• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Saleh Aljafarawi: Suara yang Padam di Tengah Ledakan

Alfy Minatik by Alfy Minatik
16 Oktober 2025
in Analisis, Opini
0
Saleh Aljafarawi: Suara yang Padam di Tengah Ledakan

Foto: Aljazeera

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Dilansir dari CNN Indonesia pada Minggu, 12 Oktober, seorang jurnalis Palestina bernama Saleh Aljafarawi dibunuh saat sedang meliput di lingkungan Al-Sabra kota Gaza. Sebelum hal tersebut terjadi, pada bulan Agustus ada sebanyak empat jurnalis gugur dalam serangan drone Israel ke Rumah Sakit Nassert di jalur Gaza.

Aljafarawi merupakan seorang influencer jurnalis yang kerap membagikan momen-momen ketika perang di akun Instagram dan platform lainnya. Terdata ada beberapa jurnalis yang meninggal diantaranya jurnalis kantor berita Reuters Hossam Al Masri, jurnalis NBC Network Moaz Abu Taha, dan jurnalis lepasan dari kantor berita Associated Press (AP) Mariam Abu Daqa.

Seperti yang diketahui bahwasannya jurnalis merupakan seseorang yang bertugas mengumpulkan data dan menyebarkannya ke khalayak. Artinya melalui jurnalislah kita dapat mengetahui berita-berita di dunia. Tapi entah mengapa menjadi seorang jurnalis itu berisiko, adanya ancaman dari pihak-pihak yang kontra dan bahkan menyerang secara personal. Lebih lagi menjadi jurnalis di daerah yang konflik, seperti yang dialami oleh Aljafarawi di Gaza padahal seharusnya mereka bisa melakukan pekerjaan secara leluasa tanpa harus mempunyai ketakutan akan ancaman.
Banyak jurnalis yang tidak hanya kehilangan nyawa, tetapi juga kehilangan rekan keluarga, rumah, bahkan keluarga. Namun, meskipun begitu banyak jurnalis di Gaza yang tetap memilih untuk bertahan dan berdiri di garis perjuangan. Karena kebenaran haruslah tetap disuarakan. Keberanian inilah yang merupakan pengabdian tertinggi dalam dunia jurnalistik. Karena mereka tahu setiap foto, rekaman video dan setiap berita yang mereka sampaikan dan bagikan itu berpotensi membuka mata dunia terhadap kebenaran yang sebenarnya.
Mengapa demikian? jurnalis berperan sangat penting dalam penyebaran kebenaran dunia. Mereka menjadi mata dan telinga khalayak untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa keberanian mereka, masyarakat tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian berdasarkan hukum humaniter internasional jurnalis merupakan profesi yang harus dilindungi dalam situasi perang. Namun, realitas di lapangan sering kali berbeda.
Banyak jurnalis yang menjadi korban kekerasan, bahkan kehilangan nyawa. Seperti yang dialami Saleh Aljafarawi di Gaza. Hal seperti ini menunjukkan adanya pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan etika perang. Dan ironinya, para jurnalis yang berjuang demi kebenaran justru dijadikan sasaran oleh pihak-pihak yang tidak ingin fakta terungkap. Ini membuktikan bahwa perlindungan pers masih sering diabaikan, terutama di daerah yang dilanda konflik dan ketegangan politik.
Menjadi jurnalis di wilayah konflik seperti Gaza tentu bukanlah hal mudah. Mereka tidak hanya meliput berita dari jarak kejauhan, melainkan benar-benar berada di garis depan pertempuran. Suara ledakan, tembakan, dan reruntuhan bangunan menjadi latar belakang kerja mereka setiap hari. Dalam situasi seperti itu, perlindungan diri nyaris tidak ada. Mereka harus cermat mengambil keputusan apakah akan terus meliput atau menyelamatkan diri.
Dari peristiwa tersebut, dapat diketahui bahwa menjadi jurnalis di wilayah konflik bukan hanya soal keberanian, tetapi juga soal nyawa yang jadi taruhan. Sudah seharusnya semua pihak menghormati dan melindungi para jurnalis, karena tanpa mereka dunia akan kehilangan suara dari balik medan perang. Selain itu, pendidikan dan kesadaran masyarakat mengenai jurnalisme haruslah terus ditingkatkan. Masyarakat perlu belajar untuk menghargai kebenaran dan tidak mudah termakan hoaks, karena menghormati kerja jurnalis juga berarti menghormati hak kita untuk tahu. Dukungan moral dan perlindungan hukum terhadap jurnalis harus diperkuat agar tidak ada lagi kisah tragis seperti yang dialami Aljafarawi terulang di masa depan.
Penulis: Alfy Minatik
Editor: Ika Amiliya Nurhidayah.

ArtikelTerkait

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Syafaat Bubur Suro 2026, Kolaborasi Budaya Krapyak dan Ekonomi Syariah

Dorong Penghijauan Kampus di UIN Gus Dur, Menteri Agama Berikan Pembinaan Ekoteologi

Tags: #LPM Al Mizan#palestina#PRESSAljazeeraSaleh Aljafarawi
Alfy Minatik

Alfy Minatik

Related Posts

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In