berlari cepat tanpa jeda berhenti, tetapi juga bagaimana mengenali batas diri.

Jadi, ketika kita tidak sesibuk lainnya, tak mengapa. Kalau hari ini hanya mampu menyelesaikan sedikit tugas, tak apa. Selama masih ada keinginan untuk berusaha dan tahu kapan harus berhenti, itu tetap menjadi sebuah proses. Sebab, menjadi mahasiswa bukan hanya siapa yang berprestasi tinggi atau sibuk organisasi namun juga tentang menjalani perkuliahan tanpa harus kehilangan jati diri.

 

Penulis: Vina Vitri Alawiyah

Editor: Yunita Alfa Nikmah

Tags: #begadang#LPM Al Mizan#UINGusdurmahasiswastres
Vina Vitri Alawiyah

Vina Vitri Alawiyah

Related Posts

Membuka Entrok Karya Okky Madasari

Membuka Entrok Karya Okky Madasari

19 September 2026
Ketika Kamu Terus Dibuat Merasa Bersalah

Ketika Kamu Terus Dibuat Merasa Bersalah

7 September 2026
Resensi Film Ghost in the Cell, Ketika Napi Beringas Berlomba Jadi Orang Baik demi Bertahan Hidup

Resensi Film Ghost in the Cell, Ketika Napi Beringas Berlomba Jadi Orang Baik demi Bertahan Hidup

5 September 2026
Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

24 Agustus 2026
Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

23 Agustus 2026
Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

23 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In